4 min dibaca

Suara Keheningan | Inosensius I. Sigaze, O.Carm

"Sesi perjumpaan dengan orang lain, sebenarnya sama dengan sesi saat Anda menulis dalam pikiran tentang hidup dan pesan kehidupan. Selanjutnya tulislah untuk dibaca orang lain."

Manusia tidak pernah jauh dari kenyataan bahwa setiap hari ia berjumpa dengan manusia lainnya. Itulah sebabnya dikatakan bahwa manusia itu adalah makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial yang selalu berjumpa dengan yang lainnya setiap hari, tentu ia punya cerita dan kenangan. 

Meskipun begitu, ternyata tidak semua orang bisa dengan mudah melihat semua sisi-sisi pesan dari suatu perjumpaan. Pengalaman perjumpaan yang terus menerus dengan orang-orang baru yang tidak dikenal, bisa menjadi kesempatan baik untuk menulis. Ide datang justru dalam Perjumpaan dengan "yang lainnya." 

          Cara Menulis tentang Kisah Perjumpaan Harian Halaman 1 - Kompasiana.com  

Berikut ini ada cara menulis dari inspirasi perjumpaan dengan orang lain. 

1. Seseorang perlu punya cara pandang positif tentang perjumpaan 

Pada kebanyakan orang, mereka melihat perjumpaan dengan yang lain bisa menjadi suatu momen yang mengubah. Ya, tentu bisa mengubah pikiran, cara hidup, Konsep dan bahkan bisa mengubah pola hidup. 

Perjumpaan yang berdampak positif itu berawal dari suatu kesadaran bahwa setiap saya berjumpa orang lain, saya bisa belajar sesuatu dari orang lain. Konsep yang sudah selalu saya bawa ke mana saja saya pergi adalah setiap saya berjumpa dengan orang lain saya bisa menemukan pesan tertentu. 

Dari Konsep itulah saya sungguh berdialog dengan penuh kesadaran bahwa di hadapan saya saat ini adalah orang-orang tua yang berpengalaman. Namun, konsepnya tidak hanya kalau bertemu orang dewasa atau orangtua, dengan orang muda atau bahkan anak kecil pun tetap sama. 

Artinya cara pertama adalah kesiapan diri dan suasana batin yang baik sangat memungkinkan seseorang untuk juga menulis kembali kisah perjumpaannya dengan orang lain secara baik.

2. Perhatikan kata-kata apa yang paling sering diucapkannya

Intensitas seseorang menggunakan kata yang sama bisa menjadi indikasi dengan beberapa kemungkinan: pertama, seseorang itu menyukai kata itu karena bersentuhan dengan pengalaman hidupnya, bisa karena kecewa atau juga karena hal yang menyenangkan. Kedua, pengucapan kata yang sama dalam kurung waktu yang singkat bisa menjadi suatu cara mewariskan kata kepada pendengar hingga sampai pada tingkat identifikasi diri dengan pengucapnya. 

Saya masih ingat saat saya berjumpa dengan seorang ibu yang berusia 103 tahun. Perjumpaan pertama cuma dalam waktu satu jam, namun berapa sering kata yang sama itu telah diucapkannya. Maaf mengucapkan kata yang sama bukan karena ia tidak waras, tetapi kata itu telah menjadi bagian hidupnya. Setiap dia mendengar cerita saya, jawabnya selalu, "terima kasih." 

Ya, terima kasih selalu diucapkannya berulang-ulang, hingga saya menjadi sadar dan bertanya kenapa ia mengucapkan kata "terima kasih begitu sering seperti itu?" Kunjungan dan perjumpaan pertama rupanya menjadi alasannya untuk mengucapkan terima kasih berulang-ulang. 

Dalam suatu kesempatan lain, saya spontan berjumpa dengan seorang lainnya yang adalah teman dari ibu yang telah berusia 103 tahun itu. Nah, katanya pada saya, "Oh ibu itu terkenal dengan nama ibu terima kasih."Dalam hati saya langsung merasakan pesan yang begitu kuat seakan-akan seperti ini:

"kamu harus hati-hati ya dalam menggunakan kata-kata saat kamu menulis. Pakailah kata-kata positif sesering mungkin supaya dirimu identik dengan kata itu. Ampun deh, saya jadi was was dengan kata. Kata itu hidup. Kata itu awal. Kata itu bisa menjadi diriku."

3. Perhatikan cerita tentang masa lalunya

Masa lalu yang sering diceritakan itu ternyata ada dua. Pertama, masa lalu yang menyenangkannya. Kedua, masa lalu yang mengecewakannya. Dari rangkaian perjumpaan yang saya alami, tampak bahwa lebih banyak orang bercerita tentang masa lalu mereka yang menyenangkan. Masa lalu seperti itu mudah dikenang karena begitu membekas. 

Cerita masa lalu seseorang tidak boleh dianggap sederhana lho. Masa lalu seseorang tentu selalu berbeda dan dalam perbedaan isi masa lalu itu terletak banyak sekali cerita tentang perjuangan, kerja sama, tanggung jawab, bahkan tentang penghargaan orang lain tentang kesetiaan dan komitmen seseorang. 

Lagi-lagi ini cerita masa lalu ibu Terima Kasih. Katanya, ia dulu seorang tukang cukur cewek yang sangat terkenal di sebuah kota di Jerman. Saya sih percaya saja. Nah, tiba-tiba ia menunjukkan suatu gantungan pada dinding kamarnya. Rupanya gantungan itu adalah suatu penghargaan atas usahanya dulu yang bisa memperkerjakan orang lain sebagai tukang cukur di salon pribadinya. Ia telah renta, namun rambutnya awet dan bersih, giginya pun tampak utuh dan rapi, pikirannya masih jernih.

4. Amati cara seseorang mengatakan tentang hidup

Cukup mudah bagi kebanyakan orang untuk secara spontan berbicara pada momen-momen perjumpaannya dengan orang lain itu tentang hidup. Terkadang, ia bisa saja spontan mengatakan, "Ya, sekarang saya di sini dan sudah seperti ini. 

Saya tidak bisa melakukan banyak hal lagi, tapi saya harus menerima kenyataan ini. Saya juga bersyukur bahwa saya diberi usia setua ini."Ungkapan hati seperti itu bisa menjadi ungkapan refleksi tentang apa itu hidup. 

Hidup itu ternyata punya waktunya. Ada waktu saat seseorang bisa melakukan banyak hal, tetapi ada waktu dia tidak bisa melakukan apa-apa selain hanya tertidur di tempat tidur atau hidup perlu disyukuri karena diberikan berkat usia yang panjang. 

5. Perhatikan kegemaran, hobi seseorang

Hobi dan kegemaran seseorang bisa juga menjadi tema tulisan lho. Cerita tentang ibu Terima Kasih itu bagi saya sungguh menginspirasi saya untuk menulis tema cara menulis dari perjumpaan dengan yang lain. Hobi yang sering diceritakannya adalah memasak sayur asam atau Sauerkraut bersama teman-teman sebaya dan saudaranya. 

Saat saya mendengar cerita ya gigi saya asam-asam, bukan karena kesal, tetapi karena saya suka makan Sauerkraut. Apalagi kalau sayur itu dimakan dengan sosis bakar dan kentang rebus. Entah kenapa pada waktu itu seperti ada koneksi cerita antara masa lalu orang lain dengan masa lalu dan kekinian hidup saya. 

Perjumpaan itu ternyata bisa melahirkan sambung rasa. Saya akhirnya juga bisa bercerita dengan ibu Terima Kasih tentang kesukaan saya makan sayur asam, kentang rebus dan sosis bakar. 

Perjumpaan kami tidak lagi menimbulkan kebosanan dan jenuh, melainkan bagaikan sebuah sharing yang berpantun dengan letupan lucu di sela-sela itu "Ja, Dankeschoen..... Dankeschoen atau terima kasih.... Terima kasih. 

Dari 5 hal yang perlu diperhatikan di atas, sebetulnya seseorang sudah punya cukup ide dan cara untuk menulis dari setiap sesi perjumpaan dengan siapa saja setiap hari. Entah itu di kampus, tempat kerja, kantor, di pasar, di rumah sakit, di dalam bus dalam suatu perjalanan. 

Tentu di mana saja, saat Anda berjumpa dengan orang lain, pasti Anda punya cerita untuk ditulis dan dibagikan. Demikian kiat praktis menulis tentang perjumpaan dengan orang lain, yang bisa saya bagikan melalui tulisan ini. Masing-masing orang atau setiap penulis tentu punya cara sendiri lagi, kalau diminta untuk menulis bagaimana caranya menulis tentang perjumpaan dengan orang lain. 

Mari berbagi dari kekayaan cara kita, dari menginput ide hingga memunculkan pesan-pesan praktis yang berguna untuk kehidupan. 

Salam berbagi, ino, 19.10.2021.

Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.