1 min dibaca
19 Oct
19Oct
Suara Keheningan | RP. Albertus Herwanta, O.Carm

Dalam injil hari ini (Lukas 11:47-54), Yesus menyampaikan dua kata celaka kepada orang Farisi dan ahli Taurat. Keduanya berkaitan dengan sikap mereka yang menolak pesan Tuhan.

Pertama, leluhur mereka menolak mendengarkan Tuhan dengan membunuh para nabi dan rasul yang Tuhan utus (Lukas 11:49). Kini, mereka juga membenci dan menolak Yesus, nabi terbesar yang datang untuk memenuhi seluruh hukum Taurat dan kitab nabi-nabi (Matius 5:17-18).

Mengapa Yesus mengecam mereka? Karena mereka mengenakan standar ganda. Di satu pihak mereka mengagumi keberanian para nabi yang mati dibunuh dengan membangun makam mereka. Di pihak lain, mereka menentang pesan para nabi dan menutup telinga mereka terhadap firman Tuhan.

Kedua, Yesus mengecam mereka, karena sebagai pemegang kunci pengetahuan atau penafsir resmi kitab suci mereka justru menjadi penghambat. Penafsiran mereka terdistorsi oleh kepentingan sendiri sehingga orang lain tidak dapat memahami. Karena itu, mereka menghalangi orang lain memahami firman Tuhan.

Lebih dari itu, karena kesombongan dan iri hati, mereka menolak para nabi zaman dahulu dan Yesus, nabi terakhir dan sang pemegang kunci Daud (Yesaya 22::22; Wahyu 3:7). Dialah "Kebijaksanaan Tuhan" dan sumber kehidupan abadi.

Hanya mereka yang rendah hati dan berserah kepada Tuhan serta bergantung pada-Nya dapat menerima kebijaksanaan ini. Orang Farisi dan ahli Taurat itu dengan angkuh dan keras hati menolak-Nya.

Apakah kita juga sering menggunakan standar ganda dalam kehidupan sebagai orang Kristen? Di satu pihak mengaku sebagai pengikut Yesus, di sisi lain hidup dalam nilai-nilai yang bertentangan dengan Injil? Apakah demi membenarkan diri sendiri kita menganggap bahwa kebenaran ajaran Gereja itu relatif dan tidak mengikat?

Apakah kita menghayati nilai-nilai Kristiani dan mewariskannya kepada anak cucu kita sehingga mereka ikut mengalami sukacita Injil? Ataukah kita mencari-cari alasan untuk tidak melakukannya. "Biarkan mereka tumbuh menjadi besar dan kelak setelah dewasa memilih agamanya." Bukankah ungkapan itu mencerminkan tindakan yang menutup pintu keselamatan?

Kamis, 19 Oktober 2023Alherwanta, O.Carm.

Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.