1 min dibaca
20 Mar
20Mar
Suara Keheningan | RP. Albertus Herwanta, O.Carm

Apapun yang dialami manusia (entah baik, entah buruk) tidak dapat menegasi dan menafikan bahwa Allah itu KASIH. Setiap pengalaman hidup membawa manusia kepada kasih Allah.

Jika seseorang dikaruniai banyak anugerah, entah rohani atau jasmani, itu berarti bahwa dia dipercaya untuk menjadi saluran kasih Allah bagi sesamanya. Sebaliknya, orang yang menderita, sakit atau gagal diundang untuk mencari kasih Allah yang tersembunyi di balik peristiwa itu.

Seruan bangsa Israel yang tertindas di Mesir sampai kepada Tuhan, sehingga Ia mengutus Musa untuk membebaskan mereka (Kel 3: 1-8a.13-15). Itulah contohnya.

Hidup yang buruk atau belum menghasilkan buah bukan pertanda bahwa itu tidak berguna dan harus dibuang. "Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!" (Luk 13: 8-9).

Kutipan di atas menunjukkan kesabaran sang pemelihara pohon yang mendengar bahwa Sang Pemilik hendak menebasnya, karena pohon itu dianggap tidak menghasilkan buah.

Sang Pemelihara adalah Sang Guru Kehidupan yang datang untuk mengajak orang bertobat, meninggalkan dosa-dosa dan menghasilkan buah hidup yang baik.

Tahun depan tidak hanya berarti 365 hari mendatang, tetapi kesempatan yang Tuhan berikan kepada manusia hingga batas akhir.

Bila sampai saat terakhirnya tidak juga bertobat, layaklah pohon itu ditebang. Artinya, hidup yang serba buruk dan tidak berubah hingga akhir hayat akan binasa.

Jadi, hidup ini merupakan kesempatan untuk mengalami tanda kasih Allah. Sudahkah aku memanfaatkannya sebaik mungkin?

Minggu Prapaskah III, 20 Maret 2022RP Albertus Magnus Herwanta, O. Carm.



Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.