1 min dibaca
02 Nov
02Nov
Suara Keheningan | RP. Albertus Herwanta, O.Carm

Injil hari ini (Lukas 14:1-6) menampilkan dua sikap yang amat berbeda terhadap pribadi dan situasi yang sama. Yang pertama adalah sikap para ahli Taurat dan orang-orang Farisi (Lukas 14:3). Yang kedua adalah tindakan Tuhan Yesus.

Keduanya melihat seorang yang sakit busung air secara berbeda. Mereka melihatnya sebagai alat untuk memancing reaksi Yesus (Lukas 14:1). Mungkin saja juga untuk mempersalahkannya. Sedang Yesus melihat orang sakit itu dengan hati yang penuh belas kasihan.

Orang sakit itu seperti lembu yang terperosok ke dalam sumur (Lukas 14:5) dan tidak bisa keluar dengan kekuatannya sendiri. Dia sungguh memerlukan pertolongan. Yesus cepat menangkap kebutuhan orang itu. Tidak demikian dengan ahli Taurat dan orang Farisi.

Reaksi yang berbeda itu muncul dari "mindset" yang berbeda. Para ahli Taurat dan orang-orang Farisi melihat dari kaca mata hukum. Mereka menganggap bahwa hukum itu di atas segalanya; bahkan di atas manusia. Bagi mereka, menyembuhkan orang sakit pada hari Sabat itu melanggar hukum. Itu tidak boleh dilakukan.

Sedang bagi Yesus manusia dan nasib malangnya itu memanggil-Nya untuk segera menolong. Setelah menanyai mereka tanpa mendapat jawaban (Lukas 14:3), Yesus menyembuhkan orang sakit itu (Lukas 14:4). Tuhan menempatkan manusia di atas yang lain.

Bukan hanya menyembuhkan orang sakit itu, Yesus juga membungkam mulut lawan-lawan yang hendak menjebak-Nya (Lukas 14:4.6). Dengan itu, Tuhan menegaskan bahwa kata-kata dan perbuatan-Nya itu baik, benar, dan menunjukkan tindakan Tuhan yang penuh belas kasihan.

Kita menghadapi hal yang sama hari ini. Ada banyak orang yang menempatkan pelbagai kepentingan di atas manusia. Karena pandangan politik yang berbeda, misalnya, orang bisa saling membenci dan membunuh. Ideologi yang abstrak dianggap lebih penting dari pada manusia yang nyata.

Sebagai pengikut Kristus, apakah kita ini penuh cinta kasih dan bela rasa seperti Tuhan Yesus? Berapa kali kita menolak mencintai dan menolong sesama, karena alasan-alasan seperti perbedaan suku, etnis, kebangsaan, budaya, dan lain-lain?

Jumat, 3 November 2023Alherwanta, O.Carm.

Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.