1 min dibaca
28 Dec
28Dec

Suara Keheningan | RP. Albertus Herwanta, O.Carm

Tragedi mewarnai sejarah hidup umat manusia. Masyarakat modern juga belum lepas dari tragedi.
Ada dua penyebab tragedi, yakni oleh alam (bencana) dan buatan manusia. Pembunuhan jutaan orang Yahudi pada Perang Dunia II adalah tragedi bikinan manusia. Banyak tragedi serupa terjadi di pelbagai belahan dunia.

Kelahiran Sang Juru Selamat pun tidak lepas dari tragedi. Peristiwanya amat menyayat hati karena korbannya adalah para bayi. Mereka itu dibunuh karena hasrat politis dari raja Herodes yang takut kehilangan tahta duniawi (Mat 2: 16-18).

Gereja menganggap para bayi korban pembunuhan itu sebagai martir. Bukan hanya karena mereka mati demi Kristus, tetapi karena mengambil tempat Kristus. Artinya, mereka menggantikan Dia yang terancam dibunuh.
Seraya menghormati para martir yang tidak berdosa itu Gereja menghormati pula mereka yang mati dalam keadaan tak bersalah, khususnya anak-anak dan bayi serta meneguhkan para orangtua yang anak-anaknya menjadi korban.

Orang perlu ingat akan bayi-bayi dan anak-anak kecil yang mati akibat perang, bencana dan hasil tindakan seksual yang tidak bertanggungjawab. Jumlahnya amat banyak dan terus terjadi di pelbagai belahan dunia, hingga tampak bagai pembunuhan massal.

Rupanya tragedi masih akan terus ada lagi; sebagian tak bisa dihindari. Semua orang, terutama mereka yang beriman bertanggungjawab untuk mencegah dan menghentikan hal itu terjadi.

"Tragedi terparah bukanlah penindasan dan kekejaman yang dilakukan orang-orang jahat, tetapi terjadi karena orang-orang baik diam dan membiarkan itu terjadi," kata Martin Luther King, Jr.

Apakah yang selama ini aku lakukan tatkala melihat akan terjadinya tragedi? Apakah aku berusaha mencegahnya? Atau membiarkan jatuhnya para korban tragedi?

Selasa, 28 Desember 2021Pesta Kanak-kanak Suci, Martir RP Albertus Magnus Herwanta, O. Carm.

Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.