1 min dibaca
26 Sep
26Sep

Suara Keheningan | RP. Albertus Herwanta, O.Carm

Sebagai makhluk sosial dan berbudaya manusia cenderung ingin berkumpul dengan sesamanya. Faktor yang mendorongnya antara lain rasa aman dalam kebersamaan dan keserupaan.

Masuk akal orang mudah dan senang berkumpul dengan mereka yang sama bahasa, budaya, agama, adat-istiadatnya. Itu baik dan perlu. Tidak ada yang salah.

Persoalan muncul ketika kebersamaan itu mengental sedemikian sehingga membuat orang tertutup terhadap mereka yang bukan anggota kelompoknya. Eksklusif.

Dalam agama yang mengimani Tuhan sikap eksklusif amat berbahaya. Ada agama yang secara eksklusif mengklaim bahwa Tuhan dan segala anugerah-Nya adalah milik agama itu. Mereka yang di luar agamanya dinilai tidak berhak atas Tuhan dan atributnya.

Agama seperti itu menjadi ancaman bagi kemanusiaan. Memecah belah dan membuang jauh perdamaian dan kerukunan.

Josua meminta supaya Musa menghentikan Eldad dan Medad yang bernubuat, karena keduanya tidak termasuk kelompok nabi yang berkumpul di perkemahan (Bil 11: 28). Yohanes melarang orang mengusir setan atas nama Sang Guru Kehidupan, karena orang itu bukan murid-Nya (Mrk 9: 38). Itu dua contoh konkret sikap eksklusif dalam agama.

Baik Musa maupun Sang Guru menentang sikap itu (Bil 11: 29; Mrk 9: 39-40). Keduanya paham dan sadar bahwa Tuhan bisa menggunakan siapa pun untuk mewujudkan kebaikan-Nya. Barangsiapa melakukan kebaikan Tuhan (sekecil apapun) akan mendapat ganjaran-Nya (Mrk 9: 41).

Mereka yang mengikuti langkah tersebut akan menjadi orang yang terbuka dan inklusif. Dia siap bekerjasama dengan siapa pun dalam menghadirkan kebaikan Tuhan yang sangat luas dan tak terbatas.

Tuhan itu mahabesar. Tidak ada satu agama pun yang bisa memonopoli-Nya. Karena kebesaran kasih-Nya, Tuhan itu merangkul dan melindungi siapa pun. Dia inklusif. Tidak mungkin dikuasai oleh agama yang eksklusif.

Minggu, 26 September 2021RP Albertus Herwanta, O. Carm.

Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.