SOK TAHU


1 min dibaca
30 Jul
30Jul

Suara Keheningan | RP. Albertus Herwanta, O.Carm

Pengetahuan memegang peranan penting dalam kehidupan. Orang tanpa pengetahuan memadai mudah ditipu, disesatkan dan dimanipulasi. Bukankah banyaknya korban hoaks terjadi karena orang kurang pengetahuan dan malas mengecek kebenaran?

Terhadap pengetahuan orang perlu bersikap waspada dan bijaksana. Pengetahuan bisa menyebabkan penyakit psikologis dan mental. Namanya, sok tahu. Ironis, bahwa yang terjangkit penyakit ini adalah yang kurang pengetahuannya, tetapi merasa sudah tahu, mengerti dan berpengalaman.

Penyandang penyakit ini menciptakan banyak kesulitan, baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain. Menjadikan sombong, bebal dan bermuka tebal. Jika mereka anak-anak, menyusahkan orangtua. Kalau mereka murid, membebani para gurunya. Mengapa? Susah dididik, diarahkan dan diajar, karena merasa diri sudah pintar.

Mereka cenderung merasa kenal dan familiar. Tidak mau belajar. "Familiarity breeds contempt," orang Inggris bilang. Artinya, semakin orang merasa mengenal seseorang atau sesuatu semakin dia tidak menyukainya. Dia tertutup terhadap pelbagai kemungkinan yang masih ada pada orang atau sesuatu itu.

Itulah yang dihadapi Sang Guru Kehidupan tatkala Dia pulang ke kampung halaman-Nya. Banyak yang mendengarkan pengajaran-Nya dan sangat kagum. Tetapi mereka tidak mau percaya. Mengapa? Karena merasa "familiar" dan sok tahu tentang asal-usul dan keluarga-Nya.

"Dari mana diperoleh-Nya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mujizat-mujizat itu? Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas? Dan bukankah saudara-saudara-Nya perempuan semuanya ada bersama kita? Jadi dari mana diperoleh-Nya semuanya itu?" Lalu mereka kecewa dan menolak Dia" (Mat 13: 54-57).

Karena itu Sang Guru bersabda,"Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan dirumahnya" (Mat 13: 57). Karena mereka sok kenal dan tidak percaya, Dia tidak banyak mengerjakan mujizat di sana (Mat 13: 58). Mental sok tahu membuat orang kehilangan banyak pengetahuan, kesempatan dan kebaikan.

Bukankah orang sering "underestimate" terhadap bangsanya sendiri, karena merasa sok tahu dan sok kenal? Tukang kayu tidak layak jadi presiden. Ada yang berpendapat pemimpin Indonesia tidak sanggup mengatasi pandemi. Tidak Indonesia menjadi negara maju. Masih banyak lagi mental sok tahu itu. Semua justru membuat orang terperangkap, terkurung; gagal melihat perubahan-perubahan besar atau mujizat. Hasil akhirnya, mereka tidak bahagia!

Jumat, 30 Juli 2021RP Albertus Herwanta, O. Carm.

Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.