Katakan Sejujurnya


Katakan Sejujurnya

Pada mulanya adalah kata
Pada awalnya kata terdengar
Pada prosesnya kata terucap
Pada akhirnya kata itu mengubah

Andaikan saja Dia itu diam, maka tak pernah ada tulisan
Andaikan saja Dia itu bisu, bagaimana kata itu bisa diwariskan
Andaikan saja tanpa wahyu dan janji dalam kata, adakah hidup?
Andaikan saja kata itu tidak terucap karena harus diam, mungkinkah segala sesuatu terjadi?

Aku tak bisa diam saat kata itu bicara dalam hatiku
Aku tahu grad dari kata pilihanku
Aku tak bisa diam, karena ada kata yang harus dikatakan
Aku menghargai, kataku tidak pernah menuntut, tapi cuma alternatif dari sisiku

Kata yang dikatakan itu kembali menyangkal diam yang dikatakan
Kata diam sebenarnya cuma suatu tanda diam yang tidak bisa diucapkan
Kata diam yang terindah adalah terbuka dan jujur mengatakan yang benar
Kata diam yang tepat adalah saat hati mengolah percikan dinamika

Perubahan berawal dari kata, kata ubah hati
Pengampunan berawal dari suara, suara ampun dari hati
Persaudaraan berawal dari koreksi, koreksi persaudaraan
Perbedaan berawal dari lahir, lahir untuk berbeda dan unik

Dari Theodor Mainz terdengar gelombang air, mengapa gelombang air menghasilkan suara?
Dari pesisir pantai Kastell, terdengar gemuruh tiupan angin, mengapa ada deru angin?
Dari dalam kamar terdengar suara lalu lalang kendaraan, mengapa tidak diam?
Dari kamar mandi terdengar suara berisik air, mengapa semuanya menghasilkan suara dan bunyi?

Dalamnya kata hati, tak terukur dengan diam
Dalamnya teologi, ditakar dengan kerendahan hati
Dalamnya hidup tak mungkin tanpa konfrontasi
Dalamnya cinta, tak mungkin tanpa mendengar suara benci

Dalam diam pun terdengar suara angin sepoi, mengapa diam?
Dalam keheningan pun hatimu bicara
Dalam tidurmu pun ada diskusi dan playdoi
Dalam segalanya mesti ada kata yang disuarakan

Ino Sigaze,O.Carm | Mainz, 20.06.2020