Credo kecil dari Sr. Edith Stein: "Saya percaya, maka saya akan mengerti"


Credo kecil dari Sr. Edith Stein: "Saya percaya, maka saya akan mengerti"

Percikan ini terinspirasi dari kutipan kecil dari Santa Edith Stein. Bagi saya ucapan Edith Stein itu bagaikan sebuah credo yang juga menarik untuk dihubungkan dengan cerita wanita bijak, atau juga tentang anak terang, tentang kesetiaan menerima talenta dan tentunya terhubung kepada gagasan tentang kedatangan hari Tuhan.

Kita tidak tahu kapan hari Tuhan akan tiba. Tapi hari Tuhan itu akan datang, dan untuk orang tertentu hal itu akan segera datang. Rentang waktu sampai „saat kedatangan itu“ adalah waktu karya dan pelayanan yang setia. Setia dalam kaitan dengan tema talenta dalam Mat 25: 14-15.19-21 tidak berarti mempertahankan apa yang orang miliki, sama seperti orang ketiga dalam perumpamaan, yang diberikan satu talenta lalu berusaha mempertahankannya dengan menguburkannya. Dengan kata lain setia berarti, bekerja dengan hadiah atau anugerah yang telah kita terima; tumbuh dan dewasa dalam pekerjaan itu; bersiaplah untuk memberikan segalanya untuk mendapatkan segalanya.

Selanjutnya ada gagasan tentang kebijaksanaan wanita yang dipuji. Pujian untuk wanita bisa ditemukan dalam akhir Kitab Amsal 31: 10-13.19-20.30-31. Wanita dipuji karena kebaikan yang dimilikinya. Wanita yang baik dan „mampu“ digambarkan sebagai perwujudan manusia dari kearifan. Wanita seperti itu adalah istri yang penuh kasih, ibu rumah tangga yang perhatian. Oleh karena itu, wanita yang baik adalah „harta karun“ yang nyata, kebahagiaan rumahnya. Dia memiliki kebijaksanaan sejati; pengetahuan yang mengagumkan tentang kebesaran dan kedekatan Tuhan menentukan seluruh hidup mereka. Kebahagiaannya tidak terlepas dari kebaikan hatinya untuk membantu dan memberi atau menghadiahkan; dalam hal ini dia mirip seperti Tuhan sendiri.

Gagasan selanjutnya adalah tentang terang dan harapan. Orang Kristen memiliki masa depan dan harapan. Peristiwa yang menentukan masa depan yang sudah membentuk saat ini adalah hari Tuhan (1 Tes 5: 2). Ada terang dan gelap di dunia saat ini. Yang dibaptis bukan lagi milik malam, tapi milik siang, yaitu Kristus. Meskipun demikian „anak siang“ juga harus diberi tahu atau diingatkan: Bangun dan sadarlah! Iman, cinta dan harapan diperlukan agar dunia secara khusus termasuk orang Kristen tidak binasa dalam kemabukan dan keamanan palsu. Rasul Paulus menasihati: „Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah; apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.“ (Rom 12:2).

Setiap orang memiliki bakat dan kemampuan untuk bekerja, berkarya dan melayani dan mampu menjadi tanggung jawab. Pada akhirnya, yang penting bukanlah seberapa banyak yang dihasilkan, tetapi apa yang dia lakukan dengannya, yaitu, apakah dia seorang Verwalter atau pengelola yang setia. Penata atau pengelola yang bijaksana tahu bahwa waktunya terbatas. Dalam perumpamaan Yesus waktunya tampaknya lama, tidak ada yang tahu hari dan jamnya Tuhan akan datang. Tapi keseluruhan waktu berlangsung atas waktu yang penting itu, yaitu waktu kedatangan dan juga waktu perjumpaan dengan Allah.

Percikan ini selanjutnya terhubung kepada satu kutipan dari Santa Edith Stein, seorang Suster Karmel sebagai berikut:

„Kita harus mengambil keputusan untuk datang kepada Tuhan atau untuk melawan Tuhan. Inilah yang dituntut dari kita: membuat keputusan tanpa sertifikat jaminan. Itulah resiko iman yang besar. Jalannya berubah dari percaya menjadi melihat, bukan sebaliknya. Siapapun yang terlalu sombong untuk melewati gerbang yang sempit ini tidak bisa masuk. Tetapi jika orang melewatinya, orang akan mencapai kejernihan yang lebih cerah dalam hidup ini dan mengalami pembenaran dari „Saya percaya sehingga saya akan mengerti“. (Sr. Teresia Benedicta a Cruce / Edith Stein).

Ino Sigaze,O.Carm