Puncak Kemuliaan


1 min dibaca
15 Aug
15Aug

Suara Keheningan I RP. Albertus Herwanta, O.Carm 

Alam bawah sadar menyimpan minimal dua macam keinginan dasar. Pertama, bahwa manusia ingin bertahan hidup. Upaya dan kerja keras menghadapi serangan Covid-19 nyata-nyata menegaskan hal itu. Sejauh mampu, berapa pun akan dibayar untuk menyelamatkan nyawa.

Kedua, bahwa manusia itu mendambakan hidup yang mulia. Tidak seorang pun secara sadar mau diposisikan di tempat yang rendah; kalah. Hiruk pikuk dunia politik menggarisbawahi hasrat itu. Orang ingin berkuasa, karena mengira bahwa berkuasa itu berarti kuat, besar dan mulia.
Realita menunjukkan bahwa manusia gagal meraih keduanya tatkala mengandalkan kekuatannya sendiri semata. Bahkan, keduanya kerap memasungnya dalam rasa takut dan khawatir yang mendalam. Hanya dua jalan pula yang dapat membantunya, yakni iman dan kerendahan hati.

Orang yang sungguh beriman menerima bahwa hidup adalah anugerah dari Allah. Mereka yang mengosongkan diri dan berserah sepenuhnya kepada kehendak-Nya dibawa olehNya ke dalam hidup abadi dan mulia. Berserah hanya mungkin bagi orang yang rendah hati. Artinya, mengakui bahwa kekuatan, kekuasaan dan kemuliaan sejati datang dari Tuhan.

Mengingat dua hal besar yang tersimpan di bawah sadar itu, hanya sedikit manusia yang berhasil menempuh dua jalan itu. Satu dari antara mereka adalah Maria, Bunda Yesus. Hidupnya diwarnai dengan Magnificat (Luk 1: 46-55), yakni memuliakan Allah dan kesediaan melaksanakan kehendak-Nya. Iman dan ketaatannya itu diperlukan dalam membawa keselamatan abadi bagi umat manusia. Kerendahan hati mengangkatnya ke tempat tertinggi.

Dia menaati misteri kehendak ilahi yang tidak dapat dipahami hanya dengan akal budi. Tantangan yang mesti dihadapi tidaklah ringan. Ikut menderita di bawah salib puteranya. Berkat rahmat Tuhan dan kerja sama berupa iman dan kerendahan hati upaya menghadirkan keselamatan dapat dia lewati.

Tujuan dari karya keselamatan itu adalah kemuliaan sejati, bersatunya badan dan jiwa dalam kehidupan abadi. Sudah selayaknya Sang Bunda yang ikut berperan dalam karya itu boleh memetik buahnya. Itulah sebabnya Gereja percaya bahwa Bunda Maria diangkat ke surga dengan jiwa dan badannya. Dia yang menempuh jalan iman dan kerendahan hati telah mencapai puncak kemuliaan.

Minggu, 15 Agustus 2021Hari Raya Bunda Maria diangkat ke surga RP Albertus Herwanta, O. Carm.

11May
Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.