Trio Bersaudara Meredam Kegaduhan Jakarta


2 min dibaca

Sudah hampir tiga tahun ini saya sering membaca, mendengar dan menonton tulisan dan video dari Ade Armando, Denny Siregar, Cokro TV, bahkan sampai menyaksikan juga video-video yang di posting oleh Aoki Vera Kurniawati, Nyai Dewi Tanjung dan paling akhir tertarik juga menonton video Nikita Mirzani. Meskipun demikian, saya lebih tertarik dengan Trio Cokro TV sekarang ini: Eko Kuntadhi, Denny Siregar dan Ade Armando karena beberapa alasan: 

1. Mereka semuanya orang muslim asli Indonesia.

2. Mereka mulai dari kepedulian pribadi mereka terhadap situasi bangsa Indonesia.

3. Mereka semuanya berani mengungkapkan realitas tanpa takut masuk penjara.

4. Mereka tidak peduli komentar pembaca. 

5. Fokus mereka sama membedah yang suam-suam tapi berbahaya bagi keutuhan bangsa. 

6. Berbicara dari fakta dan dapat dibuktikan secara nyata.

7. Nalar dan prediksi mereka seperti mendahului langkah dan kebijakan pemerintah.

8. Mereka menyoroti sisi-sisi tersembunyi dari presiden Indonesia sekarang. 

9. Mereka meskipun belum dalam satu koalisi official mendukung pemerintah, tapi jelas-jelas mereka telah mencerdaskan banyak sekali orang-orang biasa. 

10. Mereka berbicara tentang kebenaran, keutuhan bangsa, kejujuran, penerapan Pancasila di tengah keberagaman suku, agama, dan ras di Indonesia 

11. Mereka adalah pembela Bhineka Tunggal Ika 

12. Mereka adalah guru di era digital karena jujur dan kritis bawa nilai-nilai kemanusiaan dan tanggung jawab pribadi kepada ratusan juta penduduk Indonesia. 

Saya bangga dan kagum luar biasa dengan Ade Armando dan Denny Siregar. Kata-kata mereka sederhana tidak seindah kata-kata Najwa Shihab, tapi sekali membaca tulisan mereka, jadinya seperti meninggalkan suara ajakan: „Mari kita jaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia“. 

Saya heran dengan Denny Siregar, pada awalnya hanya menulis pada dinding Facebooknya. Kemudian tulisannya dibaca oleh pembaca yang begitu banyak dan tulisannya bagaikan surat wasiat disebarkan tanpa putus-putus sampai sekarang. Denny Siregar bagi saya jauh lebih cerdas dari seorang profesor RG yang menjadi langganan bicara di ILC, namun tidak jelas posisinya entah pengamat atau provokator. 

Seruput Kopi Denny Siregar bisa menghangatkan nalar orang yang berhati bijak, namun bagi orang-orang yang bawa cita-cita untuk mengubah Indonesia jadi negara Islam itu bisa menaikkan tensi Babe dan Big Habib. Seruput Kopi Denny Siregar bisa seperti satu pukulan kidal Mike Tyson pada usia mudanya.

Begitulah juga dengan Ade Armando yang begitu tenang dan mengalir bicaranya. Nalar Ade Armando bagi saya memang tepat kalau bernalar saat meneguk seruput kopinya Denny Siregar lalu sambil menonton siarannya Eko Kuntadhi di Cokro TV. Eko Kuntadhi, Denny Siregar dan Ade Armando adalah tiga bersaudara yang sekarang entah kenapa mereka bersama-sama tampil pada siaran Cokro TV. Cokro TV saat ini semakin dikenal dan diminati banyak orang karena mereka memadukan unsur jenaka, pesan kebenaran, data dan gambar. Perpaduan unsur jenaka, kata yang dipilih secara bijak, data dan gambar yang mengungkapkan fakta akhirnya menjadi semacam obat turun panas karena mendengar kata-kata makian dari ustad seperti YW, HBS, GN, dan beberapa lainnya. 

Sebagai pembaca dan pendengar setia Denny Siregar, Eko Kuntadhi dan Ade Armando, saya sangat mendukung gaya bahasa, opsi dan keberpihakan mereka bertiga. Andaikan Kaum Akademisi Indonesia semakin banyak seperti mereka, maka berita kebaikan akan mudah tersebar dengan begitu cepat ke seluruh rakyat Indonesia. Bahkan mungkin kaum oposisi akan lebih cerdas dan memiliki hati bijak, jika mereka membaca dan mendengar suara ketiganya. 

Saya membayangkan juga apa jadinya jika ibu-ibu pemberani seperti Nyai Dewi Tanjung, Aoki Vera Kurniawati dan Nyai Nikita Mirzani ikut bergabung di Cokro TV. Suara dan kata-kata kritikan mereka bisa saja tanpa terasa bisa dengan mudah menuntun kaum radikalis lebih cepat ke Nusakambangan untuk proses revolusi akhlak di sana. 

Salam dari Suara Keheningan 

Ino Sigaze

Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.