The Sound of Borobudur dan 3 Keunggulannya di Mata Dunia


4 min dibaca

Suara Keheningan | Ino Sigaze

Baca Artikel aslinya di sini: The Sound of Borobudur dan 3 Keunggulannya di Mata Dunia Halaman 1 - Kompasiana.com 

The Sound of Borobudur adalah suara tentang keheningan sejarah bangsa kita yang pernah terbuka pada peradaban dunia dan transformasi tanpa sekat dengan orang-orang yang berbeda.

Nama Borobudur dikenal dunia dan telah menjadi target wisata umumnya di Indonesia dan target paling penting di kota Yogyakarta khususnya. Borobudur sudah dikenal sejak kecil melalui pelajaran di Sekolah Dasar khususnya, cuma sayang sekali sampai sekarang ini, saya belum pernah mengunjungi  tempat istimewa itu.

Meskipun begitu, rasa ingin tahu tentang Borobudur terjawab melalui tulisan para turis dan penulis-penulis tanah air lainnya. Kekaguman saya tetap sama bahwa Borobudur unggul dalam 3 hal ini: presisi, mistik dan musik.

1. Presisi
Bangunan tua dan besar itu tidak boleh dilihat, dikagumi tanpa menyadari aspek presisi dari ahli bangunan. Presisi menurut definisi KBBI berarti ketepatan; ketelitian. Ketika melihat foto-foto tentang Borobudur baik yang ada di media sosial, maupun di media cetak, saya sungguh tertarik dengan ketelitian ahli bangunan.

Presisi itu sebenarnya berkaitan dengan perhitungan matematis. Namun dalam konteks bangunan Borobudur, presisi itu bukan saja soal perhitungan yang jeli terkait sudut, sisi, tinggi, lebar, panjang, tetapi juga terkait rasa seni sehingga sungguh punya jiwa yang hidup dan makna bagi kehidupan.

Presisi dalam cara membangun dengan sekian banyak relief di sana tidak lain untuk menyampaikan pesan yang tidak pernah terungkap dan terdengar bahwa ahli bangunan waktu itu adalah orang-orang yang jenius, ya seniman yang sangat teliti memperhitungkan jiwa dari sebuah sudut bangunan.

Ketelitian tingkat tinggi itulah yang melahirkan kekaguman tentang betapa nyatanya Borobudur itu menggambarkan dan bahkan menyuarakan cerita sejarah dan peradaban di Asia Tenggara umumnya dan Indonesia khususnya.

Gema suara Borobudur bagi saya adalah gema suara para seniman dan arsitek yang merancang bangunan Borobudur itu sendiri. Presisi berkaitan dengan angka-angka.Bangunan Borobudur sebetulnya punya angka-angka terkait:

Sejumlah 2.000.000 balok batu, 40 meter tingginya, 9 lantai, 123 meter panjangnya, punya 4 sisi, 5 kilometer panjang dinding galeri, 3 teras di puncaknya, 76 stupa dan 11 meter diameter stupa induk.

Abad ke-9 dibangun antara tahun 750 dan 850, 100 tahun waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pembangunannya, sejak abad ke-10 bahan baku candi Borobudur itu rusak dan pada tahun 1814 penguasa kolonial Eropa menemukan kembali bangunan itu.

Pada tahun 1983 situs  sejarah itu dibuka untuk pengunjung dan peziarah. Tahun 2011 -2017 partisipasi pemerintahan Jerman untuk restorasi bangunan Borobudur.

Tidak boleh lupa bahwa presisi berkaitan dengan biaya bagi pengunjung: 24 Euro atau senilai 450 rupiah tiket sunrise, pada siang hari untuk orang asing 325.ooo, sedangkan untuk orang Indonesia 80.000 dan sewa skuter  untuk sehari 500.000 rupiah.

Inilah beberapa yang bisa diperhitungkan terkait presisi bukan cuma dulu, tetapi hingga saat ini. Presisi terkait Borobudur berkaitan dengan angka-angka. Inilah presisi sejarah yang pernah tercatat tentang Borobudur: 2.000.000-40-9-123--4-5-3-76-11-9-750-850-100-10-1814-1883-2011-2017-24-450-325.000-80.000-500.000.24-450-325.000-80.000-500.000 atau 22 angka terakhir bisa berubah, sedangkan angka-angka sebelumnya adalah angka statis. 

Angka-angka terakhir itu adalah presisi masa depan yang bisa berubah. Sedangkan 48 angka lainnya adalah angka statis.Nah, oleh karena tema tentang the Sound of Borobudur, maka perlu dilihat hubungan antara angka dan bunyi. Total jumlah angka adalah 70 angka.

Dalam bahasa Fenisia 70 disebut ayin, dalam bahasa Yunani disebut omicron, dalam bahasa Ibrani disebut ayin sedangkan dalam bahasa Arab berarti ayn yang berarti di mana. Bagi orang Fenisia, angka 22 itu berhubungan dengan 22 konsonan untuk mengubah lidah mereka menjadi bahasa tulisan

Sementara itu, angka 48 terdiri dari 40 + 8 atau dalam bahasa Portugis sama dengan mim berarti saya + ha  berarti ada = saya ada. Ya, sebuah pengakuan tentang eksistensi.Jadi, dapat disimpulkan bahwa presisi angka terkait Borobudur itu berkaitan dengan di mana saya ada untuk mengubah lidah mereka menjadi bahasa tulisan.

Presisi ini secara pribadi dipahami mengerucut pada presisi peran dari bagi seluruh rakyat Indonesia untuk mengatakan bahwa saya ada untuk mengubah lidah mereka menjadi bahasa tulisan.Dalam arti ini sebenarnya sound of Borobudur tidak hanya untuk didengar tetapi untuk diubah menjadi bahasa tulisan. 

Nah, tentu kata yang penting adalah transformation atau kata kerja transformieren dalam bahasa Jerman.Maksudnya tidak lain adalah bahwa warisan budaya dan peradaban ini perlu ditulis agar punya daya transformasi, sebuah transformasi yang mendukung adanya saya atau eksistensi manusia.  

2. Dimensi Mistik

Dimensi mistik bukan cuma terlihat dari bentuk dan aura bangunan yang bisa dirasakan ketika orang berada di sana, tetapi juga mestinya dari angka-angka. Angka-angka di atas ternyata punya arti. 

Ya, sebuah mistik angka.Saya bisa mengerti dan berani menafsir itu karena saya percaya dulu Indonesia adalah pusat perjumpaan budaya. Pertemuan budaya akan memengaruhi tidak hanya aspek seperti bahasa, adat istiadat dan kebiasaan hidup, tetapi juga terkait hidup spiritual dan angka-angka.

Tidak heran bagi  umat Buddha yang taat, suka mengelilingi 9 teras bangunan dalam suatu meditasi yang mendalam. Siapa pun tidak bisa mengerti mengapa harus sembilan misalnya mengelilingi teras bangunan.

Hidup mistik berkaitan sangat erat dengan sisi-sisi kehidupan yang melampaui alam pikiran manusia yang biasa.  Jangan soal angka, tentang bagaimana orang pada zaman itu membangun candi Borobudur itu saja, mungkin sudah sulit dimengerti.

Dimensi mistik Borobudur itulah yang terus menyimpan daya tarik luar biasa bagi dunia. Borobudur tetap berdiri tegar, namun orang tidak bisa mengerti semua hal terkait dengannya.

3. Musik

Dari relief yang tersisa klaim tentang peradaban menjadi benar-benar bukti yang tidak bisa disangkal. Indonesia boleh berbangga bahwa pada suatu masa pernah menjadi pusat pertemuan budaya dunia.

The Sound of Borobudur tentu menyimpan harapan bahwa bukan cuma relief yang menjadi saksi sejarah, tetapi orang perlu mengubah suara-suara itu hingga menjadi tulisan.Relief alat musik di seluruh dunia bagi saya lebih merupakan misteri tentang gema atau echo. 

Echo dari sebuah sejarah dan peradaban yang pernah ada di tanah air dan bangsa Indonesia.Echo musik itu bahkan terdengar hingga sekarang yakni ketika anak-anak Indonesia punya keberanian untuk mengubah suara ke dalam tulisan atau berani mengubah angka-angka untuk memperjelas riwayat presisi seniman dan musikus-musikus dunia yang pernah ke Indonesia.

Saya percaya tema the Sound of Borobudur bisa menjadi suatu gema yang berdampak transformasi dalam banyak bidang. Transformasi yang terkait tentunya, pendidikan, budaya, ilmu pengetahuan, musik, seni, arsitektur dan lain sebagainya.

Musik bagi kebanyakan orang berkaitan erat dengan ungkapan jiwa dalam rupa-rupa suasana batin manusia. Musik sangat dekat dengan yang namanya dinamika.Ibarat musik tidak pernah dibentuk dari satu nada, demikianlah Indonesia raya itu mesti dibentuk dengan cara pandang tentang warisan relief musik Borobudur yang mencintai pluralitas. 

Keragaman relief adalah bukti sekaligus pesan tentang kebhinekaan. Ya, kebhinekaan dari cara pandang seorang musikus yang tidak pernah menginginkan hanya ada satu alat musik, tidak pernah hanya ada satu nada.Musik dari warisan sejarah kita, ternyata bermacam-macam, maka hidup kita pun sepantas mencintai keberagaman. 

The Sound of Borobudur bisa saja adalah suara protes tentang radikalisme yang anti pada keberagaman, kemodernan dan keterbukaan. Demikian ulasan terkait the Sound of Borobudur dengan 3 keunggulan dasarnya: presisi, dimensi mistik dan musik. 

Saya percaya, penulis-penulis lain pasti punya cara pandang sendiri yang tentu memperkaya pemahaman kita tentang peradaban kita sendiri.

Salam berbagi, ino, 17.05.2021.

Referensi

1. Sueddeutsche.de

2. Indojunkie.com

3. KBBI

Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.