SUARA KEHENINGAN: SANG PELUKIS RASA


2 min dibaca

Suara Keheningan | Yancen Wullo

Beberapa orang mengirim pesan dan memberi komentar tentang “Suara keheningan” sebagai sebuah media yang menginspirasi dan mengganggu rasa. Entah apapun alasannya tetaplah dibenarkan sebagai sebuah daya pikat dan daya tarik untuk menghidupi Suara keheningan. Semua tulisan membawa mereka untuk berpikir dan selalu memperluas pengetahuan. Selain itu ada yang “baper”dan “kepo” seolah tulisan itu berbicara tentang pengalamannya dan menarik mereka pada sebuah rasa untuk mencintai keheningan batin. Rasa penasaran akan setiap tulisan, selalu membuat mereka menunggu kapan rasa mereka diganggu lagi dalam setiap goresan kata. SUARA KEHENINGAN: Sang pelukis Rasa. 

Baik puisi, artikel, sharing pengalaman harian mengganggu rasa. Merasa sedang di lukis dalam sebuah media, dan merasa ditarik masuk dalam pangalaman indah. Menjadi pelukis bisa mampu mengolah obyek, ide, ekspresi dan emosi dengan penciptaan seni. Dengan demikian, maka tidak salah jika Suara keheningan mengganggu rasamu dan menarikmu pada rasa jatuh cinta akan keheningan. Disitulah emosi diolah, idemu menjadi berlian dan ekspresimu terkontrol dengan sebuah tingkat kesenian yang terukur. Tak ada salahnya kita mengganggu rasa dan melukis rasa dalam kata, lukisan serta nyanyian.

Beberapa waktu lalu seorang penulis Suara Keheningan melirik sebuah lagu dengan kata-kata yang bernas. Selain suara, kata dan musik dalam rekaman, keheningan membuat rasa terpesona dan kagum. Daya refleksinya itu yang menjadi awal dari lahirnya kata, alunan musik sehingga menggugah orang. Banyak orang bisa berpendapat bahwa hidup bisa diubah oleh apapun. Dan kata serta kisah dalam sebuah tulisan, lukisan, musik dan nyanyian memiliki daya untuk itu. 

Pablo Picasso, kelahiran Malaga, Spanyol 25 Oktober 1881. Dikenal sebagai seniman besar dan sebagai pelukis revolusioner pada abad 20. Dia melahirkan lebih dari 20.000 karya dalam hidupnya. Selain dikenal sebagai pelukis, ia selalu membuat patung, grafis, keramik hingga tata panggung. Ia selalu berganti lukisan dan dikenal memiliki darah seni melankolis, kepribadian yang kuat dan hidupnya bebas.

Ia hebat karena bisa merebut serta melukis perasaan dalam setiap karya seninya. Bagaimanapun juga perasaannya telah menyerupai begitu banyak rasa yang sama dimiliki oleh orang yang menikmati karyanya. Ia mempengaruhi dan menarik orang untuk ada dalam rasa dan pengalaman yang sama.

Saya meyakini Picasso memiliki daya refleksi kuat, banyak waktu untuk merenung, berefleksi akan sebuah objek. Picasso dalam kutipan kata-kata bijaknya, ia berkata tujuan seni adalah “membersihkan debu” kehidupan sehari-hari dari jiwa kita. 

Sesuatu yang sulit tergambarkan, namun bisa dilukis oleh seorang seniman. Debu dalam jiwa, siapa yang bisa mengenal dan bisa membersihkannya? Jiwa seorang seniman bisa melihatnya. Maka, tidak berlebihan jika sang pelukis rasa tahu debu dalam jiwanya dan jiwa banyak orang. Bagaimana cara mengeluarkan debu jiwa, hanya sang seniman yang tahu. Debu itu bisa dilukiskan sebagai sebuah ekspresi yang perlu terungkap keluar. Inilah ekspresi sebuah seni. Maka ia berkata, pelukis bisa mengubah matahari menjadi bintik kuning dan mengubah bintik kuning menjadi matahari. Seniman adalah wadah untuk emosi yang datang dari seluruh tempat: dari langit, bumi, dari secarik kertas bahkan dari jaring laba-laba. Sesuatu yang sulit bisa dilukis begitu sederhana, itulah jiwa sang pelukis, sang seniman.

Media sebagai hal yang penting untuk membersihkan debu dan menatanya secara indah. Debu bukan saja sebagai sebuah kotoran yang sesaat ditiup angin tanpa membekas. Justru yang kotor bisa dijadikan sebagai sebuah karya seni yang indah. Inilah jiwa seorang pelukis. Debu jiwa adalah rasa yang sering terabaikan oleh begitu banyak orang, namun jika dilukis maka indah dan mengagumkan. Karena esensi dasar dari sebuah seni adalah luapan ekspresi atau cita rasa, maka harus terungkap dalam sebuah media. Bisa dalam bentuk teater, tarian, musik, lukisan dan tulisan. Tujuannya adalah bisa dinikmati dan menarik rasa. 

Sekalipun begitu banyak pelukis terkenal, hebat dan menggoncang dunia, namun mereka masih terus belajar. Pelukis jiwa tertinggi adalah yang menjadikan kita SECITRA dengan-Nya. Ia ada dalam keheningan. Dia adalah SUARA DALAM KEHENINGAN BATINMU.

Apapun komentarnya tentang tulisan dalam “Suara keheningan” Ia tetap lahir dari keheningan. Ia hadir bukan mencari nama, namun memberi nama bagi mereka yang terus mencarinya. Ia tidak mencari popularitas karena ia lahir dalam keheningan. Hanya ada sebuah keyakinan bahwa jiwa yang hening adalah jiwa sang pelukis rasa.

"Sekalipun begitu banyak pelukis terkenal, hebat dan menggoncang dunia, namun mereka masih terus belajar. Pelukis jiwa tertinggi adalah yang menjadikan kita SECITRA dengan-Nya."

Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.