Perginya Sang Penjaga Mistik: The Call to Conversion - Sebuah Eksposisi tentang Singo (Anjing putih) pada makam Sang Profesor Pareira


4 min dibaca

                                                                                                                                                           Freitag, 15.01.2021

Ditulis oleh: Romo Ino, O.Carm

Pertama mendengar cerita tentang datangnya seekor anjing putih ke makam Romo Pareira, seakan aneh bahkan sulit dimengerti. Akan tetapi, saya sungguh menjadi berani untuk mencari tahu lebih lagi hanya karena soal warna anjing. Andaikan anjing hitam, maka persepsi tentang kematian bisa terpancing kepada salah tafsir bahkan miris. Sehari setelah mendengar berita itu, saya menerima juga video berdurasi singkat itu. Terlihat Singo, anjing putih itu tidur dekat sekali di samping peti, namun sama sekali tidak ada reaksi dan suara-suara yang menakutkan. Ia tertidur dan sesekali menggerakan badannya, namun tampak ramah dan damai. 

Anjing sudah memiliki konotasi dan tugas di dunia supranatural antara yang baik dan yang jahat. Beberapa tugas anjing bisa ditemukan dalam dunia mitologi sebagai berikut: 

1. Anjing sebagai sahabat orang mati

Umumnya suasana duka dan kesedihan menjadi warna khas ketika seseorang meninggal dunia. Karena itu tidaklah heran kalau kematian sering dilihat sebagai suatu gambaran suasana yang seram, suram bahkan gelap. Dan kalau dilihat dari latar budaya seperti budaya kematian di Sikka tanah kelahiran Romo Pareira, maka kematian bisa disimbolkan dengan tudung duka berwarna hitam yang dikenakan oleh kaum ibu atau lombung mitang dalam bahasa Sikka. Akan tetapi, konotasi arti seperti itu hanya berlaku sejauh menyangkut dunia ini. Setelah itu, ada dunia yang disebut sebagai surga atau Paradies atau ladang Elysian dari dunia bawah atau juga dunia lain dari banyak dunia posterior (Nachwelten) atau anak cucu. Keyakinan yang ada dalam banyak mitos adalah bahwa manusia tidak pergi sendiri di jalan menuju dunia akhirat, tetapi ditemani oleh anjing (In vielen Mythen begibt sich der Mensch nicht allein auf den Weg ins Jenseits, sondern wird von Hunden begleitet.)

Sedangkan dalam mitologi Jerman, dikenal beberapa nama anjing seperti anjing dari dewi Nehalennia. Anjing ini dianggap sebagai dewi pengiriman dari dunia bawah dengan sosok seekor anjing atau juga serigala. Anjing ini tidak hanya sebagai dewi pengiriman, tetapi juga anjing itu berperan sebagai Managarm atau pendamping orang mati atau juga dalam mitologi jerman disebut Psychopomp. 

Dewasa ini orang mengenal anjing dalam mitologi itu dengan sebutan Fenrir atau Fenris atau seekor serigala yang memainkan peran penting di akhir dunia. Sedangkan Managarm mengindikasikan hubungan yang ambivalen antara mistik dan manusia. Konotasi ini sekurangnya pernah ada dalam era pasca- mitologi Jerman sebagai yang bertentangan dengan kebaikan karena anjing itu membawa orang mati kepada Valhalla.

Berbeda dengan keyakinan suku Azteken yang juga mengenal seekor anjing sebagai pendamping jiwa. Nama anjing itu adalah Xolotl. Peran pentingnya adalah tidak hanya menuntun orang mati ke dunia bawah, tetapi juga menghembuskan nafas kehidupan baru ke tulang-tulang yang mati. Ras ini masih hidup sampai sekarang. 

Peran anjing seperti menghembuskan nafas kehidupan tentu sangat menarik jika dilihat kembali ke dalam teks Perjanjian Lama khususnya Yehezkiel 37:5: „Beginilah firman Tuhan Allah kepada tulang-tulang ini: Aku memberi nafas hidup di dalammu, supaya kamu hidup kembali.“ Pada titik ini, saya jadi ingat kembali disertasi Doktoral dari Romo Pareira di Universitas Gregoriana, Roma dulu: „The Call to Conversion in Ezekiel, Exegesis and Biblical Theology.“ Saya ingin membaca disertasi itu, namun saya tidak tahu di mana disertasi itu berada. Meskipun demikian, dalam kaitan dengan kutipan di atas, saya yakin bahwa panggilan kepada pertobatan yang paling mendasar dalam Yehezkiel adalah bahwa pertobatan cara pandang dan iman kepada Allah. Orang harus percaya dan mengimani Allah sebagai Allah kehidupan. Allah yang menghembuskan nafas kehidupan.

2. Anjing sebagai penjaga mistik 

Dalam dunia mitologi, orang mengenal anjing bukan hanya sebagai sahabat, tetapi juga penjaga. Nama seperti Kerberos atau Cerberus dikenal sebagai anjing yang berada di pintu dunia bawah dan pernah dibawa ke dunia kita oleh Heracles. Kerberos dianggap sebagai anjing yang baik karena mengizinkan orang yang meninggal masuk dan dia hanya membiarkan tidak ada yang keluar dari alam kematian - dan tidak ada yang hidup di dalamnya, sebagaimana mestinya. Kerberos itu mirip dengan Garm, anjing dewi Jermanik Hel, yang dianggap sebagai anjing pertama yang pernah hidup. 

Orang Inuit sendiri yang tinggal di daerah Kutub Utara mengenal anjing Sedna. Sedna adalah anjing penjaga gerbang ke dunia lain. Sedangkan bagi orang Anubis penjaga ke dunia lain itu digambarkan dengan serigala hitam. Orang Mesir menyembah Anubis, seekor anjing hitam sebagai dewa upacara orang mati dan bertugas untuk membawa orang mati ke dunia orang mati.

Anjing supernatural dikenal tidak hanya dengan satu fungsi seperti menjaga suatu tempat, tetapi juga bisa melindungi manusia. Di Bergisches Land orang mengenal Hermen atau Tives. Dengan mata berbinar, Hermen atau Tives membantu pendaki menemukan jalan mereka dengan aman. Tetapi jika orang mengejek mereka, maka orang akan menuai kebencian pahit mereka. 

Anjing dalam Mitologi Yunani 

Kerberos yang dikenal sebagai penjaga pintu gerbang ke dunia bawah, biasanya sendirian. Meskipun demikian, para dewa Yunani tidak hanya menjadikan anjing sebagai penjaga, tetapi mereka juga membiarkan anjing menemani mereka.

Cerita dewa anggur Dionysus juga sering membawa anjing bersamanya - seperti yang dilakukan dewi cinta Aphrodite. Anjing juga diberikan kepada suaminya Ares sebagai simbol. Anjing dalam mitologi Yunani bahkan dianggap suci oleh dewa penyembuh Asclepius. Banyak pahlawan dan demigod lainnya mendapat dukungan dari teman dan penjaga berkaki empat itu - tidak terkecuali Odiseus, yang hanya dikenali oleh anjing tuanya Argos. 

Namun, orang Yunani tidak hanya mengenal anjing yang baik, tetapi juga nama ini disebut dengan konotasi jahat: Nama dewi penyihir Hecate, monster laut Scylla, Lyssa dan Lamiae, Lailaps.

Abad Pertengahan dan Kekristenan

Menghina Anjing Sampai sekarang kita telah melihat: Hubungan dengan anjing supernatural sangat ambigu, baik di zaman kuno maupun di zaman pra-Kristen. Di satu sisi mereka dihargai sebagai penjaga dan sahabat setia, di sisi lain mereka diberi properti yang tidak diinginkan dan dikaitkan dengan kematian. Citra anjing menjadi jauh lebih gelap pada Abad Pertengahan Kristen. 

Banyak legenda anjing hitam, yang menghantui persimpangan jalan, kuburan dan kuburan megalitik, muncul selama ini. Anjing kuno yang dulunya ambivalen juga telah dimusnahkan. Dalam Divine Comedy-nya, Dante menjadikan anjing penjaga Kerberos sebagai penghukum bagi mereka yang dihukum di neraka. Dia tidak lagi menjaga pintu masuk ke dunia bawah, tetapi mencakar dan melahap jiwa-jiwa yang terkutuk. Ini adalah hukuman atas dosa kerakusan dan keserakahan yang berlebihan.

Tetapi tidak semua asosiasi positif itu menghilang. Anjing dianggap berpandangan pikiran, sebagai yang mampu mempersepsikan yang tak terlihat (als geistersichtig, sie nahmen also Unsichtbares wahr). Seekor anjing yang setia dengan demikian dapat memperingatkan roh-roh jahat yang tidak dilihat manusia - atau bahkan mendorong mereka untuk melarikan diri dan memberikan peringatan untuk waspada. Anjing dipandang sebagai mediator antara dunia nyata dan dunia di balik tabir atau yang tersembunyi. 

Romo Pareira dan Singo 

Pada hari pemakaman, Singo (nama anjing putih) milik bu Elias datang sendiri dan menempati posisi di samping peti dan makan Romo Pareira. Bahkan sebelum peti jenazah dibawakan ke pemakaman Sukun, Singo sudah menunggu di sana. Singo telah mengikuti prosesi pemakaman Romo Pareira sampai selesai.

Beberapa hari sebelum meninggal, Romo Pareira sempat ditelepon bu Elias yang meminta Romo Pareira memberikan perminyakan suci kepadanya di sebuah rumah sakit di Malang. Berkat bantuan seorang Suster, Romo Pareira mendapatkan semua perlengkapan untuk perminyakan bu Elias itu dan Romo berangkat untuk memberikan perminyakan bu Elias yang sedang diopname di sebuah rumah sakit. Bu Elias telah sembuh dan Romo Pareira telah pergi untuk selamanya. Bu Elias tidak hadir dalam upacara pemakaman itu, lalu Singo hadir di sana dengan setia. Mungkin Singo mengerti, „Orang inilah yang telah menolong tuanku bu Elias.“ 

Apa yang bisa dikatakan sebagai gambaran keseluruhan? 

Mungkin anjing mistis itu adalah cerminan dari kenyataan: penjaga yang setia, sahabat setia, dan pemburu yang hebat. Kemunculannya dalam begitu banyak mitos, legenda, dan agama juga merupakan bukti kedekatan mereka dengan manusia. Bahkan kita terkadang menganggapnya menakutkan.

Fenomena Singo pada makam Romo Pareira, barangkali adalah petunjuk dan kritik untuk kehidupan: Jika saja anjing bisa bersahabat dengan Romo Pareira, bahkan bisa berduka, mengapa manusia tidak? Lebih anjingkah manusia ini daripada anjing? Pesan kehidupan dan persaudaraan inilah yang penting, dari sebuah fenomena yang hanya disebarkan tanpa refleksi. Pesan dan ajakan Romo Pareira terasa semakin nyata, ayo bertobatlah supaya tidak menjadi anjing hitam di mana-mana.

 „The Call to Conversion“ 

Bisa jadi, fenomena Singo dalam prosesi pemakaman Romo Pareira adalah „Call to Conversion“, suatu panggilan kepada pertobatan. Indonesia saat ini diwarnai dengan kebebasan dalam berkomentar. Karena itu, orang akan menemukan betapa buruknya kata-kata komentar pada hampir semua dinding media sosial tidak hanya antara sesama masyarakat, bahkan komentar rakyat tentang pemimpinnya. Caci maki, bulli, hinaan terasa sudah jauh melampaui kenyataan seekor anjing (sudah menjadi lebih anjing) atau melampaui kehadiran Singo pada makam Romo Pareira. Singo hadir tanpa wajah geram dan suara ancaman. Ia tampak berdamai dengan siapa saja, lebih-lebih dengan mereka yang berduka karena kehilangan seorang yang pernah menolong tuannya.

Kunjungan Singo pada makan dan menghadiri prosesi pemakaman Romo Pareira betul-betul membawa simbol pesan bahwa Romo Pareira adalah seorang mistikus persaudaraan. Dia telah mengajak siapa saja untuk belajar dari seekor Singo, yang setia, ramah, damai, bersahabat dan bersaudara di tengah konteks kehidupan dunia yang diwarnai dengan paham-paham radikalis, eksklusif dan benci membenci. 

Dalam ibadat pagi setelah pause menulis artikel kecil ini, saya mendengar bacaan pagi waktu (Laudes) komunitas dari Surat Rasul Paulus kepada umat di Efesus 4: 2: „Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.“ Saya mengerti teks ini bukan sebagai suatu kebetulan. Oleh karena itu, saya yakin bahwa panggilan kepada pertobatan tentu tidak bisa terjadi tanpa menjadi rendah hati, lemah lembut dan sabar. Mari belajar dari Singo, agar tidak menjadi lebih anjing dari anjing, tetapi menjadi sperti Singo pembawa damai yang bersaudara dengan siapa saja.

Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.