Pengalaman Pertama Riset Budaya: Bukan Cuma Teori dan Data, tapi Juga Rasa, Bahasa dan Keyakinan


4 min dibaca

Suara Keheningan | Ino Sigaze

"Rasa ingin tahu dan sikap rendah hati mesti dimiliki oleh peneliti. Bukan cuma teori di kepala dan data di lapangan, tetapi tata krama, kedisiplinan, keterbukaan pada temuan baru, anggaran serta rasa dan keyakinan budaya itu sangat memengaruhi kualitas riset budaya."

Kata riset pertama kali dengar yakni dalam kuliah tentang ilmu metodologi penelitian pada tahun 2007. Memang terasa sekali bahwa kata riset  pada tahun 2007 masih terdengar asing, sekurang-kurangnya bagi saya dan beberapa teman yang belum pernah melakukan suatu riset lapangan.

Meskipun terdengar asing, kata riset mampu memberikan aroma rasa khusus terutama dalam dunia ilmu pengetahuan sebagai suatu aktivitas ilmiah dengan poros hubungan antara teori dan data-data lapangan.
Oleh karena rasa asing itu, maka ketika ditawarkan untuk penulisan tesis pada waktu itu, senang juga untuk coba mengakrabkan diri dengan kata riset, tentu dengan segala konsekuensinya.

Pertanyaan yang penting adalah apa saja tantangan, hambatan dan proyeksi ke depan dari sebuah riset di bidang budaya? Dalam ulasan ini, saya lebih fokus pada pengalaman konkret tahun 2007-2008 terkait riset budaya. Ya, suatu pengalaman pertama bergumul dengan riset.

1. Modal teori

Modal teori memang dimiliki dari bekal penjelasan dosen di universitas. Teori yang penting tentu berkaitan dengan bagaimana cara kerja dalam dunia riset. Riset dimengerti sebagai suatu bentuk penelitian lapangan terkait tema-tema yang ada di dalam kehidupan masyarakat atau sosial. 

Entah itu fenomena-fenomena sosial, entah itu budaya dan adat istiadat dan tentu saja ada banyak bidang yang bisa menjadi objek penelitian. Teori lain yang penting adalah berkaitan dengan metode penelitian itu sendiri.

Seorang peneliti awal memang bisa dikatakan benar-benar "anak bawang", artinya masih harus banyak belajar menguasai teori, padahal kenyataan di masyarakat bisa saja sangat berbeda atau sama sekali tidak pas dengan teori yang telah dipelajari. 

Tentu teori bukan sebagai yang satu-satunya penting, tetapi sebagai wawasan dasar yang sangat menolong peneliti untuk mengambil langkah. Teori sangat penting untuk memahami seluk beluk dunia riset umumnya dan sambil berkreasi di lapangan dengan pedoman teori yang dimiliki.

Bagi saya teori itu bagaikan kompas pemandu arah peneliti di lapangan dan juga saat kembali duduk di meja untuk menganalisis data-data, rekaman dan lain sebagainya.

2. Perbedaan antara tesis awal dan temuan di lapangan

Tantangan tidak mudah bahwa tesis awal sebagai rujukan untuk penelitian kadang ditemukan sangat berbeda dengan kenyataan di lapangan. Pengalaman itu benar-benar membuka kesadaran bahwa sangat penting bahwa peneliti membuka diri seluas-luasnya pada temuan baru di lapangan.

Bahkan bisa dikatakan peneliti tidak boleh memaksakan tesis awalnya supaya benar di lapangan. Data lapangan harus menjadi prioritas, karena data lapangan itu  adalah data primer yang langsung dari sumber asli.

Tantangan itu membuka wawasan dan perspektif baru bahwa dunia riset itu penuh dinamika dan konfrontasi, bahkan juga ketegangan. Apalagi terkait tema budaya.
Tema budaya bukan cuma soal data dan fakta yang perlu diperhatikan dalam riset, tetapi soal rasa dan keyakinan. Rasa dan keyakinan inilah yang kadang  mendatangkan indikasi baru tidak hanya pada kepentingan proyeksi peran pemberi data, tetapi juga terkait kedalaman pemahaman terkait budaya yang diteliti.

Pemberi data terkadang menunjukkan diri mereka sebagai orang paling berpengalaman, paling mengerti budaya tertentu sebagai yang memiliki versi asli daripada yang informan lainnya.

Dalam kaitan dengan situasi seperti itu, peneliti tetap fokus pada prinsip untuk mengambil semua data yang pada akhirnya baru dikaji berdasarkan data-data pembanding dari sumber-sumber  lainnya, maupun dari narasumber itu sendiri.

3. Tata krama

Aspek tata krama itu sangat penting dalam riset budaya. Kadang surat pengantar dari kelurahan yang menjelaskan posisi wilayah penelitian itu tidak cukup sebagai surat pengantar yang memberikan jaminan bahwa peneliti akan diperlakukan dengan ramah.

Pengalaman unik ditolak mesti sudah punya janjian untuk wawancara itu adalah bagian dari risiko peneliti. Peneliti akan berhadapan dengan sekian banyak pengalaman yang menantang bahwa terkadang peneliti bisa merasa direndahkan.

Jangan lupa, prinsip yang harus dimiliki peneliti adalah tetap ramah, meskipun kenyataan tidak ramah. Keramahtamahan di lapangan itu membuka kemungkinan untuk memperoleh data lebih banyak dan tentu sebaliknya.

Memperoleh data bagi seorang peneliti sama seperti memperoleh mutiara. Namun, untuk memperolehnya orang perlu belajar menjadi sabar, apalagi jika ulasan yang belum jelas atau data hilang dan harus wawancara ulang untuk tambahan data.

Bahkan tidak mudah juga saat konfrontasi data dengan pemberi informasi lainnya. Saat-saat seperti itu adalah momen paling mudah, peneliti mengalami kata dan suara-suara sumbang yang tidak enak di telinga.

Prinsip yang penting dari peneliti adalah tetap menjaga keramahtamahan, etika dan sopan santun sesuai tuntutan budaya setempat. Jadi, sebelum terjun ke lapangan, peneliti perlu belajar mengenal tata krama khas budaya orang lain, rasa bahasa dan keyakinan mereka.

4. Kedisiplinan
Aspek kedisiplinan itu tidak boleh dianggap enteng, karena kedisiplinan itu mencakup keseluruhan target dari riset itu sendiri. Artinya, bukan cuma tuntutan bahwa orang lain atau pemberi informasi harus disiplin, tetapi pertama-pertama peneliti itu sendiri harus bisa  mendisiplinkan dirinya.

Karena itu, rencana dan program riset mesti direncanakan secara baik dan teratur, misalnya kapan turun ke lapangan untuk pengambilan data, kapan blusukan untuk hadir dalam acara budaya itu sendiri tanpa perlu wawancara, kapan transfer data rekaman, kapan melengkapi data, dan lain sebagainya.

Ya, kedisiplinan diri peneliti adalah kunci keberhasilannya sendiri. Tanpa kedisiplinan, penelitian akan membutuhkan waktu sangat lama dan tentu punya konsekuensi pada rencana anggaran.Kedisiplinan waktu sangat penting berkaitan dengan janjian untuk wawancara dengan informan. Untuk waktu seperti itu, tidak boleh ada kata terlambat atau tunda dan lain sebagainya.

5. Rencana anggaran

Rencana anggaran itu sangat penting. Bahkan peneliti harus bisa merumuskan semuanya secara mendetail kebutuhan penelitian mulai dari hal kecil sampai ke kebutuhan yang lebih besar.

Ya, riset itu membutuhkan sokongan dana. Pengalaman membuktikan bahwa rencana anggaran penelitian itu sangat tergantung pada seberapa peneliti itu punya pengalaman riset dan kedisiplinan.

Sederhananya, jika tidak disiplin, maka butuh lagi biaya. Misalnya, peneliti sudah punya jadwal wawancara, lalu terlambat datang pemberi informasi sudah pergi dan pasti hari itu tidak bisa ada wawancara, padahal orang itu adalah informan kunci.

Rencana wawancara pasti berubah pada hari lainnya, maka konsekuensi anggaran perjalanan akan berubah juga. Nah, itu cuma contoh kecil mengapa kedisiplinan itu penting, karena selalu punya konsekuensi langsung pada anggaran.

Budaya riset dan riset budaya
Terasa sekali bahwa gema reshuffle kabinet beberapa waktu lalu terdengar sampai ke kuping akademisi di seluruh Indonesia, khusus nama Nadiem dan gagasan riset dan teknologi.

Ya, tentu itu adalah angin segar bagi citra keilmuan Indonesia. Jika hari ini budaya riset kita baru bergema, itu tidak berarti bahwa sebelumnya sama sekali kita tidak punya gairah untuk riset dan teknologi.

Riset dan teknologi di beberapa universitas sudah lama bergerak, namun hembusan pemerataan visi keilmuan ke seluruh universitas yang berbasiskan riset dan teknologi, mungkin masih terasa baru.Nah, kebaruan itu bukan berarti suatu keterlambatan. Mengapa? Bangsa Indonesia kaya dengan aneka budaya dan adat istiadat dan semuanya ada di dalam rahim peradaban dan kehidupan masyarakat kita.

Kapan kita mulai dan bagaimana kita bergerak? Riset budaya bagi saya merupakan kesempatan istimewa yang bisa melahirkan gagasan dan perspektif baru tentang makna dari aktivitas yang telah membudaya berabad-abad tanpa refleksi, kritik dan tulisan.

Riset budaya itu cuma suatu alternatif di tengah riuhnya rasa ingin tahu anak bangsa. Karena itu, saya sangat optimis bahwa anak bangsa Indonesia akan menghasil karya-karya luar biasa, yang baru dan berkualitas.

Karya-karya ilmiah yang berbasiskan data, analisis dan temuan-temuan aktual merupakan karya fenomenal yang menggemparkan dunia. Ruang terbuka untuk anak bangsa ada di depan mata.Pintu riset dan teknologi telah dibuka begitu lebar, adakah dukungan anggaran dan gairah peneliti untuk riset dan teknologi kita?

Saya hanya membayangkan jika pemerintah memberikan dukungan dana dan penghargaan untuk anak bangsa yang mau bergerak di bidang riset dan teknologi, maka iklim pendidikan di Indonesia pun akan perlahan-lahan berubah.Kalau bukan kita generasi muda ini yang bergerak di bidang riset dan teknologi, ya siapa lagi? 

Demikian beberapa ulasan dan refleksi dari pengalaman riset budaya yang pernah saya lakukan pada tahun 2007-2008. Ada 5 aspek yang bisa menjadi tantangan, hambatan dan proyeksi ke depan dalam riset dan teknologi di Indonesia. 

Tentu ada banyak sekali hal lain yang belum direfleksikan dan dimunculkan terkait tema riset dan teknologi. Karena itu, pandangan dan pengalaman teman-teman penulis lainnya tetap menjadi hal yang berarti dan pasti berguna bagi saya dan pembaca lainnya.

Salam berbagi, 03.05.2021.

Baca Artikel aslinya , klik di sini: Pengalaman Pertama Riset Budaya: Bukan Cuma Teori dan Data, tapi Juga Rasa dan Keyakinan Halaman 1 - Kompasiana.com 

Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.