Mungkinkah Jokowi Sebagai High Risk Taker?


4 min dibaca

Suara keheningan | Ino Sigaze

Keberanian mengambil langkah-langkah kreatif harus diimbangi dengan kemampuan diri yakni keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional. Keduanya bisa dilihat dalam kebijakan-kebijakan yang terbukti relevan dan praktis sesuai zaman dan demi perkembangan dan kemajuan bangsa.

Jokowi adalah presiden pertama yang meraih rekor presiden paling sering reshuffle kabinetnya. Istilah reshuffle kabinet itu terasa betul-betul mendebarkan jantung.Pacuan detak jantung itu bukan cuma karena penasaran siapa yang akan digantikan atau dilengserkan saja, tetapi menantang psikis para Menteri untuk diam-diam bertanya diri, apakah kinerjanya selama ini baik atau tidak.

Ketegangan psikis akan menjadi lumrah, ketika desas-desus bahwa akan ada perombakan kabinet (reshuffle). Apakah ketegangan itu cuma dialami oleh para menteri?

Ketegangan psikis itu tidak hanya oleh para menteri, tetapi juga tentunya Jokowi sendiri. Mengapa suasana dan hawa ketegangan itu dialami Jokowi dan kabinetnya?

Ada 3 Alasan:

1. Ada alasan mendasar mengapa reshuffle kabinet itu dilakukan: kinerja buruk dan kebijakan yang cenderung memicu polemik

Perombakan kabinet tentu punya alasan mendasar. Apa alasan mendasarnya? Alasan mendasar terkait reshuffle kabinet tentu bermacam-macam dan umumnya lebih merupakan tafsiran dan penilaian dari pengamat politik. Ya, bisa saja karena kinerja di pemerintah yang dinilai buruk dan kebijakan yang cenderung memicu polemik. Dua alasan ini sebagai rujukan alasan mendasar untuk suatu reschuffle kabinet (Baca: Headline:Pengumuman, Reshuffle Kabinet Jokowi, tantangan kementerian Baru? dalam Liputan6.com, 29/4/2021).Dua alasan itu tidak disampaikan secara langsung oleh Jokowi. Tentu, Jokowi sebagai kepala pemerintahan memiliki hak prerogatifnya baik untuk mempertimbangkan alasan-alasan, maupun dalam reshuffle kabinet itu sendiri.

2. Apakah ada alasan politis lainnya? 

Sulit untuk dijelaskan, sangat mungkin bahwa Jokowi memiliki tujuan yang ingin dicapai secara lebih maksimal. Cita-cita setinggi langit itu diyakininya akan dicapai oleh orang-orang baru ataupun orang lama yang dipilihnya.

Saya lebih yakin reshuffle kabinet terkait dengan alasan pencapaian visi Indonesia Maju. Dalam mencapai visi Indonesia Maju, Jokowi bisa melakukan  berbagai cara dan strategi sesuai Pasal 17 Undang-Undang Dasar 1945, yang menyatakan:

1. Presiden dibantu oleh Menterei-Menteri negara

2. Menteri-Menteri itu diangkat dan diberhentikan oleh Presiden
3. Setiap Menteri membidangi urusan tertentu dalam pemerintahan

3. Jokowi gemar menciptakan dinamika untuk suatu kinerja yang sehat, cepat dan bermanfaat

Telaahan pribadi terkait kemampuan Jokowi dalam menciptakan dinamika untuk suatu kinerja yang sehat, cepat dan bermanfaat itu bisa dilihat dalam cara dan gaya kepemimpinannya.

Untuk menjelaskan hal ini, saya punya ilustrasi tentang seorang Indonesia di Jerman yang suatu hari dimintai membawa sepeda yang akan diperbaiki di tempat service.Sepeda itu punya seorang bule. Pemiliknya saja sudah berbadan tinggi hampir 2 meter, maka otomatis sepedanya juga tinggi. Jarak yang harus ditempuh sekitar 2 kilo meter.

Katanya, "kamu bisa mendorong sepeda ini sampai ke bengkel service." Ada alasan mendasar mengapa ia tidak bisa membawakan sendiri sepedanya ke bengkel service itu.Sepeda itu dalam keadaan baik. Namun, apakah mungkin untuk seorang Indonesia bisa membawakan sepeda besar dan tinggi itu ke bengkel dengan cepat? Bagaimana caranya agar bisa tiba di sana dengan cepat dan aman?
Orang Indonesia itu mulai berpikir tentang bagaimana agar sepeda itu tiba di sana dalam waktu singkat, dan dirinya juga aman. Mendorong ke bengkel itu pilihan yang biasa, namun pasti membutuhkan waktu yang banyak dan bisa sangat lama.

Karena itu, ia masih ditantang oleh pertanyaan yang sama, bagaimana caranya agar cepat tiba dan aman. Ia mulai mengevaluasi kemampuan dirinya. Katanya dalam hati, "Saya bisa naik sepeda, kenapa saya harus dorong sampai ke bengkel?" "Jika saya mendorong sepeda ini ke bengkel, ada kemungkinan bahwa saya membenarkan pikiran teman saya bahwa saya tidak bisa punya alternatif lain yang cepat dan aman", lanjutnya.

Pada akhirnya ia menemukan cara bagaimana menaiki sepeda yang tinggi itu. Ia berdiri di atas bangku lalu duduk di atas sepeda dengan dorongan awal sedikit lebih sulit, namun tetap bisa melaju dengan baik.  

Kakinya hanya bisa menyentuh sedikit saja pedal pada saat pedal itu pada posisi paling atas. Ia bisa mengendalikan kecepatan sepeda itu, karena ada rem yang bagus. Ia tetap menjaga keseimbangannya. 

Tantangannya adalah para pejalan kaki dan orang yang sedang bersepeda lainnya menertawakannya, karena sedang melihat pemandangan aneh. Mampukah dia menerima tertawaan orang? Seberapa penting pengaruh penilaian orang lain atas dirinya? 

Pikirannya tetap fokus, pokoknya tetap melaju dengan kecepatan lebih cepat dari orang yang berjalan kaki, sambil memikirkan kemungkinan-kemungkin seperti bagaimana cara berhenti ketika tiba pada tujuan. Bagaimana kalau di sana tidak ada bangku lagi.

Pada akhirnya, orang Indonesia itu dapat mencapai tujuannya dengan baik dan cepat. Pemilik sepeda terheran-heran, bagaimana temannya orang Indonesia itu bisa membawakan sepedanya dengan begitu cepat?Nah, ilustrasi ini mungkin tepat untuk menggambarkan keberanian Jokowi dalam kaitannya dengan reshuffle kabinetnya saat ini. 

Ada kemungkinan bahwa Jokowi adalah seorang High Risk Taker atau pengambil tindakan atau kebijakan dengan risiko yang tinggi.Masih segar dalam ingatan kita, bencana NTT belum benar-benar mereda, Jokowi memutuskan untuk berangkat ke sana. Ia berangkat tanpa ragu. 

Demikian juga bagaimana cerita Jokowi mengunjungi pedalaman Papua.Beberapa kebijakan dan keputusan besar lainnya seperti perpindahan ibu kota negara. Bagi saya tentu adalah keputusan yang berani, meskipun penuh risiko.

Mungkinkah Jokowi seorang High Risk Taker? Ya, bisa saja. Perhatikan kebijakan-kebijakan terkait pada masa pemerintahannya: Penguasaan mayoritas saham PT Freeport Indonesia (PTFI) oleh induk perusahaan pelat merah di sektor pertambangan PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Inalum (CNN Indonesia, 15/2/2019). 

Selanjutnya, Jokowi pernah juga bubarkan Petral (CNBC, 9/10/2019) dan tentu masih ada banyak lagi contoh  lainnya yang merupakan langkah-langkah besar untuk mencapai visi Indonesia Maju, yang ditempuhnya dengan berani, meski di mata para pengamat politik atau bahkan lawan politik sangat berisiko.

Nah, sekarang ini pun, Presiden Joko Widodo kembali menunjukkan siapa dirinya yang bagi saya adalah seorang High Risk Taker yang bijaksana terkait reshuffle kabinet kemarin Rabu, 28 April 2021. Mengapa?

1. Jokowi tidak melakukan reshuffle kabinet secara besar-besaran, tetapi cuma pada beberapa sektor tertentu. Artinya bahwa ada hal yang segera diubah dan dimaksimalkan pada sektor-sektor tertentu itu dan bukan untuk semua sektor.

Aspek urgensitas yang mau ditunjukkan Jokowi kepada seluruh rakyat Indonesia saat ini sangat jelas yakni sektor pendidikan, kebudayaan, riset dan teknologi yang menjadi bagian dari tanggung jawabnya Nadiem sebagai Mendikbud-Ristek. Sedang aspek lainnya adalah terkait sektor investasi yang menjadi tanggung jawabnya Bahlil Lahadalia.

Kedua bagaikan ilustrasi di atas, mereka diberikan sepeda besar yang tinggi untuk dibawa ke suatu tempat service agar sepeda itu menjadi lebih bagus, kuat dan aman. Bagaimana keduanya bisa membawa sepeda itu dengan cepat, tanpa ada risiko yang membahayakan diri mereka sendiri? 

Cara dan strategi apa yang ditempuh keduanya?Nah, itulah pekerjaan rumah yang diberikan oleh Jokowi sekarang kepada Nadiem dan Bahlil Lahadalia. Keberhasilan dan kesuksesan keduanya adalah kesuksesan dari Sang High Risk Taker. Juga bisa sebaliknya, kegagalan keduanya adalah risiko dari pengambil kebijakan yang tinggi  seperti itu. 

2. Seorang High Risk Taker memberikan simbol dan pesan politis

Efek dari reshuffle kabinet ini tentu sangat besar bagi kinerja kerja para Menteri yang lainnya. Para Menteri harus tahu bahwa dalam tanda petik Jokowi adalah High Risk Taker, yang bisa melakukan reshuffle kabinet mesti di mata banyak orang punya risiko besar.

Efek inilah yang penting agar para Menteri mulai mengevaluasi diri, bahkan belajar secara kreatif mengambil langkah-langkah berani untuk mencapai visi Indonesia Maju.

Demikian beberapa ulasan terkait reshuffle kabinet dan dalam hubungannya dengan indikasi Jokowi sebagai seorang High Risk Taker. Tentu, masih ada sekian banyak cara pandang dan penilaian lain terkait reshuffle kabinet pada Rabu, 28 April kemarin dan Jokowi sendiri.

Keberanian mengambil langkah-langkah kreatif harus diimbangi dengan kemampuan diri yakni keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional. Ya, orang perlu mempertimbangkan aspek risiko dari keberanian mengambil suatu kebijakan. Meskipun demikian, orang tidak harus menghabiskan waktu hanya untuk mempertimbangkan segala kebijakannya agar tidak berisiko.

Dukungan doa dan harapan tentu sangat besar dari rakyat Indonesia untuk Nadiem dan Bahlil Lahadalia. Semoga langkah-langkah kreatif kedua Menteri ini mengubah wajah pendidikan, kebudayaan, riset dan teknologi , bahkan investasi Indonesia menuju wajah cerah Indonesia maju. 

Salam berbagi, ino, 29.04.2021.

Baca Artikel aslinya di bawah ini: Mungkinkah Jokowi sebagai High Risk Taker? Halaman 1 - Kompasiana.com

Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.