Menjadi Pewarta Yang Berani dan Pendengar Yang Baik


3 min dibaca

Selain tema persaudaraan yang interkultural dengan sorotan refleksi yang mengarah kepada pesan formasi yang membawa pertobatan. Formasi yang tentunya mempersiapkan para calon dan sekaligus para formator menjadi interkultural. Sesi permenungan selanjutnya merujuk langsung kepada dua tokoh utama yang sangat penting dalam sejarah hidup para Karmelit, yakni nabi Elia dan Maria ibu Yesus.

Nabi Elia: Pewarta yang berani

Apa yang dilakukan Elia sering oleh penafsir dilihat sejajar dengan apa yang dilakukan Yesus. Mukjizat-mukjizat dilakukan Elia sampai pada pengakuan bahwa „seorang nabi besar telah hadir di tengah kita.“  Kebesaran sang nabi tentu tidak terpisahkan dari kesaksian hidupnya yang secara konkret nyata melalui pewartaannya yang berani. Sebagai contoh: Bagaimana kritik pedas Elia terhadap Ahab. Dari kisah ini, terlihat jelas sekali bahwa Elia memiliki keberpihakkan pada keadilan. Oleh keberpihakkan ini, maka Elia melawan ketidakadilan dengan cara lain pada zamannya. Bentuk kritik dan perlawanan Elia itu bisa dilihat sebagai suatu perbuatan atau suatu pelaksanaan Sabda Allah.

Refleksi tentang Elia dalam konteks zaman ini menjadi sangat aktual karena pada kenyataannya ketidakadilan dalam banyak hal masih saja ada. Beranikah kita mengkritik seperti kritikan nabi Elia? Kritikan nabi adalah bagian dari pelaksanaan Sabda Allah. Barangkali tema ini merujuk kepada tema pembicaraan tentang opsi keberpihakkan kita dewasa ini. Mungkinkan JPIC? Atau adakah pilihan lain yang bisa dengan tegas menghidupkan jiwa sang Elia sebagai pewarta yang berani? Karya-karya seperti apakah yang bisa mencerminkan kehadiran tokoh inspirator kita?

Maria: Pendengar yang baik

Aspek refleksi selanjutnya berkaitan dengan Maria. Figur Maria tidak hanya berpengaruh kuat kepada para Karmelit yang disebut sebagai Ordo Saudara-saudara Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel, tetapi juga pengaruh Maria begitu kuat kepada umat beriman. Pengaruh-pengaruh itu bisa terlihat dari karya para pelukis seperti Leonardo Da Vinci, dengan gambaran Maria yang sedang berlutut, sedang berdoa. Sedangkan pelukis menggambarkan peristiwa Maria menerima kabar dari malaikat Gabriel dengan sikap tubuh yang biasa. Namun ada juga yang memperlihat figur Maria sedang sibuk panen gandum. Perbedaan penafsiran seperti ini bisa saja terjadi, namun yang penting adalah bahwa sikap Maria menunjukkan sikap siap mendengarkan. Sikap seperti ini mirip dengan seorang petani zaman dulu yang setiap hari sibuk bekerja: pergi pagi-pagi ke kebun mereka, lalu pulang setelah matahari terbenam. Mereka lakukan apa setiap hari?

Maria dan keheningan

Sama seperti petani zaman dulu yang bekerja dalam diam, dalam keheningan, demikian juga Maria bisa dipahami mengalami hal itu. Dan oleh karena bekerja dalam keheningan, pendengaran mereka menjadi sangat peka pada suara-suara teristimewa terhadap alam dan suara Allah. Oleh karena kesadaran itu, maka Allah diyakini berjalan bersama-sama dengan mereka. Allah bahkan tahu semua apa yang terjadi di perjalanan. Kesadaran bahwa Allah selalu bersama mereka itulah yang namanya hidup dalam hadirat Allah. Telinga mereka mendengarkan apa yang disabdakan Allah. Hidup di hadirat Allah itulah yang memampukan kita bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik, mana yang menjadi miliki kita dan mana yang bukan milik kita. Mendengarkan dalam keheningan lalu mengikuti suara Allah itulah yang dilakukan nabi Elia dan Bunda Maria.

Maria: Pendengar yang beriman

Maria bukan cuma sebagai pendengar yang baik, tetapi juga pendengar yang beriman. Setelah Maria mendengar salam dari malaikat Gabriel, Maria bertanya dalam hatinya: „apa arti salam itu?“ Secara manusiawi dan menurut akal sehat, memang sulit diterima. Namun karena Maria memiliki iman, maka ia percaya bahwa Allah itu maha kuasa. Allah bisa melakukan apa yang di mata manusia itu tidak mungkin. Karena imannya kepada Allah, Maria berani mengambil resiko meskipun hal itu belum jelas baginya. Dan hal itu adalah tanda bahwa Maria juga adalah pelaksana Sabda Allah. Tegas P. Lukas Djua, SVD, „orang hanya bisa menjadi pelaksana Sabda Allah kalau orang itu percaya. Karena orang hanya melaksanakan apa yang dia percaya. Atau dengan kata lain: orang buat sesuatu itu karena dia percaya. Demikian juga perubahan kebiasaan itu hanya terjadi kalau kita percaya bahwa apa yang kita lakukan. Sebaliknya, jika kita tidak percaya, maka tidak akan berubah.“ Jadi sekali lagi, Maria adalah pelaksana dan pendengar Sabda yang baik. Bandingkan juga kisah Maria mengunjungi Elisabet saudaranya. Kisah selanjutnya yang juga menegaskan identitas Maria sebagai pendengar dan pelaksana Sabda yakni ketika Simeon menatang bayi Yesus dan ramalan Simeon tentang sebuah pedang akan menembus jiwa ibunya (bdk. Luk 2:34-35). Kata-kata Simeon itu baru dimengerti Maria tiga puluh tahun kemudian, ketika Yesus disalibkan dan Maria berada di bawah kaki salib.

Maria: Cepat mendengar, lambat bicara

Aspek lain yang penting adalah hidup Maria dalam bingkai tafsiran Yakobus. Hal yang pasti bahwa Maria bukan orang yang omong banyak, tetapi pelaksana Sabda. Ciri ini sekali lagi jelas terlihat dalam surat Yakobus 1:19: „setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.

Discernment: cepat dan tepat dari gerakan roh dalam hati

Pertanyaan penting adalah bagaimana kita mengikuti teladan nabi Elia dengan baik?Bagaimana kita mengenal kehendak Allah? P. Lukas Djua, SVD menawarkan solusi yakni „Discernment“: Discernment yang dimaksudkan di sini bukanlah discernment yang besar, tetapi discerment kecil setiap hari melalui keputusan yang diambil dengan sikap batin yang baik, cepat dan tepat berdasarkan kepekaan hati kita pada Sabda. Praktisnya, keputusan yang diambil misalnya oleh pimpinan tidak berdasarkan pada yang dibicarakan orang lain, melainkan pada gerakan roh yang dirasakan lewat hati, yakni hati yang menerima: „ketika aku orang asing, kamu memberi aku tumpangan.“ Demikian juga discernment itu terjadi di dalam komunitas. Hidup bersama dengan orang mendengar Sabda dan dipengaruhi oleh discernment dibawah pengaruh roh akan membangkitkan hal-hal positif dalam diri kita. Discernment yang cepat dan tepat itu berkaitan dengan situasi hidup di sekitar, seperti bencana alam, kemiskinan, pengangguran, dll. Bagaimana reaksi dan tanggapan kita. Pedoman refleksi yang biblis adalah apa yang kamu lakukan untuk yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. Pada prinsipnya discernment kita ditolong oleh Sabda itu sendiri. Lihat sekali lagi Yak 1:19-27 tentang pendengar atau pelaku firman.

Kasih dan kerendahan hati

Discerment kecil dalam kehidupan kita setiap hari dibuat agar kita memiliki keutamaan mendasar yaitu kasih dan kerendahan hati (bdk. 1 Kor 13:4-7) dan bahkan secara nyata Paulus menunjukkan bahwa kasih itu ditunjukkan dalam kerendahan hati (bdk. Flp 2: 1-11) Secara khusus pesan tentang kesatuan dalam kasih: „hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia“ (Flp 2:2-3): Kasih dan kerendahan hati dinyatakan secara istimewa oleh perempuan Sirovenesia dalam perjumpaan dengan Yesus. Tujuan untuk memperoleh belas kasihan Yesus, maka ia tidak peduli dengan kata-kata yang merendahkannya, ia bahkan merendahkan dirinya lagi.

Individualisme dan Egoisme: Tantangan bersama kita masa kini

Tantangan individualisme dan egoisme jalan bareng dengan radikalisme agama dan terorisme yang semakin diperparah oleh kemajuan media komunikasi yang tidak dengan bijaksana digunakan. Dampak langsung oleh kenyataan dunia sperti itu baik secara langsung maupun tidak langsung mengancam kehidupan persaudaraan. Dari tantangan ini sebetulnya Gereja Katolik memiliki senjata untuk melawan penggunaan media yang tidak bijaksana, yakni melalui dekrit Konsili Vatikan II: Inter mirifica yang mengajak Gereja untuk bersikap kritis terhadap pengaruh media sosial. Hal yang harus dihindari adalah bahaya kecanduan.

Bahaya modern dari kemajuan media adalah kita menggantikan suatu perjumpaan langsung dengan pertemuan virtual. Bahaya dan tantangan ini bisa diatasi dengan melakukan acara komunitas yang biasa seperti rekreasi bersama, pertemuan bersama, dan acara bersama komunitas lainnya. Beato Titus Brandsma menulis demikian: "Kita tidak boleh bersembunyi di dalam diri kita sendiri dan jatuh ke dalam keegoisan murni; kita harus mengerti bahwa kita dipanggil untuk membuat orang lain bahagia.” 1935

Sementara itu dalam khotbahnya, P. Lukas sekali lagi merujuk pada refleksi tentang persaudaraan dengan menyoroti fungsi kepemimpinan. Kepemimpinan itu adalah sebuah karunia untuk tugas pelayanan. Dan kunci dari kepemimpinan kristiani adalah melayani, memberikan seluruh hidupnya untuk Tuhan. Lakukan segala sesuatu sama seperti engkau lakukan untuk Tuhan, tanpa bersungut-sungut dan tidak berbantah-bantah. Bahkan secara lebih konkret cara pandang kita perlu berubah: Tamu datang, Tuhan datang.“ Hal ini adalah suatu perspektif tentang bagaimana melihat orang lain, bagaimana memberikan respek kepada orang lain.

Pertanyaan Refleksi

Pertanyaan penting diakhir permenungan P. Lukas Djua adalah apa artinya menjadi saudara Yesus? Sikap dasar mana yang dibutuhkan untuk menjadi pendengar yang baik sebagai saudara dalam komunitas? Kita perlu ingat bahwa sikap rendah hati itu adalah sikap yang paling mendasar dan sekaligus biblis: Mat 23:12. Dan barang siapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barang siapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.

Refleksi pada sesi renungan tentang Elia dan Maria bisa merupakan rujukan yang sangat menolong dalam membuat discernment untuk perjalanan masa depan kita, baik dalam konteks panggilan secara pribadi maupun secara bersama dalam komunitas atau sebagai Komisariat. Kita memiliki figur yang akrab dengan spiritualitas dan hidup kita. Tidak bisa tidak, kita harus belajar dan dalam keheningan terus mencermati dimensi-dimensi persaudaraan yang interkultural dengan berbasiskan pada refleksi terhadap inspirator kita nabi Elia, seorang pewarta yang berani mengkritik ketidakadilan sosial di masyarakat dan juga refleksi atas hidup dan spiritualitas ibu dan saudari kita Maria secara khusus sebagai pendengar dan pelaksana Sabda Allah. 

Rm. Ino, O.Carm

Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.