Mengapa Orang Suka Duduk pada Tempat yang Sama?


3 min dibaca

Suara Keheningan | Ino Sigaze

Mau baca Artikel aslinya: Mengapa Orang Suka Duduk pada Tempat yang Sama? Halaman 1 - Kompasiana.com 

Jangan menyesal, jika ada pergantian posisi, karena Anda sedang melangkah masuk menuju pintu perubahan. Di sana ada kemungkinan punya sudut pandang baru.

Tempat duduk  bukan saja sekedar sebuah posisi, tetapi lebih dari itu ada sejumlah alasan yang menjadi pertimbangan mengapa orang suka duduk pada tempat yang sama. Pengalaman membuktikan bahwa semakin tua usia seseorang, semakin sulit seseorang itu pindah tempat duduk. 

Nah, mengapa hal seperti itu terjadi? Apakah faktor usia sangat menentukan seseorang betah pada tempat yang sama? Apakah ada hal lainnya?

Selanjutnya saya ingin membahas tentang perjumpaan dengan orang-orang yang suka duduk pada tempat yang sama, baik di Indonesia maupun yang ada di Jerman beserta 3 alasannya.

1. Setiap orang punya rasa nyaman yang berbeda

Kalau seseorang perhatian dengan baik, maka akan dijumpai kebiasaan-kebiasaan manusia yang mungkin belum banyak diselidiki, mengapa orang suka duduk pada tempat yang sama. Pada tahun 2013 saya pernah spontan tertarik dengan fenomena duduk pada tempat yang sama. 

Ketertarikan itu berawal dari pengamatan pribadi pada orang-orang yang datang secara rutin untuk mengikuti kegiatan kerohanian.Aneh rasanya ada banyak tempat yang tidak ditempati, tetapi beberapa orang yang sama selalu memilih untuk duduk pada tempat yang sama. 

Oleh kenyataan itu berlangsung sudah lama dan sekurang-kurangnya 4 bulan saya amati, maka suatu waktu saya beri komentar.Mengapa orang yang datang ke tempat ini selalu duduk pada tempat yang sama? Beberapa orang terkejut dengan pertanyaan ini, bahkan tidak tahu mau jawab apa.

Sedangkan yang lainnya memberikan jawaban bahwa karena secara pribadi merasa aman saja pada tempat itu. Nah, ternyata orang duduk pada tempat yang sama itu karena rasa aman yang dirasakan secara pribadi.Pertanyaan selanjutnya adalah mengapa pada posisi itu dirasakan aman? 

Rasa aman yang dirasakan seseorang tentu bisa dijelaskan. Ada yang merasa aman duduk paling depan agar bisa melihat orang yang membawakan acara dengan lebih jelas.

Ada yang juga oleh karena alasan teknis lainnya seperti di bagian depan bisa mendengar lebih jelas apa yang dibicarakan. Namun, tetap juga ada bagi sebagian orang yang tidak tahu alasannya apa, tapi sangat senang dan nyaman pada tempat yang sama.

2. Setiap orang punya konsep tentang sudut pandang yang berbeda-beda

Tentang sudut pandang yang berbeda ini kemungkinan besar terkait dengan cara pandang di satu sisi dan terkait seni dalam memandang pada sisi lainnya.

Ada orang yang suka memandang objek dari posisi lurus. Ia bisa duduk di depan objek dan melihatnya dengan nyaman, karena itu dia akan lebih memilih duduk di depan pada posisi lurus dari posisi utama di depannya atau podium tempat para pembicara berdiri.

Tetapi sebagian orang lain, lebih senang kalau memandang dari posisi kiri atau dari posisi kanan. Benar juga sih, namanya keindahan itu adalah suatu penilaian subjektif. Pada saat saya merefleksikan tentang posisi duduk orang-orang yang sering datang ke tempat yang sama secara teratur, saya akhirnya menemukan dan menyadari bahwa setiap orang ternyata punya sudut pandang yang berbeda-beda tentang suatu hal. 

Sudut pandang itu berkait dengan kesan dan pesan yang sekurang-kurangnya nyaman untuk dirinya. Tidak heran jika ada pergeseran tempat duduk, umumnya terjadi kisruh, protes dan lain sebagainya.Ungkapan rasa tidak puas itu selalu ada saat orang tidak bisa berada pada tempat yang sama dengan sudut pandang yang sama. Menariknya bahwa pada tempat-tempat umum pun kebiasaan seperti itu, terkadang terjadi di luar kontrol kesadaran.

3. Duduk pada tempat yang sama itu ada hubungannya dengan konsep yang salah

Selain bahwa orang menemukan rasa nyaman untuk dirinya dan suatu sudut pandang yang menarik bagi dirinya, rupanya fenomena duduk pada tempat yang sama itu berkaitan dengan konsep yang salah.

Suatu hari teman saya duduk pada sebuah kursi tempat duduk yang biasanya pada hari Minggu kedua dan keempat ditempati oleh seorang pria berusia 60 tahunan.

Beberapa menit kemudian, pria itu datang berdiri di samping teman saya dan ia mengatakan "bangun, ini tempat saya." Teman saya merasa begitu aneh, karena rumah dan tempat itu punya kami, sedang pria itu adalah tamu yang menggunakan fasilitas kami. 

Teman itu mempersilahkannya duduk di sebelah karena di situ masih ada beberapa kursi yang belum ditempati. Awalnya dia menolak, namun karena teman itu bersikeras, maka pria itu pindah dari tempat duduk sebagaimana lazimnya ia duduk.

Konsep yang salah adalah duduk pada tempat yang sama tidak berarti memiliki kursi tempat duduk itu. Nah, dari pengalaman itu saya melihat ternyata ada dampak ketika orang duduk pada tempat yang selalu sama.

Dampaknya yang kurang menyenangkan adalah bahwa nalar kritis seseorang menjadi tumpul, bahkan orang tidak bisa membedakan mana yang namanya suatu posisi dalam konteks publik dan mana posisi yang menjadi milik pribadi.

Fenomena dari kejadian nyata itu memberikan gambaran bahwa sangat mungkin status quo itu berdampak buruk pada hilangnya kemungkinan untuk suatu dinamika dan perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik.Nah, seberapa sering teman-teman menyadari kecenderungan duduk pada tempat yang sama? 

Apakah teman-teman juga pernah duduk pada tempat yang sama dalam acara-acara yang rutin pada tempat umum? Di dalam ruang kuliah?Kebiasaan duduk pada tempat yang sama tanpa kesadaran akan pentingnya dinamika dan perubahan selalu mungkin membuat kita kaku dan cuma memiliki sudut pandang yang sama.

Demikian beberapa ulasan kecil terkait fenomena kehidupan manusia dan kecenderungan sosial yang terkadang memalukan karena punya konsep yang salah.Tiga alasan mengapa orang duduk pada tempat yang sama, tidak lain merupakan temuan pribadi yang bermaksud agar fenomena itu semakin disadari dan hidup menjadi lebih terbuka dan dinamis.

Bersikap terbuka pada dinamika dan perubahan-perubahan yang ada tentu merupakan yang terbaik bukan cuma untuk diri sendiri, tetapi untuk orang lain juga.

Salam berbagi, ino, 17.05.2021.

Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.