MEMBANGUN PERSAUDARAAN: PANGGILAN SEORANG MURID YESUS


2 min dibaca

Kita sadari sungguh misteri Inkarnasi, Sang Sabda yang menjelma menjadi manusia adalah misteri yang sungguh mengagumkan sekaligus mengharukan. Tuhan berkenan menjadi manusia, dan tinggal di antara kita (bdk. Yoh 1:14), dan menjadi salah salah satu di antara kita, menjadi saudara bagi kita. Konsili Vatikan II dalam Konstitusi Pastoral mengenai Gereja di Dunia Dewasa ini mengatakan, “Sesungguhnya hanya di dalam misteri Sabda yang menjelmalah misteri manusia benar-benar menjadi jelas.” (GS 22). 

Yesus dan Komunitas para Murid

Salah satu aspek penting dan menarik untuk kita simak, Yesus membangun sebuah komunitas persaudaraan. Inilah kelompok 12 rasul. Yesus menjadi pemimpin dan saudara bagi para murid-Nya. Pertama-tama, Ia memilih dua belas orang yang disebut-Nya rasul (bdk. Luk 6:13). Kalau dilihat dari nama-nama mereka yang disebutkan, mereka sungguh berbeda latar belakang dan karakter mereka. Namun Yesus menyatukan mereka semua. Ia membentuk sebuah tim karya, sebuah komunitas para murid.  Kendati demikian, Yesus sungguh membutuhkan waktu dan energi untuk membentuk mereka menjadi murid-Nya. Tidak jarang, Yesus dengan penuh “kebapaan” menegur dengan keras dan dengan penuh “keibuan” menasihati dengan lembut bagaimana seharusnya hidup sebagai seorang murid. Sebagai contoh:

Pada suatu kesempatan, Yesus mengingatkan mereka untuk bersikap hati-hati terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes. Para murid lalu memperbincangkan di antara mereka bahwa apa yang disampaikan Yesus itu karena mereka lupa membawa roti. Mereka salah paham. Padahal mereka baru saja menjadi saki mata mukjizat perbanyakan roti. Yesus lalu menegur mereka. “Mengapa kamu memperbincangkan soal tidak ada roti? Belum jugakah kamu paham dan mengerti? Telah degilkah hatimu? Kamu mempunyai mata, tidakkah kamu melihat dan kamu mempunyai telinga, tidakkah kamu mendengar?” (Mrk 8:17-18). 

Pada Malam Perjamuan Terakhir, tatkala Ia membasuh kaki mereka, Ia berkata, “Kamu menyembut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat bagimu.” (Yoh 13:13-15). 

Yesus dan Komunitas Karmel

Sebagai religius, kita juga hidup dalam sebuah komunitas. Kita hidup bersama dengan para saudara yang lain untuk membangun sebagai persaudaraan kontemplatif di tengah umat. Kita mau mengikuti Yesus Kristus dalam semangat Karmel. Regula St. Albertus menegaskan, “Berulangkali dan dengan pelbagai cara para bapa suci menetapkan bagaimana setiap orang harus hidup mengikuti Yesus Kristus dan setia mengabdi-Nya dengan hati yang murni dan hati nurani yang baik, dalam status hidup apapun atau cara hidup reigius apapun yang dipilihnya.” (R. 2). Melalui Patriach Yerusalem, Albertus, Tuhan Yesus menunjukkan bagaimana seharusnya kita hidup sebagai murid-Nya dalam Karmel, tiga nasihat injili, cinta akan keheningan dan kesunyian, hidup dari sabda, doa, persaudaraan dan kerja, kenakan senjata-senjata rohani, saling memperbaiki sebagai saudara dan kerendahan hati  (R. 4 – 23). Dan komunitas perdana di Yerusalem (Kis 2:41-47; 4:32-37) menjadi teladan hidup persaudaraan Karmel (bdk. Konstitusi 1995 no. 30). 

Yesus menjadi pusat dan arah kehidupan kita. Segala sesuatu yang kita hayati dalam komunitas Karmel selalu terarah kepada Pribadi Yesus Kristus. “Kami telah menulis ini kepada kamu dengan ringkas dan menetapkannya sebagai suatu pedoman hidup yang harus kamu hayati. Akan tetapi apabila seseorang berbuat lebih daripada ini, Tuhan sendiri akan memberikan ganjaran kepadanya pada waktu Ia datang kembali. Namun, hendaknya menggunakan penegasan sebagai penuntun kebajikan-kebajikan.” (R. 24).  Paus Yohanes Paulus II dalam Anjuran Apostolik Hidup Bakti mengatakan, “Jadikanlah hidup anda penantian penuh semangat akan Kristus. Majulah untuk menyongsong Dia seperti para perawan bijaksana yang berangkat untuk menyambut sang Mempelai.” (VC 110). 

Dan sesungguhnya, inti pembinaan dalam Karmel terletak pada sebuah proses formasi yang pada akhirnya menuju transformasi,  menjadi serupa dengan Kristus. RIVC 2013 menegaskan, “Komitmen untuk mengikuti Yesus Kristus dengan seluruh keberadaan kita dan melayani Dia ‘dengan setia, dengan hati yang murni dan dedikasi total’ merupakan suatu komitmen untuk hidup di dalam Dia, dengan membiarkan Dia membimbing pikiran, perasaan, perkataan, perbuatan dan persaudaraan kita serta pemakaian harta benda, sehingga segala sesuatunya berasal dari Sabda-Nya dan dilaksanakan di dalam Sabda-Nya…. Maka, komitmen untuk menghayati suatu hubungan dengan Kristus secara mendalam dan menjadi serupa dengan-Nya merupakan inti utama pembinaan kita.” (RIVC 6). 

Akhirnya ….

Sebagai Karmelit, kita harus sadar bahwa kita tetaplah seorang murid. Sebagai murid, kita harus senantiasa belajar. Hal itu,  kita ugkapkan dengan kemauan untuk mendengarkan dan kesediaan untuk melaksanakan apa yang diminta oleh Yesus. Maria, Bunda Penasihat yang baik mengingatkan kita, “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!” (Yoh 2:5). Kita juga diminta untuk menghayati pedoman hidup Karmel yang telah diberikan kepada kita. Regula lalu menggarisbawahi, “Jalan ini suci baik dan baik: tempuhlah jalan itu.” (R. 20).

Oleh: P.  Stef. Buyung Florianus, O.Carm

Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.