Kata Hati tentang Ganjar dan Puan dalam Irama Politik PDIP


3 min dibaca

Suara Keheningan | Ino Sigaze

Baca Artikel aslinya di sini: Kata Hati tentang Ganjar dan Puan dalam Irama Politik PDIP Halaman 1 - Kompasiana.com 

"Sayang Puan Maharani , sayang Ganjar Pranowo, lebih baik Ganjar daripada Puan", ini hanya kata Hati.

Politik sudah dikenal dengan ungkapan-ungkapan yang merakyat bahwa kadang susah ditebak. Meskipun susah ditebak, tapi di mata rakyat Indonesia wajah pemimpin itu tetap jelas.Wajah politik dan wajah pemimpin rupanya berubah-ubah, namun pada akhirnya rakyat yang cerdas tidak akan pernah menaruh simpati pada partai apapun, jika kata hati mereka di sana tidak ada figur yang menjadi idaman mereka.

Sebagai rakyat Indonesia yang berada di luar Indonesia saya mengenal Puan Maharani dan Ganjar  Pranowo cuma melalui media. Saya mengenal Puan sebagai cucu Presiden pertama republik Indonesia, namun jika jujur apa kata hati tentang Puan, rasanya cuma ada dilema jika harus menggeser Ganjar.

Sekali lagi ini tentang kata hati, rasa dan gema yang terdengar di luar Indonesia tentang Puan dan Ganjar. Ada 4 kata hati yang bisa diulas terkait Puan dan Ganjar:

1. Puan dan Ganjar punya nama baik yang menyemburkan aroma dan rasa tentang Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). 

Ketika Puan dan Ganjar disandingkan dengan posisi tertentu untuk Indonesia kedepannya, kata hati sudah mulai goyah. Goyah karena orang-orang luar seperti saya yang tinggal di Jerman lebih tertarik dengan gagasan kritis tentang seorang pemimpin bukan karena titisan para dewa atau punya hubungan darah dengan tokoh dunia, tetapi lebih karena kenyataan keterlibatan untuk rakyat yang bisa dilihat di layar media.

Puan atau Ganjar di mata rakyat Indonesia itu sudah sangat jelas dan nyata, jika benar-benar rakyat itu waras dan jujur mendengar apa kata hati mereka. Pemimpin idaman rakyat Indonesia saat ini adalah seorang yang bisa datang dari partai mana saja asalkan bisa gesit dan tanggap terhadap kebutuhan rakyat.

Puan lebih gesit atau Ganjar lebih menguasai media? Puan lebih aktif atau Ganjar lebih mudah komunikasi dengan rakyat biasa di jalan-jalan dan di pasar. Kata hati orang luar sangat jelas bahwa Ganjar jauh lebih dekat dengan rakyat.

2. Kata hati tentang pertimbangan partai PDIP

Generasi milenial saat ini, sebenarnya punya selera yang sama. Selera mereka adalah punya seorang Presiden yang santai dalam tutur kata, dekat dengan rakyat, jujur berpihak pada kesejahteraan rakyat, tetapi juga tegas dalam melawan korupsi, kolusi dan nepotisme dan segala macam urusan birokrasi yang berbelit-belit.

Rupanya masa depan Partai di Indonesia umumnya dan masa depan PDIP khususnya sangat ditentukan oleh kejelian menentukan kader partai. Rakyat mungkin tidak loyal dengan PDIP, bahkan tidak menaruh simpati lagi, jika figur idaman mereka tidak lagi berada di partai PDIP.

Kebesaran Partai bisa jadi sangat ditentukan dari orang-orang di dalamnya atau sangat dipengaruhi oleh kader-kader yang betul merakyat dan bukan karena alasan-alasan tidak rasional lainnya.

Ini soal kata hati, rakyat Indonesia sudah sangat cerdas memilih pemimpin. Kriteria mereka tidak akan sama dengan kriteria yang dimiliki Partai. Rakyat punya selera dan kepentingan sama, agar mereka sejahtera, bisa dekat dengan pemimpinnya.Tentu beda dengan kepentingan Partai. 

Di sana ada kaitannya dengan kekuasaan, nama dan popularitas. Semua bisa-bisa saja, tapi jangan lupa pemimpin pilihan rakyat adalah pemimpin yang pernah menyentuh hati dan tangan rakyat, bukan dengan raut wajah ramah dan sejarah panjang lainnya.

Pemimpin yang menyentuh hati rakyat sebenarnya bisa dilihat dengan mudah, ya pemimpin yang rajin blusukan, kunjung rakyatnya di mana saja. Ini lagi-lagi kata hati: Jangan anggap sepele lho blusukan ala Ganjar. Itu blusukan cinta dan investasi ketokohan yang lahir dari hati. Jujur deh, rakyat Indonesia benar suka kayak gitu.

3. Kejatuhan PDIP akan tiba, ketika gaya feodalisme menjadi prioritas pejabat Partai

Terasa bahwa lebih baik berjiwa besar dengan merangkum kader-kader seperti Ganjar dan Ibu Risma ketimbang memperhitungkan pencalonan Puan dengan godaan nama besar cucu Presiden pertama dan anak dari mantan Presiden Megawati.

Nama besar berdasarkan garis keturunan tanpa diimbangi dengan popularitas kerja nyata yang dekat dengan rakyat, bergaul di kalangan rakyat, sebetulnya bisa menjadi lampu suram bagi masa depan Partai PDIP. Ini hanya kata hati, sangat mungkin terjadi bahwa ketika hembusan nafas feodalisme itu terasa di kalangan publik, maka akan memperbesar ruang keraguan di kalangan bawah.

Belum lagi, kalau dilihat desas desus pasangan pencalonan Presiden 2024 nanti Prabowo gandeng Puan. Publik punya mata yang sudah jeli melihat dan pandai merekam bahwa sejarah kegagalan Prabowo dalam pencalonan beberapa kali sebelumnya, patut menjadi bumbu penyedap keraguan yang sudah pernah ada.

Kata hati, jangan-jangan ini ada semacam politik bantai partai, tapi dengan wajah koalisi yang berbulu domba. Tentu, rakyat Indonesia akan tetap menjadi pemilih cerdas yang tetap meneropong di mana keberadaan figur-figur yang benar-benar berbobot dan dapat dipercaya.

4. Ada kemungkinan juga bahwa tiupan angin ketersingkiran Ganjar ini adalah bagian dari strategi Partai

Sebuah strategi yang dipakai untuk menuai pendapat dan gagasan tentang selera rakyat kebanyakan dalam konstelasi perjodohan pasangan pemimpin nanti.

Jika benar hal itu adalah strategi Partai, maka harus diakui luar biasa. Politik ternyata menggunakan instrumen psikologi. Artinya, rakyat Indonesia itu cerdas dan akan sangat menaruh simpati pada orang baik seperti Ganjar, yang pernah ditolak. 

Logikanya, jika orang baik semakin ditolak oleh Partai, maka orang itu sebenarnya semakin laku dan dipercayai oleh rakyat kebanyakan. Sangat mungkin, jika itu bukan sebuah trik politik PDIP, maka Ganjar akan menjadi rebutan Partai-Partai lainnya. Jika itu benar sebagai suatu trik Politik PDIP, maka permainan elit Partai PDIP itu merupakan strategi yang hebat, karena akan memeroleh dua keuntungan:

Pertama, kebijakan elit Partai akan dikagumi oleh kebanyakan rakyat Indonesia yang sama-sama mencintai Puan dan Ganjar. Kekaguman pada Partai dan kader-kader akan datang bersamaan, saat elit Partai menampilkan jiwa besar mereka dengan mengubah cara pandang, merangkum kembali Ganjar.

Puan seharusnya dengan rendah hati bersikap objektif, karena feodalisme pasti hanya menyibakan aroma tidak sedap kepada seluruh rakyat di tanah air.  Ini kata hati, tidak harus bahwa garis keturunan Presiden selalu akan menjadi Presiden. 

Akan jauh lebih menarik, garis keturunan Presiden yang telah menjadi politikus itu menjadi pendukung orang-orang biasa, tetapi dengan kualitas terpuji seperti Ganjar dan beberapa tokoh lainnya.

Kedua, Partai menjadi semakin yakin dengan kader mereka sendiri seperti Ganjar di satu sisi dan  keterbukaan Puan untuk keluar dari godaan dan rayuan feodalisme itu dapat dilihat oleh seluruh rakyat Indonesia pada sisi yang lain.

Pada gilirannya, permainan seperti ini bisa sama-sama saling menguntungkan karena menanamkan jiwa besar dan sikap kerendahan hati secara politis yang bisa mendatangkan kepercayaan publik, bahkan bisa saja elektabilitas antara Puan dan Ganjar menjadi lebih jelas.

Demikian ada 4 poin kata hati yang bebas tanpa kepentingan politik, selain berusaha membaca gejolak politik dari kata hati yang bebas dan mengungkapkannya dalam tulisan kecil ini. 

Salam berbagi, ino, 26.05.2021.

Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.