Dari Nusa Bunga ke Nusantara: Percikan Refleksi Perjalanan para Karmelit Komisariat Indonesia Timur


4 min dibaca

Coretan cerita tentang para Karmelit Indonesia tidak bisa terpisah dari sejarah kehadiran dan karya para Karmelit sejak awal di Flores Nusa Bunga pada tahun 1969. Momen sejarah pesta emas 50 tahun kehadiran para Karmelit itu telah dirayakan tahun lalu (2019), dan perjalanan setelah meraih emas itu terhubung secara erat pula dengan usia Provinsi Karmel Indonesia yang tahun depan akan memasuki usia satu abad. 

Perubahan angka menandai adanya dinamika. Dinamika yang terjadi dalam sejarah kehadiran dan karya para Karmelit Indonesia bisa membuka mata dunia sekurang-kurangnya tentang bagaimana misi dan spiritualitas Karmel itu di bawa ke tengah umat mulai dari Nusa Bunga ke Nusantara bahkan mungkin berkembang ke misi yang lebih mendunia. 

Dinamika kehadiran dan karya para Karmelit di Indonesia Timur

“Allah telah berkarya dan terus berkarya bersama kita” Mungkin banyak orang sulit percaya dengan pernyataan ini: „Allah telah berkarya dan terus berkarya bersama kita.“ Karena itu, saya ingin memperlihatkan secara singkat bagaimana tahap perkembangan Karmel Indonesia Timur sejak tahun 1969, berdasarkan referensi resmi sejarah Karmel Indonesia Timur dalam buku yang ditulis Romo Edison R.L. Tinambunan, O.Carm dan secara khusus dalam dokumen tentang “Menuju Provinsi “Titus Brandsma” Indonesia Timur – Laporan Panitia Ad Hoc”

1969 : Perintisan Awal: Paroki “Salib Suci”, Mauloo

1993 : Pendirian Rumah Formasi di Maumere 

1993 : Postulat Beato Dionisius 

2001 : Postulat Mataloko 

1994 : Novisiat Beato Dionisius 

1996 : Biara Ante Pastoral Beato Titus Brandsma 

2002 : Novisiat St Teresia dari Lisieux 

2002 : Beato Dionisius 2000 : Biara Post Pastoral Beato Redemptus 

2014 : Rumah baru Biara Post Pastoral Beato Redemptus

Pemimpin dan Kepemimpinan

Pertumbuhan dan perkembangan Karmel Indonesia Timur memengaruhi juga persoalan pemimpin dan kepemimpinan.

(1) Superior Regularis Mauloo (1969)

(2) Regio Timur dan Prior Regio (1994) 

(3) Komisariat Provinsial dan Komisaris Provinsial (2006) 

Perkembangan kehadiran dan karya Para Karmelit di wilayah Indonesia Timur ini sungguh mengagumkan. 4 Oktober 2019, Karmel boleh merayakan dengan penuh sukacita dan rasa syukur emas (50 tahun) kehadirannya di Indonesia Timur, yang bermula dari sebuah paroki: Salib Suci, Mauloo (4 Oktober 1969). 

Karya Parokial lainnya: 

1)    Paroki Salib Suci Mauloo (4 Oktober 1969)

2)    Paroki MKK Bu Nuaria (2003) 

3)    Paroki Kererobho (2018) 

4)    Paroki Habibola (2017) 

5)    Paroki Kaimana (2001) 

6)    Paroki Longgo (2018) 

7)    Quasi Paroki Dataran Tinggi Munde (2019)

8)    Toraja Utara (2019)

Karya di Bidang Spiritualitas Karmel

Karmel terus menghadirkan diri dan membagikan karismanya lewat pelayanan di bidang Spiritualitas. Ada beberapa rintisan dan kesaksian para Karmelit untuk membagikan kekayaan rohani lewat hidup pertapa dan pelayanan retret dan rekoleksi. 

1.     Pondok Pertapaan P. Cyprianus Verbeek di Mageria (1983) 

2.     Rumah Doa Nabi Elia (1994)

3.     Padang Gurun Para Frater Kelikeo, Nuaria (1995)

4.     Rumah Retreat Baturiti (2007) 

5.     Penerbit Titus Brandsma (2014) 

6.     Kampoeng Rohani Nilo (2015) 

Karya Persekolahan

Karya pendidikan (persekolahan) pun menjadi pilihan Karmel dalam hidup dan pelayanannya. Pendidikan pun mulai dari pembinaan usia dini sampai dengan pendidikan Tinggi. Awalnya, sekolah di Flores menjadi anggota Yayasan Sancta Maria di Malang (perwakilan Flores), tetapi kemudian mendirikan yayasan tersendiri: Yayasan Santa Maria Karmel: 

1.     SMP Alvarez (1993) 

2.     TK Poli-Pawe Alvarez (2003) 

3.     SMA Alvarez (2002) 

4.     SMPK Flos Carmeli – Kererobho (2017) 

5.     SMAK Monte Carmelo, Maumere (2019) 

6.     Kursus Teologi (2019) 

Tuhan menyediakan

Seperti apakah dinamika kehadiran dan karya para Karmelit itu sendiri, tidak bisa lagi dengan gampang dan mudah menilai tanpa melihat sejarah dari waktu ke waktu. Demikian juga keputusan baru untuk menjadi Provinsi yang baru pun tidak bisa dengan mudah tanpa pendalaman dan discernment panjang dan mendalam. Proses melihat sejarah kehadiran dan karya dari awal itu merupakan titik tolak yang tepat yang membuahkan keyakinan bahwa terutama dan pertama adalah yakin bahwa Tuhan bersama kita dalam seluruh kehadiran dan karya kita dari awal sampai sekarang. Keyakinan seperti ini berakar dalam sejarah. Secara khusus dalam sejarah hidup dan karya dari Santa Teresa Avila. Dalam suratnya kepada Doña Johanna de Ahumada di Alba de Tormes, Ávila, Biara Inkarnasi, 27 September 1572 terkait berbagai pesan yang diberikan oleh Santo Yohanes dari Salib ke Biara Inkarnasi. Dalam surat itu Santa Teresa mengungkapkan kekhawatirannya, namun diakhiri dengan semoga Tuhan menolong.

Dinamika hidup dan karya para Karmelit berhadapan langsung dengan dinamika dunia umumnya dan krisis Covid-19 yang melanda dunia hampir setahun ini. Tentu pengalaman kekhawatiran umumnya seperti yang dialami Santa Teresa dari Avila dialami juga oleh semua orang saat ini, termasuk secara khusus para Karmelit Indonesia Timur yang hendak mengambil langkah baru ini. 

Lanjut usia dan karya Tuhan

Percayakah kita bahwa Tuhan menolong kita dan Tuhan akan menunjukan berkat-Nya atas kita? Referensi sejarah sekali lagi patut menjadi rujukan. Provinsi Karmel Indonesia sebentar lagi berusia 100 tahun. Usia 100 tahun adalah usia tua yang kalau diumpamakan dengan manusia, maka usia ini sudah telah lanjut umurnya. Meskipun demikian, kisah lanjut umur dan mempunyai keturunan atau anak bukan merupakan kisah asing di telinga kita. Kisah Zakaria dan Elisabeth bisa menjadi rujukan refleksi ini. Mereka tidak mempunyai anak, sebab Elisabeth mandul dan keduanya telah lanjut umurnya (bdk. Luk 1:18) Akan tetapi, berkat Tuhan, pada usia tersebut, mereka masih dapat memperoleh anak biologis, tanpa teknologi inseminasi buatan manusia. Atas dasar pengalaman Zakharia dan Elisabet sebetulnya kita bisa mengatakan bahwa „Jika Tuhan mau, maka semuanya akan menjadi mungkin, meskipun usia Provinsi Karmel Indonesia (pengantin lanjut usia) saat ini sudah 100 tahun.“

Provinsi baru dan Tanda iman

Keberanian Provinsi Karmel Indonesia untuk percaya pada tawaran „akan melahirkan anak“ = melahirkan Provinsi baru bisa merupakan tanda iman dan juga merupakan kenyataan mukjizat yang terjadi sekarang ini. Bandingkan juga kisah Sara dan Abraham (Kej 17; 20). Kisah-kisah biblis ini diangkat dengan tujuan untuk mengatakan bahwa iman menjadikan sesuatu yang tidak ada menjadi ada. Ada kekuatan dalam kata-kata. Kisah lain adalah tentang Abraham menamai tempat di gunung Moria itu sebagai „Tuhan menyediakan.“ (Kej 22:14).

Tafsiran tentang kekhawatiran

Setiap dinamika selalu bersamaan dengan komentar dan pertanyaan. Dalam bingkai refleksi tentang Abraham dan Ishak. Kita bisa saja mengatakan kisah itu terjadi untuk menguji iman Abraham. Demikian juga sekarang, ambang keputusan Provinsi Karmel Indonesia yang sedang hamil besar dan hendak melahirkan ini, toh muncul juga pertanyaan: apa kekuatanmu? Bagaimana tentang kekuatan keuanganmu? Pertanyaan ini bagi saya mirip sekali dengan pertanyaan Ishak sang anak dalam perjalanan ke gunung Moria bersama ayahnya Abraham: Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu? (Kej 22:7) Pertanyaan ini berangkat dari kekhawatiran Ishak karena di depan mata tidak ada anak domba yang secara fisik terlihat mata secara langsung. Ishak khawatir, bagaimana bisa hidup kalau hanya ada api dan kayu. Api dan kayu dalam tafsiran saya terkait konteks perkembangan Karmel Indonesia adalah cinta dan harapan. Karena itu, pertanyaan Ishak adalah pertanyaan yang merujuk kepada gagasan tentang iman. Dan hal itulah yang dijawab Abraham: „Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku.“ (Kej 22:8).

Gagasan tentang api, kayu dan anak domba bisa saja merupakan simbol-simbol metaforis tentang kharisma Karmel itu sendiri. Kita tidak bisa hanya mengandalkan doa dan persaudaraan, atau kita tidak bisa juga hanya mengandalkan persaudaraan dan pelayanan atau juga kita tidak bisa hanya mengandalkan doa dan pelayanan saja, ketiga-tiganya kita harus miliki dan gabungkan bersama. Ketiganya bagai tungku yang menopang periuk dinamika hidup kita di tengah dunia ini. Tentu gagasan seperti ini bisa direfleksikan lebih lanjut dalam konteks yang lebih konkret seperti ini: Komunitas Formasio calon imam, tidak bisa pisah dari komunitas sekolah dan juga komunitas karya-karya parokial. Kita perlu satu arah dan cara pandang dengan cinta, iman dan harapan yang sama, dengan respek yang positif entah sebagai api, kayu dan anak domba. Demikian juga kerjasama kita dengan provinsi-provinsi lain tetap merupakan pilar hubungan yang sangat penting dan tidak bisa diabaikan.

Penutup 

Beberapa sorotan dalam tulisan ini merupakan refleksi pribadi setelah mengikuti Retret dan Konvensi Karmel Komisariat Indonesia Timur di Mageria 8-13 November 2020. Gejolak cemas sang ibu yang hendak melahirkan dan kekhawatiran sang bayi yang hendak melihat dunia dengan tangisan awal adalah kenyataan kita. Ibu yang baik tidak mungkin meninggalkan anaknya. Jeritan bayi saat belajar merangkak lalu berdiri dan berjalan adalah juga kisah setiap anak manusia. Bertumbuh dan bertambah besar lalu memiliki pilihan sendiri adalah juga cerita nyata. Yang tidak bisa dilupakan adalah bahwa pernah sekian lama berada dalam kandungan sang ibu dan kita berasal dari satu asal, satu tubuh dan satu darah.


Rm. Ino, O.Carm

Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.