Cara Menanggapi Pertanyaan: "Was Gibt Es Neues" dan Cara Mengubah Toxic People


4 min dibaca

Suara Keheningan | Ino Sigaze

Artikel aslinya bisa baca di sini: Dari "Was Gibt Es Neues" Ke 2, Cara Mengubah Toxic People dan Gosip Kaleng Halaman 1 - Kompasiana.com 

Saya percaya, jika semakin banyak orang bisa menyerap betapa berartinya orang lain dalam hidupnya, maka gejala Toxic people dan gosip kaleng itu akan kerdil dan mati.

Pertanyaan "was gibt es Neues?" atau apakah ada sesuatu yang baru adalah pertanyaan yang paling sering diajukan oleh teman kerja atau teman dalam satu komunitas. Sebenarnya pertanyaan seperti itu wajar saja, namun ketika pertanyaan itu menjadi suatu pertanyaan khas dari seseorang, maka terasa ada hal yang aneh.Beberapa tahun saya amati, ternyata pertanyaan itu ada hubungannya dengan kecemasan di satu sisi dan kecurigaan pada sisi yang lainnya. 

Tidak hanya itu, makna dan rasa dari pertanyaan "was gibt es Neues?" itu menjadi semacam ajakan untuk berdiskusi tentang sesuatu.

Pertanyaan yang mengajak teman untuk mendiskusikan sesuatu itu pada prinsipnya sangat baik. Namun, anehnya lama kelamaan diskusi itu seringkali merambat sampai kepada tema-tema lain yang sangat privat, bahkan menyebut nama tertentu.

Pada prinsipnya bagi saya diskusi dengan ciri seperti itu sungguh tidak nyaman, apalagi menyebut nama orang-orang yang kita kenal dan nama orang yang juga dekat dengan kita. Kategori diskusi seperti itu mungkin lebih tepat disebut sebagai "gosip kaleng." 

Gosip itu sebetulnya menguasai sebagian besar manusia di bumi ini. Gosip kalau bisa disebut virus, maka virus itulah yang sering dan paling mudah menaklukan nalar manusia.Entahlah kenapa orang suka bergosip. Mungkin awalnya orang tidak bermaksud untuk bergosip, namun jika diskusi bertele-tele, maka kecenderungan untuk bergosip itu sangat potensial. 

Gosip yang dimaksudkan dalam konteks ini adalah suatu pembicaraan antara beberapa orang tentang seseorang lain, baik itu orang yang serumah, tetangga, atau grup sebelah, bahkan mungkin tentang orang lain yang jauh dari kita.

Fenomena peralihan yang begitu mudah dari diskusi ke gosip itu sangat ditentukan oleh kecenderungan seseorang yang umumnya sangat mudah tersinggung atau empfindlich, bahkan terlalu kuat dengan mengandalkan rasa. 

Tidak heran beberapa kali sudah bisa diterka bahwa jika seseorang itu kembali dari bepergian jauh, maka pertanyaan pertamanya adalah "was gibt es Neues?" Apa makna dari pertanyaan "was gibt es Neues?"

Makna dari pertanyaan itu sebenarnya menjadi tidak bermakna lagi untuk orang-orang dekat atau orang yang sudah mengenal karakter seseorang. Padahal, pertanyaan itu untuk sebagian orang baru merupakan tanda perhatian dan rasa ingin tahu tentang suatu keadaan.

Persoalan makna dan keseringan orang mengucapkan kata-kata atau pertanyaan yang sama akhirnya berdampak pada kesan nir makna, bahka bisa dikatakan oberflaechlich atau dangkal. Apalagi kalau keseringan seseorang dalam bertutur kata dan bersikap terkait hal yang sama sudah bisa didefinisikan sebagai Toxic people, maka pertanyaan positif apapun akan ditanggapi sebagai sekedarnya saja atau bisa menjadi basa basi dangkal. 

Sambil mengacu pada tulisan dari Kompasianar I Ketut Suweca yang memberikan definisi terkait istilah "Toxic People" bahwa terminologi ini menggambarkan keadaan seseorang yang punya kecenderungan atau "suka menebarkan sikap dan perilaku negatif."

Baca selengkapnya: "Toxic People", Begini Ciri-ciri dan Cara Menghadapinya!

Saya juga melihat bahwa gejala Toxic people itu ada di dalam pertanyaan was gibt es Neues. Mengapa? Berkali-kali ketika orang yang sama mengajukan pertanyaan itu, akhirnya ditanggapi secara sinis, karena rasa dari pertanyaan itu hanya memicu untuk gosip atau Toxic people.

Tentu, pertanyaan "was gibt es Neues?" kehilangan makna hanya karena sebagian orang dalam lingkup pergaulan tertentu telah mengenal konteks dan karakter seseorang sampai dengan kecenderungan negatifnya.Bagi saya, Toxic people sangat erat hubungannya dengan gosip kaleng. Mengapa? Tentu, saya berangkat dari pengalaman pernah terjerumus ke dalam Toxic people dan gosip kaleng.

Itulah kenyataanya bahwa keasikan ngobrol bersama teman bule, kadang larut dalam diskusi dan pembicaraan yang tidak sadar sebenarnya secara tidak langsung adalah sebuah Toxic people dan gosip.Toxic people dan gosip kaleng rasanya beda-beda tipis, karena berisikan pembicaraan tentang kekurangan orang lain.

Anehnya, tema-tema seperti itu justru dirasakan nikmat dan dinikmati bukan saja orang Indonesia, tetapi juga teman-teman dari beberapa negara juga sama.Jadi, gejala Toxic people dan gosip itu sebenarnya gejala global manusia dengan cara baru di zaman modern ini. 

Nah, bagaimana cara mengubah Toxic people dan gosip kaleng? Ada 2 cara yang bisa saya bagikan:

1. Menulis topik diskusi kaleng dan menelaahnya dari sudut pandang yang lebih luas dan objektif

Pada prinsipnya, secara pribadi saya yakin cara mengubah Toxic people yang efektif adalah dengan menulis topik itu. Pendalaman topik yang dianggap "kaleng-kaleng" itu sangat membantu seseorang untuk menata pikirannya sendiri.

Cara pikir yang terlalu fokus pada hal-hal buruk diarahkan atau dituntun secara otomatis dalam proses menulis ke ranah objektif untuk dikonsumsi publik. Tuntutan objektivitas dan pembaca umum itu membentuk seseorang untuk memerhatikan kode etik.

Kode etik yang secara tidak langsung dibekukan dari cara menulis adalah berbicara terlalu personlich atau pribadi, apalagi  menyudutkan orang-orang tertentu. Bahkan membahas keburukan orang lain. 

Menulis topik kaleng-kaleng sehari-hari yang sering menyeret orang ke Toxic people dan gosip sebenarnya proses penting yang mengubah cara pandang orang. Kendalanya adalah apakah orang berani jujur dengan dirinya? 

Kemudian berani berjuang menolong dirinya dengan cara-cara yang positif. Bisa saja, orang menyadari diri bahwa punya gejala Toxic people dan suka bergosip ria, namun sering mengalah karena pembenaran diri yang terlalu kuat.

2. Ini soal konsep tentang orang lain sebagai saudara

Pada tahun 2008 saya pernah dikejutkan oleh komentar seorang senior saya di kamar makan. Waktu itu, duduk beberapa orang di kamar makan sambil membicarakan tentang seseorang. 

Biasalah namanya teman seangkatan, kalau berjumpa, maka selalu bertanya tentang teman yang tidak ada saat itu. Pertanyaan sederhana, mengapa ia tidak datang ke suatu acara, berlanjut mengalir begitu lancar sampai pada ke hal-hal lainnya yang sepantasnya tidak boleh dibicarakan pada waktu itu. 

Itulah sulitnya, kriteria kerahasiaan kadang beda-beda. Bagi teman angkatan, kadang bukan rahasia, namun bagi orang lain itu sudah keterlaluan atau berlebihan.

Ketika asyik menikmati tema tentang keburukan teman, kami semua sebetulnya tidak sadar bahwa kami semuanya sudah terbawa arus Toxic people dan gosip kaleng. Dengan tenang seorang senior mengatakan begini, "Ya, mau bagaimana lagi, itu kan saudara kita." 

Terdengar begitu sederhananya kata-kata itu. Namun, terasa begitu ampuh memecah gelombang riuh tentang kedangkalan konsep kami pada waktu itu.Semua terdiam, sekejap ruangan makan dirampas keheningan tidak terduga. Terpekur tunduk, malu dan terkejut. Tersadar bahwa dia yang dibicarakan adalah orang yang pernah menjadi bagian dari kehidupan kami masing-masing.

Dia pernah menjadi penolong dalam satu sesi kehidupan kami yang lupa diri itu. Dia adalah saudara yang pernah berjasa dengan caranya, melalui kata-kata sebagai teman, entah kapan dan di mana.

"Ya, mau bagaimana lagi, itu kan saudara kita," kata-kata itu, saya ulangi dalam hati di kesunyian ruangan kamar makan waktu itu. Rasa bersalah, maaf bahkan tobat lahir dari kedalaman hati yang sebenarnya baru saja mendarat di tepi yang begitu dangkal tentang siapakah yang lain itu dalam hidup saya.

"Ya, mau bagaimana lagi, itu kan saudara kita" kata-kata dari orangtua itu sungguh mengubah visi dan gagasan tentang hidup bersama dengan orang lain di mana saja. Saya percaya, jika semakin banyak orang bisa menyerap betapa berartinya orang lain dalam hidup kita, maka gejala Toxic people dan gosip kaleng itu akan kerdil dan mati. 

Mungkin kita punya banyak cara untuk mengubah kecenderungan buruk seperti Toxic people dan gosip, akan tetapi, jika kita punya konsep yang baik tentang orang lain, siapapun dia, maka sangat mungkin tidak akan terjebak sampai begitu jauh ke dalam gejala Toxic people dan gosip itu.

Demikian ulasan singkat terkait pertanyaan "was gibt es Neues atau apakah ada sesuatu yang baru?, yang sering menyeret orang pada gejala Toxic people dan gosip.Dua gejala itu sudah merupakan gejala umum yang seringkali pada tingkat tertentu bisa menjadi begitu nikmat dalam pikiran dan mulut manusia. Nah, tentu kita belum terlambat untuk mengubahnya. 

Dari pengalaman pribadi, saya berbagi dengan kesadaran akan keterbatasan sudut pandang. Dua sudut pandang tentang cara mengubah Toxic people bukanlah satu-satunya, tetapi lebih merupakan alternatif yang ditawarkan kepada siapa saja. Selamat mencoba.

Salam berbagi, ino, 22.05.202

Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.