Berjuang Hidup di Tengah Pandemi Tanpa Melupakan Pendidikan Anak-anak


4 min dibaca

Suara Keheningan | Ino Sigaze

Artikel aslinya bisa baca di sini: Berjuang Hidup di Tengah Pandemi Tanpa Melupakan Pendidikan Anak-anak Halaman all - Kompasiana.com 

Jika Anda yakin dengan kekuatan kata-kata positif, maka tentu Anda bisa mencobanya, sekurang-kurangnya untuk mengatakan secara positif tentang keadaan diri sendiri saat ini.

Beberapa minggu ini terasa sekali bahwa Indonesia benar-benar memasuki zona krisis Covid-19 pada level yang paling mencemaskan. Keseriusan krisis covid ini bisa dirasakan melalui informasi yang disampaikan langsung oleh sahabat, keluarga dan orang-orang yang kita kenal di mana saja di Indonesia. 

Seorang teman menulis kepada saya seperti ini: "Yang ekonomi rendah mengandalkan Puskesmas...obat baru dapat beberapa hari kemudian, demikian juga PCR hasilnya baru dapat beberapa hari kemudian, nangisss. Gak punya duit, ya udah tunggu mukjizat Tuhan. Yang mau vaksin kudu antrian ribuan orang, sudah benar-benar taruhan nyawa. Belum tahu, berapa yang sudah meninggal di rumah-rumah karena tidak memperoleh pelayanan kesehatan." (L. M., 6/07/2021).

Rasa haru dan sedih sungguh menyayat hati saat membaca pesan ini. Kecemasan dan ketakutan benar-benar menggerogoti hati manusia saat ini. Menarik nafas lega di Eropa saat ini tidak ada artinya lagi ketika mendengar duka dan susah bangsa dan tanah air sekarang ini. Keluarga dan sahabat kenalan menyampaikan pesan dan gambar yang sama tentang kerinduan agar tetap bertahan hidup di saat pandemi ini.

Pertanyaan yang penting adalah langkah apa yang bisa dilakukan saat ini agar orang bisa bertahan hidup dari serangan covid? Ada beberapa persiapan penting agar orang tetap bertahan hidup di tengah pandemi tanpa melupakan pendidikan anak-anak:

1. Persiapan fisik dan psikis

Persiapan diri untuk apa? Persiapan diri yang penting saat ini adalah untuk menerima situasi kehilangan. Memang tampaknya resiko kehilangan anggota keluarga, sahabat dan kenalan akan menjadi semakin dekat dengan kenyataan semua orang.Beberapa waktu lalu, saya mendengar berita yang mengejutkan dari seorang teman tentang ayah kandungnya yang meninggal setelah dua hari terpapar covid. 

Belum lagi anggota keluarganya sendiri ada 11 orang yang sedang isolasi mandiri karena covid. Keadaan seperti itu hampir pasti menjadi begitu sering terdengar. 

Dalam suatu pembicaraan, saya mendengar ungkapan hatinya yang begitu menguatkan saya juga, katanya, "Kawan...kita tidak boleh memaksa Tuhan. Jika kita terlalu memaksa Tuhan, maka kita sendiri akan tersiksa. Kita perlu belajar untuk ikhlas menerima semua yang akan terjadi."Saat saya mencoba untuk mencerna ungkapan hati teman itu, muncul pula berita-berita yang sama tentang covid hampir di semua grup whatsapp.

 Belum lagi dari keluarga sendiri yang tersebar di beberapa pulau mengirimkan pesan yang sama bahwa tetangga-tetangga mereka ada yang meninggal dan dibawa ke rumah sakit.Pertanyaan yang muncul spontan adalah apa yang harus kami lakukan saat ini? 

Tentu isolasi mandiri itu adalah langkah yang tepat, namun isolasi mandiri harus dilengkapi dengan persiapan diri seperti persediaan makanan dan obat-obatan yang cukup.Artinya, sangat penting saat ini bukan saja persiapan fisik, tetapi juga secara psikis orang perlu lebih siap untuk mengendalikan segala ketidakpastian situasi dan  kesulitan.

Mungkin orang perlu belajar mengatakan kepada diri sendiri: "Saya sehat, saya kuat, saya sembuh, saya hidup atau bisa juga kepada teman-teman dan keluarga kita: Kamu sehat, kamu kuat, kamu sembuh, kamu hidup." Ilustrasi tentang berjuang hidup di tengah pandemi dan perjuangan anak untuk tetap belajar | Dokumen diambil dari: news.detik.com

2. Persiapan untuk belajar dari solusi alternatif yang pernah dilakukan oleh pemerintah India

Kebetulan sekali saya hidup bersama dengan teman-teman kerja beberapa orang India, maka sering pula, kami bertukar cerita tentang situasi dan kesulitan, bahkan tentang langkah-langkah konkret yang dilakukan pemerintah di negaranya.

Cerita yang menarik dari India beberapa waktu lalu ketika krisis Covid begitu serius adalah pemerintah India memberlakukan isolasi yang begitu ekstrim kepada seluruh rakyatnya.Penerapan isolasi itu bahkan didukung oleh pihak keamanan negara untuk mengontrol orang-orang yang tidak taat atau yang masih saja tidak mengikuti aturan protokol kesehatan.

Tidak hanya itu, untuk mendukung isolasi ekstrim itu, pemerintah menyediakan layanan pemesanan kebutuhan sehari-hari khususnya makanan melalui pelayanan online yang akan dihantar ke rumah-rumah oleh petugas keamanan.

Langkah seperti itu ditempuh hanya untuk menghindari komunikasi dan kontak dengan orang lain yang selalu menjadi peluang untuk penyebaran covid.Pertanyaannya, mungkinkah hal serupa diterapkan di kota-kota besar di Indonesia yang punya tingkat kepadatan penduduk luar biasa tinggi?

3. Persiapan untuk belajar dari situasi krisis di Eropa

Untuk sementara ini situasi di Eropa menjadi lebih baik, kebebasan sudah mulai dikembalikan. Bahkan di beberapa negara bagian khususnya di Jerman, orang diberikan kebebasan berkumpul dalam jumlah besar dan bahkan dalam ruangan umum orang diizinkan untuk tidak mengenakan masker.Bukan soal cerita saat ini yang penting, tetapi lebih penting adalah bagaimana sampai seperti itu? 

Nah, jawaban yang penting adalah orang harus disadarkan bahwa vaksin dan isolasi diri selama krisis itu berguna tidak hanya untuk keselamatan diri sendiri, tetapi juga untuk keselamatan orang lain.Dua hal yang penting di sini:Pertama, pemberlakuan lockdown dan ausgangssperre. 

Dua hal ini pernah diterapkan secara berulang-ulang, sampai pada sebagian besar orang telah divaksin. Tingkatan larangan bertemu orang lain itu dibatasi bahkan pernah diberlakukan aturan dari jam 9 malam sampai jam 5 pagi dilarang untuk melakukan perjalanan. (Ausgangssperre). Aturan Ausgangssperre itu diberlakukan berkali-kali dan diperpanjang terus. 

Hal itu diberlakukan dengan serius, terlihat juga bahwa pihak keamanan memeriksa bagi orang-orang yang masih melakukan perjalanan.Hal itu menunjukkan keseriusan dalam menghindari kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Sanggupkah kita menahan diri untuk tidak bertemu orang lain dan untuk tidak melakukan perjalanan pada saat krisis covid ini?Kedua, prioritas untuk vaksin. 

Prioritas vaksin sudah diterapkan sejak vaksin secara ofisial boleh digunakan. Para petugas kesehatan, para pegawai, dan tentu pejabat publik, tokoh-tokoh agama dianjurkan sesegera mungkin untuk divaksin. Saya tidak membanggakan keadaan Eropa saat ini, tetapi hanya ingin berbagi pengalaman dan kenyataan yang terjadi agar kita saling belajar menemukan cara yang terbaik untuk kehidupan kita sendiri.

Meskipun sedikit lebih baik saat ini, namun ada juga kecemasan apakah benar covid tidak kembali lagi ketika saat ini banyak sekali orang merayakan kebebasan dan musim panas dengan berdansa di atas jalan? Kita berharap tidak terjadi lagi. Oleh karena ketidakpastian situasi itu, maka jalan terbaik atau langkah bijak adalah orang perlu tetap punya sikap waspada.

Divaksin itu sama sekali bukan menjadi jaminan bahwa orang berada di titik aman dari serangan covid. Ya, sedikit lebih aman hanya karena dukungan imun sistem menjadi lebih baik. Imun yang lebih baik tentu sangat dipengaruhi oleh kebiasaan hidup sehari-hari seperti istirahat dan makan yang cukup. 

Tampaknya tidak ada cara dan solusi yang luar biasa untuk melawan covid selain setiap orang perlu menjaga diri dan mendisiplinkan dirinya.Tentu, bagi orangtua perlu menjaga anak-anak dan terus melindungi anak-anak mereka di rumah dengan cara-cara yang wajar dan bertanggung jawab.

4. Penguatan fisik dan psikis anak-anak melalui aktivitas yang positif

Orangtua perlu belajar menjadi guru bagi anak-anak di rumah dan sama-sama belajar dengan anak-anak. Bisa dibayangkan kalau anak-anak itu dilarang bermain dengan teman-temannya. Tentu, hal itu bukan merupakan hal mudah. Karena itu, bukan saja soal keselamatan yang harus dipikirkan saat ini, bidang-bidang terkait juga sangat penting diperhatikan. 

Ya, tentu ekonomi dan keselamatan menempati posisi pertama, tetapi orang jangan lupa bahwa pendidikan tetap sangat penting dan mesti terus berjalan.Saya ingat satu keluarga di Jerman yang pada saat pandemi ini orangtuanya menjadi seperti guru di rumah. Orangtua belajar menjadi guru bagi anak-anak dan juga belajar bersama anak-anak. 

Pilihan seperti itu sudah merupakan pilihan yang ideal ketika situasi terkini tidak lagi sebagaimana biasanya atau sudah tidak mungkin lagi bertemu orang lain di sekolah.  Tekanan psikis anak-anak saat ini tentu perlu diperhatikan dan perlu diatasi dengan cara-cara yang wajar pertama-tama oleh orangtua di rumah. 

Jika orang-orang dewasa saja sudah bisa mengalami stress karena tidak bisa ke mana-mana dan tidak boleh bertemu keluarga, bahkan tidak boleh bepergian, ya tidak jauh bedanya dengan anak-anak yang selalu merindukan kesempatan bermain bersama teman-teman mereka., tetapi tidak diberikan kemungkinan itu.

Demikian 4 hal yang perlu dilakukan di saat krisis covid ini. Tentu, saya yakin masih banyak sekali cara dan bentuk persiapan yang penting untuk dilakukan saat ini. 

Semuanya bisa-bisa saja, namun yang utama dan penting adalah kedisiplinan diri, persiapan fisik dan psikis sambil terus belajar dari yang lain, bagaimana mencapai tingkat keamanan yang meyakinkan. Nah, jangan lupa bahwa anak-anak juga perlu menjadi prioritas perhatian dalam semua hal tentunya. 

Krisis covid memang tidak tahu kapan akan berakhir, karena itu sebaiknya pendidikan anak-anak kita tidak boleh dibiarkan masuk dalam ruang krisis yang sama. Selamatkan anak-anak kita dengan cara-cara yang wajar, baik dan aman.

Salam berbagi, ino, 7.7.2021.

Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.