Ada 5 Kemenangan Baru Idul Fitri di Tengah Pandemi Covid-19


3 min dibaca

Suara Keheningan | Ino Sigaze

Kemenangan yang nyata justru terletak pada cara pandang baru yang kita miliki. Kita menang dalam melindungi sesama umat.

Idul Fitri dikenal umum sebagai hari kemenangan. Tiba setelah sebulan menjalankan ibadah puasa. Selain dikenal sebagai hari kemenangan Idul Fitri disebut juga dengan nama id al-fithr atau siklus Fitrah. Siklus Fitrah itu tidak lain untuk menggambarkan kembalinya fitrah atau kesucian asal manusia setelah hilang karena dosa selama setahun. Puasa adalah jalan menuju fitrah.

Tantangan yang menarik adalah merefleksikan Idul Fitri terkait dengan kemenangan. Kemenangan apa dan seperti apa tentu menjadi pertanyaan yang terkait dari tema itu.  

Ada 5 kemenangan yang bisa dilihat dari Idul Fitri di masa pandemi Covid-19 ini:

1. Kemenangan dalam pencapaian kesucian

Dari pemahaman istilah idul fitri jelas sekali ditemukan kemenangan yang pertama yakni ketika orang berpuasa selama sebulan. Kemenangan pertama ini sesuai dengan arti dasar dari istilah Idul Fitri.

Kemenangan dalam hal kesucian itu berkaitan dengan komitmen dan kesetiaan berpuasa selama sebulan. Siapa sebenarnya yang memperoleh kemenangan, tentu berkaitan dengan kejujuran hati setiap orang untuk mengevaluasi dirinya.

Kemenangan dalam hal fitrah atau suci ini hanya diri sendiri yang tahu. Karena itu, ukuran dan pengakuannya hanya berasal dari diri sendiri dan Tuhan yang tahu. Sangat mungkin bahwa kemenangan pertama ini adalah yang paling umum dicapai oleh setiap orang. 

Mengapa? Karena ukurannya jelas, yaitu suatu pencapaian angka puasa selama sebulan. Akan tetapi, ketika kemenangan itu dihubungkan lagi dengan kualitas perjuangan untuk berpuasa selama sebulan, maka kemenangan itu sungguh bukanlah hal yang mudah.

Tetapi, jika orang bisa mencapainya, maka kebahagiaan yang diperolehnya akan sungguh luar biasa. Dibalik pencapaian angka sebulan berpuasa itu, saya percaya ada cita-cita, niat dan kehendak yang begitu kuat untuk mencapai kesucian.

2. Kemenangan dalam sikap dan perilaku kemanusiaan yang setulus-tulusnya dan setinggi-tingginya

Kalau dalam kemenangan pertama orang berurusan dengan kalbu atau batin untuk memperoleh kesucian, nah dalam kemenangan kedua orang berurusan dengan kemanusiaan.

Tuntutannya jelas kemenangan ini dicapai dengan kualitas setulus-tulusnya dan setinggi-tingginya. Ya, kemanusiaan. Saya ingat dalam suatu diskusi pribadi dengan seorang profesor di Universitas dua minggu lalu.

Oleh karena belian mengenal saya orang Indonesia, maka dia menyiapkan satu artikel terkait tema aktual di Indonesia. Dia sudah menyiapkan beberapa lembar berita itu. Saya terkejut, saat dia bertanya, apakah saya tahu bahwa tema kemanusiaan itu sangat penting dalam Islam. 

Pada waktu itu, saya menjawab "ya" dengan tegas dan berani. Argumen yang saya pakai untuk mempertanggungjawabkan pernyataan saya pada waktu adalah istilah Zakat.  Dalam Islam dikenal Zakat fitrah. Zakat fitrah ini diberikan untuk kepentingan para fakir miskin.

Ini hanya contoh konkret untuk menjelaskan bahwa aspek kemanusiaan itu sangat penting. Nah, idul fitri pun demikian, manifestasi dari lebaran itu harus dinyatakan dengan zakat fitrah untuk dibagikan kepada fakir miskin.

Kesanggupan kita dalam memberi zakat fitrah ini adalah kemenangan yang nyata pada hari Idul Fitri. Betapa bahagianya, jika kita mencapai kemenangan kedua ini. Kemenangan kedua ini pasti punya dampak sangat besar bagi orang lain. 

Orang yang menerima Zakat fitrah pasti merasakan sukacita yang luar biasa. Bisa saja, bagi fakir miskin, hari Idul Fitri itu adalah hari yang mendatangkan berkat kelimpahan yang sungguh nyata bagi keluarga mereka.Kemenangan kita ternyata memberikan buah sukacita bagi yang lain. Bagi saya, itulah keindahan dari Idul Fitri. Ya, suatu kemenangan yang nyata.

3. Kemenangan dalam bertemu dengan sesama umat dalam perjumpaan besar pada sholat id

Saya kira kemenangan ketiga ini adalah kemenangan yang tertunda. Patut disyukuri, jika seandainya momen perjumpaan besar itu bisa diatur sekian sehingga tetap bisa dilaksanakan dengan jaminan keamanan. 

Namun, seandainya tidak diizinkan, maka jangan melihat itu sebagai kegagalan, tetapi sebaiknya tetap melihat itu sebagai suatu kemenangan baru. Mengapa? Karena suatu perjumpaan besar itu ditiadakan untuk kemanusiaan.

Ketiadaan kemenangan ketiga itu untuk mencapai kesempurnaan kemenangan kedua. Kemanusiaan itu bukan saja soal kita memberikan zakat fitrah, , tetapi juga kita saling melindungi dan memberikan rasa aman dan sehat kepada orang lain atau sesama umat.
Kemenangan yang nyata justru terletak pada cara pandang baru yang kita miliki. Kita menang dalam melindungi sesama umat.

4. Kemenangan dalam silahturahmi

Semua kita tahu bahwa manifestasi dari Lebaran adalah bersilaturahmi kepada sanak kerabat, orang tua, keluarga dan teman sejawat. Kemenangan ini jelas-jelas adalah kemenangan yang tertunda. 

Larangan mudik dalam arti tertentu menjadikan kita tidak sanggup untuk mencapai kemenangan dalam silaturahmi. Meskipun demikian, apakah pantas jika itu disebut sebagai kekalahan. 

Silaturahmi sebagai manifestasi dari Idul Fitri mungkin tidak ada kaitannya dengan kalah dan menang, tetapi lebih diukur dengan kasih sayang dan persaudaraan. Nah, dalam cara pandang seperti itulah, orang akan menemukan kemenangan baru dari silaturahmi. 

Oleh karena alasan yang masuk akal, maka silaturahmi tidak dilakukan, maka perlu ada cara lain sebagai ungkapan silaturahmi.Cara-cara yang mungkin bisa dilakukan adalah melakukan video call  dengan sanak kerabat, orang tua, keluarga dan teman sejawat. Ya, orang bisa berbagi cerita dan sukacita dari tempat masing-masing.

Kasih sayang dan persaudaraan tetap bisa dirasakan melalui suara dan gambar, meskipun tetap dirasakan ada bedanya. Justru itulah kemenangan yang diraih saat pandemi ini, ketika kasih sayang dan persaudaraan tetap terawat aman, bahkan berkobar rasa rindu yang membara karena tidak bisa secara langsung berjumpa.

Kemenangan baru kita adalah tumbuh rasa rindu yang semakin mendalam, karena silaturahmi itu mesti lahir dari kalbu yang fitrah atau suci. 

5. Kemenangan dalam saling mengasihi dan memaafkan lahir batin

Kemenangan kita yang terbesar adalah saat kita bisa saling mengasihi dan memaafkan untuk terus menempuh hidup bersama sebagai saudara dan saudari di bawah payung negara kesatuan Republik Indonesia ini.  

Nah, warna dari kemenangan terbesar itulah yang paling sering diungkapkan pada saat Idul Fitri. Ungkapan-ungkapan tulus dari hati itu berkaitan dengan kasih sayang dan saling maaf lahir batin

Demikian catatan terkait 5 kemenangan yang diraih dari Idul Fitri di masa pandemi covid-19 ini.  Dari hati yang paling dalam, saya mengucapkan selamat merayakan Idul Fitri kepada semua saudara-saudari saya kaum muslim. Doa kecilku untuk Anda semua.

Salam berbagi, ino, 12.05.2021.

Baca tulisan aslinya di sini: 5 Kemenangan Baru Idul Fitri di Tengah Pandemi Covid-19 Halaman 1 - Kompasiana.com

Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.