Ada 5 Alasan Mengapa Ada Rasa Asing dalam Diri Sendiri dan Cara Mengatasinya


5 min dibaca

Suara Keheningan | Ino Sigaze

Baca Artikel aslinya di sini: Ada 5 Alasan Mengapa Ada Rasa Asing dalam Diri Sendiri dan Cara Mengatasinya Halaman 1 - Kompasiana.com 

Saya akhirnya mengerti bahwa adaptasi budaya itu butuh proses,  perjuangan dan keberanian diri untuk menyesuaikan diri dengan orang lain dan budaya lain. Semakin mampu seseorang terbuka mengadaptasikan dirinya dengan budaya, bahasa dan kebiasaan lain, maka semakin jauh seseorang dari rasa asing.

Cerita dan pengalaman hidup manusia pada suatu waktu dan ruang tertentu pasti berbeda-beda. Perbedaan cerita dan pengalaman itu berkaitan dengan banyak hal, tidak hanya situasi dan tempat, tetapi juga orang-orang yang terjalin secara emosional terlibat di dalamnya. Pernah gak kamu merasa asing dalam diri sendiri, entah di rumah, di universitas, di sekolah, di kantor dan lain sebagainya? Nah, ini beberapa alasan mengapa orang mengalami rasa asing dan bagaimana cara mengatasinya.

1. Rasa asing muncul karena renggangnya hubungan rasa batin dengan orang-orang yang bertemu setiap hari

Pernah gak alami hal seperti ini? Kamu bekerja di kota yang jauh dari rumah orang tua. Lalu beberapa bulan tidak bertemu orang tua karena terpaksa di rumah atau tidak boleh ke mana-mana di masa pemberlakuan aturan lockdown

Pada suatu saat kamu ternyata bisa ke rumah orang tua. Pada saat itu terasa banget seperti ada rasa asing. Tentu, awalnya senang banget bisa bertemu orang tua, keluarga dan orang-orang rumah. Namun, setelah itu suasana hati berubah, ya ada rasa asing. Kenapa ya, kok bisa ada rasa asing di rumahku sendiri? 

Rasa asing di rumah sendiri itu sangat erat hubungannya dengan jarak hubungan rasa batin dengan orang-orang yang setiap hari bersama, entah di kantor atau di kampus. Rasa asing dalam diri sendiri seperti itu tentu bisa diatasi dengan mengirimkan pesan tertentu atau bisa menelepon orang-orang terdekat. 

Bercerita tentang keadaan sendiri, keluarga dan tema-tema kesukaan merupakan cara praktis agar rasa asing itu tidak merampas ruang batin yang hening.

2.  Rasa asing muncul karena jarak fisik dengan orang dekat

Ternyata bukan saja soal jarak hubungan rasa batin, tetapi juga jarak fisik dengan orang-orang dekat itu turut memengaruhi rasa asing. Saya ingat pengalaman waktu liburan pertama setelah setahun di Jerman. 

Padahal waktu itu baru setahun, tapi setelah kembali ke rumah, terasa asing di rumahku sendiri. Bahkan sejak menyalami saudara-saudariku sendiri sudah mulai terasa. Kenapa sih, orang pada bengong melihat. Salahkah saya jika memeluk kakak dan adik-adikku?

Rasa rindu di satu sisi, tetapi juga terasa ada sesuatu yang aneh ketika tahu bahwa orang lain melihat, bagaimana kami mengungkapkan rasa rindu saat pertama berjumpa setelah setahun. Cara sederhana agar keluar dari rasa asing seperti itu adalah perhatian tidak boleh hanya diberikan untuk keluarga saja, tetapi perlu diberikan kepada orang lain, ya untuk tetangga dan orang-orang di sekitar kita juga. 

Memberikan salam dan bercerita tentang kerinduan untuk bertemu mereka semua menjadi cara yang mengubah rasa asing jadi rasa dekat dan akrab. Lebih bagus lagi, untuk konteks tertentu, keramahtamahan itu diungkapkan dengan acara menikmati kopi bersama.

Duduk bersama dengan orang-orang terdekat bersama dengan tetangga dalam suatu suasana santai sambil menikmati kopi dan pisang goreng ala kadarnya, namun itu semua ternyata menjadi sarana ampuh untuk mengubah rasa asing.

Jadi, sebenarnya rasa asing itu berkaitan dengan keakraban di satu sisi, tetapi juga berkaitan dengan kepercayaan pada sisi lainnya. 

Semakin sedikit ruang untuk saling percaya dan menjadi akrab, maka semakin besar ruang untuk rasa asing itu.

3. Rasa asing itu terjadi karena kurang mampu dalam adaptasi budaya

Terdengar ucapan ini, "saudara saudari sendiri juga pelukan?" Nah, rupanya rasa asing itu juga terjadi karena perbedaan kebiasaan sehari-hari. 

Di Jerman, jangankan saudara-saudari kandung, teman-teman yang sudah kenal, mereka merasa nyaman jika ada salam ala mereka, yang dalam ucapan Indonesia, cipiki cipika. Budaya cipiki cipika, itu rupanya lebih akrab dengan budaya modern atau sekurang-kurangnya sudah menjadi kebiasaan orang-orang yang hidup di kota-kota besar. Tentu, hal seperti itu belum menjadi kebiasaan umum. 

Apalagi untuk konteks masyarakat yang masih kuat dipengaruhi oleh adat istiadat yang masih kental dengan ranah kehidupan tradisional. Ini pengalaman yang menjadikan saya pernah merasa asing di tempat lahirku sendiri. Oleh karena begitu senangnya, saya lupa mengadaptasikan diri dengan budaya di daerah saya yang hanya menyalami dengan berjabatan tangan dan bukan cipiki cipika.

Sebaliknya juga, ketika kembali ke Jerman, terasa hal yang sama. Oleh karena terpengaruh budaya sendiri yang tradisional, maka rasa asing itu muncul lagi. Indah juga sih bahwa ada dinamika karena perbedaan budaya dan adat istiadat.

Nah, sebenarnya rasa asing seperti itu bisa diatasi dengan persiapan hati dan pikiran untuk adaptasi budaya. Menjadikan diri fleksibel mungkin jauh lebih mudah untuk masuk ke proses adaptasi budaya. Kemampuan untuk adaptasi budaya dan kebiasaan orang lain, ternyata sangat penting agar orang bebas dari rasa asing itu. Sebagian orang Indonesia punya anggapan seperti ini, ukuran sopan santun bisa terlihat dalam tata cara menyapa orang yang lebih tua.

Rasa hormat itu, justru kalau tidak menyebut nama secara langsung, atau harus disertai  dengan embel-embel di depannya, seperti bapak, bung, pak, bang, mas, atau dalam konteks budaya setempat seperti di Flores, eja (Ende), kraeng (Manggarai), moad (Maumere), dan lain sebagainya.

Nah, di Jerman lain lagi, jika kita sudah berkenalan apalagi sudah sering bersama atau dalam satu rumah atau komunitas, rasa hormat itu harus berbanding terbalik dari rasa sebagai orang Indonesia.

Mereka akan bertanya balik, jika kita masih memanggil mereka dengan gaya yang formal, "kamu belum kenal saya?" Budaya dan konsep tentang keakraban mereka berbeda. Akan jauh dari rasa asing, jika disapa dengan menggunakan nama panggilan atau tanpa embel-embel lainnya.

Rasa asing saya pada saat pertama menyapa senior yang berusia 92 tahun waktu itu sungguh begitu besar.Terkadang saya merasa seperti kurang sopan, tapi itulah, saya tidak berada di Indonesia lagi, maka mau tidak mau saya harus berusaha membiasakan diri memanggil dengan nama. 

Lama-kelamaan akhirnya menjadi biasa. Benar juga sih kata orang, ala bisa karena biasa.Meskipun demikian, saya akhirnya mengerti bahwa adaptasi budaya itu butuh proses,  perjuangan dan keberanian diri untuk menyesuaikan diri dengan orang lain dan budaya lain.

4. Rasa asing itu terjadi karena kurang terbuka dan mau berbagi dengan orang lain

Tentu bukan saja soal jarak fisik, kurangnya kontak batin, dan adaptasi budaya, melainkan juga soal kurang terbuka menjelaskan alasan-alasan ketika meninggal rumah, atau kampus dan lain sebagainya, dapat menjadi alasan munculnya rasa asing. Sederhananya, rasa asing berkaitan dengan kejujuran seseorang terkait tujuan. 

Jika saya bepergian bersama teman-teman geng kuliah, tanpa memberitahu sebelumnya, maka ketika kembali, saya merasakan ada rasa asing dalam diri saya.

Lebih terasa lagi, jika pergi tanpa beritahu orang di rumah, maka ruang rasa asing itu sangat besar. Pengalaman seperti itu, mungkin menjadi pengalaman banyak orang di mana saja. 

Bagaimana cara agar bisa keluar dari rasa asing seperti itu? Cara paling mudah adalah dengan terus terang bercerita tentang apa yang terjadi, tentang tujuan, bertemu siapa, makan apa dan di mana dan semua pengalaman hari itu. 

Ya, terbuka untuk berbagi pengalaman itu saja caranya. Menarik tentunya, bahwa orang Jerman punya kebiasaan untuk berbagi cerita setelah bepergian. Namun, di sisi lain, kebiasaan itu terkadang menjadi sumber rasa asing.

Pertanyaan seperti, wo warst du? atau tadi kamu di mana? Pertanyaan biasa itu terkadang menyeret orang kepada rasa asing, karena merasa seperti orang lain kepo banget atau ingin saja tahu di mana keberadaan seseorang.

Jadi, kejelasan hidup dan keterbukaan mengatakan sesuatu entah itu tujuan kepergian, maupun jenis kegiatan di luar rumah atau di kampus atau di luar kampus, ternyata sangat penting agar bebas dari rasa asing dalam diri sendiri.

Pada prinsipnya, semakin jujur dan terbuka seseorang, maka semakin jauh dari rasa asing itu. Mungkin teman-teman juga punya pengalaman seperti itu. Pernah gak ya? Ada pimpinan atau teman kerja yang pergi tanpa beritahu, lalu kembali dengan wajah yang lain, seakan-akan menutup kemungkinan adanya pertanyaan, tadi kamu di mana dan lain sebagainya. 

Saya percaya, bahwa hal seperti itu pasti ada hubungannya dengan rasa asing. Atau bisa saja, tiba-tiba tersinggung jika ada pertanyaan sederhana seperti ini, "tadi kamu di mana, ada yang cari kamu."Rasa asing tidak boleh dianggap sepele, karena kalau tidak diatasi dengan jujur dan terbuka, maka rasa asing itu akan memanipulasi kesadaran seseorang.

5. Rasa asing terjadi karena kurang punya kemampuan bahasa asing

Bagaimanapun juga sebagai orang asing yang belajar bahasa asing pasti pernah mengalami rasa asing. Saya masih ingat dalam suatu acara seminar yang dihadiri oleh wakil 25 universitas di Jerman.

Waktu itu terasa sekali bagaimana besarnya rasa asing itu. Rasa asing itu semakin besar saat mendengar bagaimana mereka berbicara dengan bahasa yang tinggi dan begitu cepat. Berdebat dengan dalil-dalil yang ilmiah, dibarengi dengan istilah-istilah asing lainnya. 

Semua pengalaman saat itu sungguh menjadikan saya merasa asing. Namun, ketika masuk ke dalam dinamika kelompok yang lebih kecil, terasa bahwa adaptasi bahasa Jerman menjadi lebih mudah dan pada saat itu rasa asing perlahan-lahan menghilang.

Saya tidak bisa lupa bahwa rasa asing juga terjadi karena melihat deretan gelar pemberi materi yang panjang dan punya jabatan penting di universitas. 

Terbersit cuma kesadaran bahwa  betapa pentingnya bahasa asing agar tidak menjadikan diriku terasing. Pada hari kedua, saya berusaha mempelajari bahan secara lebih baik dan menyiapkan pertanyaan. Pada saat itulah, rasa asing dalam diri mulai ditepis.Lebih baik rasa asing itu disadari, diolah dan diatasi, daripada dibiarkan begitu saja. Mengapa? 

Jika rasa asing tidak diatasi, lama-kelamaan akan menebal dan bisa saja hilang rasa bersalah, bahkan tidak menjadi lebih kreatif dan berkembang.Bahkan sangat mungkin bahwa rasa asing yang dialami secara terus -menerus dapat menyebabkan depersonalisasi. Dan umumnya depersonalisasi terjadi ketika orang terjebak dalam situasi kehidupan yang sulit dan merasa tidak berdaya. 

Pendapat ini berangkat dari rujukan Sierra-Siegert dari laporan para peneliti di Universitas of Iowa pada tahun 1977. Oleh karena itu, lebih baik rasa asing itu diubah melalui proses yang kreatif sehingga bisa menghasilkan sesuatu yang lain, entah cerita, tulisan, lagu dan karya-karya lainnya, yang positif dan sehat bagi fisik dan psikis.

Demikian ada lima alasan yang menjelaskan mengapa orang mengalami rasa asing dan bagaimana orang bisa keluar dari rasa asing itu. Mengolah rasa agar berubah jadi karya, tetap menjadi pilihan yang penting.

Salam berbagi, ino, 31.05.2021.

Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.