4 Faktor Penunjang Hidup Sehat di Masa Pandemi


4 min dibaca

Suara Keheningan | Inosensius I. Sigaze, O.Carm

Artikel aslinya bisa dibaca di sini: 4 Faktor Penunjang Hidup Sehat di Masa Pandemi Halaman 1 - Kompasiana.com

"Jangan melupakan kesempatan untuk menguji kembali cara-cara kecil dan pengalaman konkret masyarakat biasa, dari mereka bisa saja ditemukan cara-cara tentang kesederhanaan memperoleh hidup sehat."

Setiap manusia pernah mengalami sakit oleh karena penyakit tertentu. Sakit dan penyakit selalu dialami manusia umumnya dan bahkan tidak pandang usia dan status. Ya, siapa saja bisa sakit. Menderita sakit dalam situasi yang biasa akan terasa jauh lebih mudah diterima, daripada seseorang menderita sakit pada saat pandemi seperti sekarang ini. 

Tingkat kecemasan teman-teman, keluarga dan semua orang yang mengenalnya menjadi jauh lebih besar. Oleh karena kecemasan dan rasa takut yang diperparah oleh tekanan situasi pandemi, tidak heran sebagian besar orang takut sekali dengan kata-kata ini "dia sakit, dia sedang diinfus, dia sedang dirawat di rumah sakit, dia sedang dirujuk ke kota tertentu dan lain sebagainya." 

Terkadang sebagian orang hidup dalam keyakinan bahwa orang sakit hanya obat-obatan yang bisa menyembuhkan seseorang dari sakit. Nah, bagaimanakah jika dalam situasi pandemi ini sebagian orang begitu takut berobat di rumah sakit. Ya, tentu itu pikiran yang keliru. 

Namun, kenyataan itu bisa saja terjadi karena hilangnya kepercayaan masyarakat pada pelayanan kesehatan oleh karena keganjilan diagnosa yang pernah ada.Karena itu, tidak heran cerita kreatif masyarakat tentang bagaimana mereka berjuang untuk merawat diri mereka dengan menggunakan obat-obat tradisional.

Dari sudut itu, terlihat bahwa masyarakat biasa menjadi begitu kreatif berjuang mempertahankan hidup di tengah krisis. Mereka hidup tanpa dipengaruhi gelombang protes pada pelayanan publik. Sebaliknya, mereka diam-diam berusaha mencoba mengkonsumsi makanan dan bumbu-bumbu alam yang mereka sendiri yakin bisa mendatangkan nutrisi dan gizi. 

Sebagian orang mulai percaya bahwa hidup sehat sebenarnya hidup yang jauh dari ketergantungan pada obat-obatan kimia. Benar juga sih. Sebagian lagi mulai berubah keyakinan bahwa pola hidup mereka sudah menjadi bonus hidup sehat. Bagaimanapun perjuangan setiap orang untuk memiliki hidup sehat, namun tetap saja yang namanya sakit merupakan kenyataan yang tidak bisa dihindari. Suatu waktu seseorang pasti menderita sakit.

Tulisan ini tidak berusaha memengaruhi siapa saja untuk menghindari rumah sakit dan obat-obatan, tetapi hanya sekedar sharing di tentang suatu perjuangan menjadi sembuh di tengah kesulitan dan krisis karena ketakutan masyarakat dirawat di rumah sakit. 

Pertanyaan, bagaimana kemungkinan sembuh bisa terjadi di tengah situasi krisis ketakutan dirawat di rumah sakit? Berikut ini ada beberapa cara praktis upaya untuk merawat hidup di tengah situasi sulit itu:

1. Kemungkinan untuk memperoleh infus di rumah

Kemungkinan pertama ini bisa dilakukan setelah berkoordinasi dengan para dokter di rumah sakit dan juga dengan petugas pelayanan kesehatan terdekat atau yang ada di desa-desa. Cara ini ternyata sangat menolong khususnya di tengah pandemi ini. 

Pelayanan kesehatan tidak lagi terpusat pada rumah sakit, tetapi pelayanan kesehatan diarahkan ke rumah-rumah, khususnya bagi mereka yang membutuhkan. Pelayanan seperti itu tentu sangat baik, apalagi tetap memperhatikan protokol kesehatan. 

Petugas lapangan tentu punya peran penting yang harus diapresiasi dalam hal ini. Keberanian mereka untuk melayani orang-orang sakit di desa-desa sungguh merupakan bentuk pengabdian yang mulia.

2. Penggunaan bumbu makanan yang diyakini sebagai obat

Bincang-bincang sore dan cerita spontan mereka sungguh mengejutkan bahwa di tengah krisis pandemi itu, masyarakat di pedesaan mencoba mengolah bumbu-bumbu makanan yang selama ini hanya untuk bahan makanan sehingga menjadi bahan obat-obatan.

Sekurang-kurangnya jenis tumbuhan seperti jahe, lengkuas, sereh, kencur sudah menjadi semacam jenis bumbu masakan yang menjadi adonan pilihan masyarakat yang sedang mengalami badan pegal, ngilu, hilang aroma dan rasa. Ya, gejala yang cukup sering dikenal kebanyakan orang yang menderita covid-19.

Sampai dengan saat ini, sebagian masyarakat di wilayah pedesaan masih percaya pada khasiat praktis dari jenis tanaman bumbu masakan itu. Tentu dengan cara yang beragam pengolahannya. 

Ada yang kencur itu dihaluskan kemudian dilumur pada bagian kepala, ada yang meminum air jahe dan sereh, dan cara-cara lainnya.

3. Tetap melakukan aktivitas sehari-hari

Melakukan aktivitas sehari-hari memang sudah merupakan kebiasaan yang tidak pernah dilihat sebagai kewajiban, apalagi pada masa pandemi dan secara khusus ketika gejala-gejala aneh menerpa tubuh. Meskipun demikian, masyarakat pedesaan semakin menyadari bahwa melakukan aktivitas sehari-hari itu berubah menjadi sesuatu yang harus justru pada saat gejala itu semakin dirasakan.

Alasan sederhana mereka adalah agar badan tetap berkeringat dan hangat, bahkan ada yang yakin bahwa itu pada keadaan sedang merasakan gejala-gejala yang bisa diindikasikan covid-19, orang perlu tetap bergerak hingga berkeringat.

Terkadang sulit untuk mempercayai dalil sederhana mereka, namun kenyataan bahwa masyarakat pedesaan masih lebih terlindungi dari serangan yang berbahaya covid-19. Apakah karena kebiasaan dan cara-cara sederhana mereka seperti itu, yang memungkinkan fisik dan imun tubuh mereka bisa bertahan dari serangan covid? 

Untuk mendapatkan jawaban pasti, tentu dibutuhkan suatu penelitian lebih lanjut tentang perbedaan daya tahan tubuh antara orang di desa dan di kota-kota di masa pandemi ini.

4. Faktor lingkungan dan udara yang segar-bersih

Saya jadi ingat pengalaman masa karantina di Jakarta selama 8 hari lalu. Karantina yang berlaku memang punya tujuan baik, namun praktis tidak bisa punya pilihan selain cuma di dalam hotel yang tidak punya jendela. Apakah ruang hotel seperti itu memungkinkan orang untuk lebih sehat? Tentu tidak. 

Sirkulasi udara tentu selalu dibutuhkan untuk kesehatan tubuh. Ini suatu kenyataan bahwa setelah delapan hari kondisi badan perlahan berubah. Ada rasa mual dan bahkan diare berkali-kali. Selanjutnya pernah mengalami juga demam yang aneh.

Dugaan pada waktu itu adalah karena kurangnya kesempatan untuk menikmati udara segar. Hampir bisa dipastikan bahwa tubuh membutuhkan udara segar. Hal yang sungguh mengejutkan bahwa setiba di Labuan Bajo keadaan diare dan rasa demam menghilang dengan sendirinya. 

Oleh karena itu, dapat dipastikan bahwa kamar hotel yang tidak punya jendela, sebetulnya menjadi gambaran dari keadaan yang kurang sehat. Nah, pertanyaannya, mengapa hotel-hotel yang tidak punya jendela itu yang dipilih sebagai tempat karantina di Jakarta? 

Konsep tentang karantina mungkin perlu dipertimbangkan lagi. Karantina harus membuka kemungkinan kepada siapa saja untuk menjadi sehat dan bukan supaya sakit tentunya. Lebih tidak masuk akal lagi, karantina untuk orang yang sudah dua kali divaksin, lalu tes PCR juga negatif. Pada prinsipnya, saya lebih setuju kalau proses karantina didukung dengan perhatian untuk hidup sehat dan bukan membiarkan supaya menjadi sakit. 

Nah dalam hal ini, pemerintah perlu memerhatikan lagi kelayakan hotel-hotel tempat karantina itu. Artinya semua orang yang dikarantina tetap diberikan kesempatan untuk menikmati udara segar dan kemungkinan lainnya seperti menggunakan fasilitas olahraga di dalam hotel sejauh memungkinkan. 

Dari ulasan di atas dapat disimpulkan beberapa kesimpulan berikut ini:

1. Faktor yang penting dipertimbangkan pada saat pandemi ini adalah pilihan cara perawatan kesehatan; mengenai tempat dan cara bahkan terkait usia dan jenis penyakit seseorang harus dihubungkan dengan resiko-resiko yang mungkin saja terjadi.

2. Faktor penggunaan bumbu masakan. Orientasi yang penting dalam hal ini perlu mengarah kepada upaya mereduksi penggunaan bahan makan dan bumbu-bumbu kimia.

3. Faktor keteraturan dan kedisiplinan diri untuk tetap melakukan aktivitas yang produktif, berguna, sehat dan kreatif.

4. Faktor lingkungan dan udara yang bersih dan segar harus tetap bisa dijaga dan dinikmati. Karantina itu tidak berarti melarang seseorang untuk bisa menikmati udara bersih, tetapi mendisiplinkan diri agar menjadi lebih sehat dan fit.

Demikian ulasan terkait faktor-faktor dan kemungkinan hidup sehat yang bisa dilakukan khususnya di tengah pandemi ini. Tentu masih ada banyak sekali faktor penunjang lainnya yang penting menurut pengalaman penulis lain.Tulisan ini lebih karena pengalaman pribadi setelah mengalami karantina di Indonesia; dan juga mendengarkan cerita-cerita kecil masyarakat biasa yang hidup jauh dari pelayanan kesehatan yang maksimal.Cerita kecil dan pengalaman konkret masyarakat biasa ternyata bisa menjadi rujukan yang berguna juga di tengah kesulitan ini. 

Salam berbagi, ino, 30.09.2021

Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.