5 min dibaca

Suara Keheningan  Inosensius I. Sigaze

PTM dan Post Traumatic Stress Disorder di Tengah Lonjakan Kasus Omicron di Jerman Halaman 1 - Kompasiana.com 

Perhatikan kebiasaan-kebiasaan positif hidup sehari-hari yang mendukung hidup sehat. PTM akan berlangsung dengan aman tanpa curiga, jika semuanya sehat.

Pelajaran tatap muka (PTM) sejak masa covid-19 sudah punya cerita sendiri. Cerita tentang PTM bukan lagi sebagai hal yang biasa, melainkan selalu ada something else. Something else yang terhubung dengan cerita PTM sejak masa-masa pandemi ini memang berbeda-beda dalam setiap situasi dan ruang. 

Nah, dalam tulisan ini saya memperlihatkan unsur sesuatu yang berbeda dan tantangan mental mahasiswa di Jerman khususnya di tengah PTM.Pertanyaannya, mengapa ada something else saat PTM? Berikut ada beberapa alasannya:

1. Dinamika kelompok sangat terbatas (Eingeschraenkt)

Komunikasi dan diskusi kelompok yang biasanya sangat menarik tanpa kendala dilakukan, spontan menjadi begitu dibatasi secara sadar untuk menghindari kemungkinan-kemungkinan buruk seperti terjangkit omicron. Bayangan omicron bagaikan semburan abu gunung berapi yang memberikan peringatan bahwa akan ada letusan nantinya.

Dinamika kelompok yang memungkinkan interaksi sosial antar mahasiswa seperti dimasukan ke dalam peti es (dipetieskan). Anehnya, bahwa tidak ada larangan formal bahwa mahasiswa tidak boleh berdiskusi.Toh nyatanya, kebekuan suasana itu terbangun secara otomatis. 

Nah, saya yakin bahwa suasana beku itu muncul karena masing-masing orang mencurigai kemungkinan-kemungkinan yang tidak diharapkan bisa terjadi.Memilih diam dan menghindar dari teman-teman lain rupanya menjadi pilihan aman, meskipun bukan merupakan pilihan ideal yang diharapkan. Unsur something else yang terlihat bahwa inisiatif untuk saling menjauh itu muncul secara spontan dari setiap orang.

Bisa saja masing-masing orang akan bertanya salah apakah diriku ini sampai ia menjauh dariku? Pertanyaan itu sebenarnya pertanyaan yang muncul hampir dalam diri setiap mahasiswa.Namun, anehnya tidak ada yang mengambil inisiatif membuka diskusi atas pertanyaan itu. 

Ya, tema tentang ruang terbatas diskusi kelompok telah menjadi tema yang tidak pernah selesai dengan sisi pro dan kontranya masing-masing.Jadi sangat mungkin bahwa PTM bisa saja berjalan, tetapi interaksi sosial sudah berbeda. Lebih mudah interaksi sosial dengan dosen dengan menggunakan email daripada interaksi langsung dengan sesama mahasiswa.

Dari kenyataan ini sebenarnya konteks pendidikan di era pandemi ini punya tantangannya sendiri. Bagaimana mahasiswa bisa membangun interaksi sosial dengan rasa percaya yang tulus bukan lagi hal yang mudah.

2. Sebagian besar mahasiswa enggan duduk pada tempat yang berbeda-beda setiap jam perkuliahan

Pandemi telah membuka ruang baru yang semakin lebar ke arah kekakuan. Setiap mahasiswa yang hadir pada hari pertama tatap muka seakan menemukan tempat duduk miliknya sendiri. 

Demikian juga yang lainnya tanpa ada pembagian, tetapi semuanya mengambil tempat duduk seperti tempat duduk pada hari pertama. Entahlah apa yang menyebabkan itu semua, tapi kenyataan krisis ini pada sisi yang lain dalam konteks PTM menyeret orang untuk mencintai apa yang pertama ditempatinya. 

Suatu hari seorang profesor sempat berkomentar seperti ini, "Gara-gara covid19, jadi gampang untuk tahu siapa yang hadir dan siapa yang tidak hadir." Sebuah kursi tempat duduk akhirnya melekat dengan sebuah nama.

Tantangan terkait PTM adalah tumbuh suatu mental baru tanpa kompromi dan kesepakatan orang bisa mengklaim bahwa sesuatu itu layak untuk dirinya dan bukan untuk orang lain. Hal seperti itu tidak ditemukan sebagai suatu fenomena di masa sebelum pandemi. 

Nah, mental mahasiswa pun berubah yakni bahwa dia hanya bisa merasa nyaman dari suatu posisi yang pernah dimiliki sebelumnya. Dalam arti seperti itu, sebenarnya PTM setelah masa kuliah online berhadapan dengan suasana baru (neue Stimmung) tentang kenyamanan. Seseorang dikatakan nyaman pada suatu tempat kalau dia pernah dari awal menempati tempat itu. Ya, sekurang-kurangnya ia tahu tentang sejarah tempat itu.

Tidak heran kalau ada juga yang pada saat tempatnya sudah ditempati orang, sebelum ia duduk ia selalu menyemprot dulu kursi dengan desinfektan. Tampak sekali bahwa PTM itu khususnya di Jerman terhubung dengan kenyamanan menempati suatu tempat duduk.

Unsur something else atau etwas anderes itu terlihat melalui rasa tidak nyaman setiap kali menempati satu tempat duduk baru atau tempat duduk yang pernah ditempati orang lain. 

3. Trauma masa pandemi covid-19 dan trauma PTM yang tidak dinyatakan

Trauma dan pandemi sudah menjadi dua tema yang terhubung begitu erat saat ini. Dalam momen apa saja di mana dua atau tiga orang berdiri dan kesempatan untuk berbicara, maka tema yang paling ngetop itu adalah informasi terbaru terkait covid19, apalagi saat ini omicron selalu menjadi trending topik.

Keseringan orang berbicara tentang tema yang sama yang pada satu sisinya mendatangkan ketakutan (fobia covid-19) dan ketidakpastian, bisa saja merupakan ungkapan yang berkaitan dengan trauma. Trauma yang saya maksudkan dalam konteks ini adalah reaksi emosional yang muncul atas situasi pandemi ini. 

Tentu pada masing-masing orang punya traumanya sendiri. Ada yang traumanya akut karena covid-19 telah menjadikannya kehilangan anggota keluarga atau teman dekat, atau juga bahkan kehilangan pekerjaan. Bisa juga trauma yang dialami bersifat kronis, karena pernah terkena covid19 berulang-ulang kali.

Tidak jarang, saya amati dalam konteks PTM di universitas, rupanya punya trauma sejenis trauma sekunder karena seseorang sering melakukan kontak dengan orang yang mengalami trauma akut dan trauma sekunder.

Tiga bulan masa PTM di Jerman memberikan kesan kuat bahwa trauma telah menjadi tema yang punya arti penting di masa pandemi ini. PTM adalah langkah berani kebijakan pemerintah yang tanpa disadari sebenarnya menaklukkan trauma yang dimiliki sebagian mahasiswa.Seberapa penting tema trauma saat ini tentu berkaitan dengan orang-orang tertentu, atau mahasiswa tertentu yang secara langsung pernah mengalami betapa pahitnya covid-19 dan segala variannya bagi riwayat studi dan kesehatan.

Pada saat ingin cepat selesai studi, nah ternyata dosen atau profesor malah terkena covid. Kuliah, seminar dan kursus-kursus yang direncana akhirnya bergeser dan tertunda. Perubahan-perubahan yang tidak teratur itu sangat mengganggu psikis seseorang. Saya masih ingat tentang seorang mahasiswa Indonesia yang memilih mengurung dirinya karena takut terkena covid dan juga membatasi kontak dengan teman-temannya selama dua tahun lebih. 

Ia hanya sering berkomunikasi dengan orangtuanya di Jakarta.Beberapa mahasiswa yang juga saya kenal memilih berhenti mengikuti kuliah karena merasa tidak nyaman dengan PTM saat kasus omicron meningkat drastis. Siapa yang bisa melarangnya. Ya, keputusan bebas masing-masing sangat penting untuk memberikan rasa aman pada diri sendiri.

Ada beberapa gejala riil trauma yang bisa dilihat dari mahasiswa terkait PTM saat ini: Kebingungan, mengeluh, kegelisahan, mati rasa, mudah marah, susah konsentrasi, takut, ragu-ragu dalam keputusan.Tentu masih banyak gejala lain yang mengindikasi sebuah trauma. Gejala-gejala yang saya sebutkan di atas itu adalah gejala-gejala yang saya amati dari kenyataan tiga bulan PTM itu. 

Saya sendiri merasakan juga gejala-gejala seperti itu setiap kali selama kurang lebih 4 jam pulang pergi ke kampus. Sekurang-kurangnya gejala fisik sangat menonjol dirasakan: mudah mengalami kelelahan, gangguan pencernaan, jantung kadang berdebar, sakit kepala, cepat merasa lapar. Tiga kali divaksin, (V. pertama, kedua dan booster) saya mengalami hal yang sama, yakni ada semacam gejala post traumatic stress disorder (PTSD). 

Reaksi tubuh atau reaksi fisik yang muncul setelah mengalami trauma dengan vaksin pertama, kedua dan booster adalah tiga hari mengalami sakit pada lengan, kelaparan hingga pusing dan gemetaran pada setiap jam 11.30 siang.Gejala-gejala PTSD ini akhirnya berakhir bisa jadi melalui kebiasaan-kebiasaan kecil yang saya lakukan. 

Nah, langkah apa saja yang saya lakukan untuk mengatasi gejala trauma psikis dan fisik seperti itu:

  1. Selama masa PTM ini sekurang-kurang dalam seminggu melakukan 3 kali senam. Total waktu 3 x 30 menit.
  2. Berjalan kaki setiap hari sekurang-kurangnya 6000 langkah.
  3. Minum air secukupnya meski tidak pernah merasa kehausan.
  4. Meditasi dengan menggunakan instrumen suara alam, siulan burung-burung dan suara seruling 30 menit sekurang-kurangnya setiap hari.
  5. Menulis setiap hari untuk mengungkapkan perasaan batin.
  6. Berbagi cerita dengan teman-teman dan keluarga setiap minggu.
  7. Berdoa pasrah dan menyerahkan semua hari hidup pada Tuhan setiap hari.

Langkah-langkah ini tampak sederhana sekali, namun saya telah merasakan hal positif dari pilihan PTM di tengah varian omicron yang sangat tinggi ini dengan risiko berhadapan dengan potensi trauma. Risiko memang selalu ada saat perjalanan menggunakan kereta umum yang mau tidak mau berjumpa dengan begitu banyak orang. Namun, jika secara fisik sehat dan energik, maka tentu lebih meyakinkan lolos dari sengatan halus omicron.

Cara pandang yang menolong diri sendiri

PTM di tengah pandemi dengan varian omicron yang semakin ganas merasuk jiwa penduduk Jerman, bisa-bisa menjadikan penduduk Jerman harus hidup dalam suatu perspektif yang tidak hanya bisa fleksibel terhadap perubahan-perubahan, tetapi juga melihat secara global dan menilai secara kritis.

Cukup banyak orang yang saya jumpai dalam dialog kecil seperti menghakimi diri sendiri. Berpandangan picik tentang diri sendiri bisa berpotensi besar meluaskan efek trauma.Sebagian mahasiswa merasa bahwa kegagalan di masa pandemi ini adalah kegagalannya yang terburuk. Nah, konsep seperti itu bagi saya terlalu berlebihan yang berdampak pada menghakimi diri sendiri.

Padahal kenyataan menunjukkan bahwa proses studi yang tersendat-sendat oleh karena suasana pandemi ini terjadi di seluruh dunia. Nah, kenyataan global itu yang sering dilupakan, sementara itu orang menjadi begitu fokus hanya pada diri sendiri yang berujung pada mempersalahkan diri sendiri.

Oleh karena fenomena seperti itu, maka saya berani mengatakan bahwa orang tidak perlu terlalu berlebihan melihat kegagalan dan kemacetan itu sebagai kesalahan dirinya sendiri, tetapi membuka mata untuk melihat secara global.

Pengalaman kegagalan dan tersendat itu bukan saja pengalaman pribadi seseorang saja, tetapi bisa juga menjadi pengalaman kebanyakan orang saat ini. Dengan cara itu, perspektif tentang diri sendiri akan menjadi lebih positif dan tidak terlalu memojokan diri sendiri.

Perspektif yang menolong diri sendiri tentu adalah dengan cara melihat secara objektif dalam keseluruhannya dan bukan fokus hanya pada kenyataan diri sendiri atau pribadi saja. Ya, pandemi dan segala gejolaknya ini tentu membutuhkan cara-cara praktis untuk menolong diri sendiri dan orang lain. 

Demikian catatan dan kiat praktis terkait PTM di Jerman dengan tantangan post traumatic stress disorder (PTSD) yang perlu dihadapi bukan hanya dengan cara pandangan positif dan objektif terhadap realitas pandemi secara keseluruhan, tetapi juga mulai dari diri sendiri melalui kebiasaan-kebiasaan kecil yang sehat. Ada 7 kiat praktis bisa saja menolong siapa saja di tengah pandemi dan bahaya varian omicron ini. 

PTM memang baik, namun kenyataan perubahan konsep tentang interaksi sosial, komunikasi sosial, dinamika grup dan posisi batin setiap mahasiswa perlu diterima dengan segala macam gejolak dinamikanya. Satu hal yang pasti bahwa semua perubahan itu sekalipun bisa disebut sebagai something else perlu masuk dalam wilayah kesadaran yang direfleksikan setelahnya dan berusaha menemukan solusi praktis yang tidak hanya sehat, tetapi juga harmonis, dialogis dan komunikatif.

Salam berbagi, ino, 15.01.2022

Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.