2 min dibaca

Suara Keheningan RP. Stef. Buyung Florianus, O.Carm

Pelayanan menjadi pilar penting dalam kehidupan kita sebagai murid Yesus, orang beriman Kristiani. Dan pelayanan itu, bukan sekedar melakukan sebuah kegiatan atau aktivitas, tetapi lebih jauh dan lebih dalam daripada itu, yaitu membawa orang lain kepada Yesus, mengantar sesama kepada iman yang kian mendalam, menolong orang  untuk mengalami Allah yang sungguh hidup, yang mengubah, menguatkan, menyembuhkan dan menyelamatkan kita. 

Sehubungan dengan itu semua, ada beberapa catatan yang patut kita perhatikan:

Duka Dunia – Duka Kita

Saat ini, kita masih berada dalam sebuah keprihatinan besar. Pandemi Virus Corona nampaknya belum juga berakhir. Di sana sini kita mendengar munculnya varian baru dari covid 19, antara lain Omicron. Tidaklah mengherankan banyak dari antara kita bertanya-tanya kapan pandemi ini akan berakhir. 

Selain itu, di banyak belahan dunia, khususnya di bumi Nusantara yang kita cintai ini muncul banyak musibah dan bencana. Ada banjir dan tanah longsor, ada gempa bumi dan gunung meletus. 

Banyak orang yang menjadi korban dari semua kejadian ini. Penderitaan dan air mata nampaknya belum juga menjauh dari kehidupan kita. Sebagai murid-murid Tuhan, kita tidak bisa melepaskan diri dari semua itu. Duka dunia, duka kita. Keprihatinan bangsa, keprihatinan kita juga. Kita ada dan hadir di tengah dunia ini. Kita menjadi bagian dari bangsa ini. 

Konsili Vatikan II dalam Konstitusi Pastoralnya tentang Gereja dalam dunia dewasa ini menegaskan, “Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga.” (GS 1).

Di manakah Allah?

Namun di tengah situasi yang demikian, tidak sedikit orang mengalami banyak pergumulan iman dan pergulatan dalam hidup rohani. Tidaklah mengejutkan, muncul pertanyaan: Di manakah Allah itu? Mengapa Dia membiarkan saya atau kami berjuang sendirian? Kapan pandemi ini akan berakhir? 

Tuhan mau apa dengan semuanya ini? Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukanlah hal yang baru. Sang Pemazmur bergumul dalam hidupnya. “Air mataku menjadi makananku siang dan malam, karena sepanjang hari orang berkata kepadaku, ‘Di mana Allahmu?’” (Mzm 42:4). Dan lagi, “Seperti tikaman maut ke dalam tulangku lawanku mencela aku, sambil berkata kepadaku sepanjang hari, ‘Di mana Allahmu?’” (Mzm 42:11). 

St. Yohanes dari Salib dalam Madah Rohani mengungkapkan perjalanan hidup rohaninya. “Di manakah Engkau bersembunyi, Kekasih, dan tinggalkan daku merana? Engkau menghilang secepat rusa, setelah melukai aku; ku lari panggil Kau, namun Engkau lenyap sudah.” (MR 1).

Yesus: Duta Keselamatan     

Justru dalam situasi yang demikian, kita diundang untuk belajar percaya. Bahwasanya Tuhan kita luar biasa. Dia adalah Allah yang hidup. Dia menyertai kita dalam suka dan duka kehidupan kita. “Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup.” (Mzm 42:2-3). 

St. Agustinus berkata, “Hatiku gelisah selama belum beristirahat pada-Mu, Tuhan.”Allah yang hidup, yang luar biasa, yang mau merasakan suka duka kehidupan kita itu, kita alami dalam pribadi Tuhan kita Yesus kristus. Dia yang datang untuk kita. Dia yang lahir untuk kita. 

Para malaikat menyampaikan kepada para gembala di Betlehem, “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.” (Luk 2:11). Dia juga mati untuk kita. “Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” (Rom 5:8). Dia sungguh Imanuel, Allah beserta kita. “Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita.” (Yoh 1:14). Yesus menjadi duta keselamatan bagi kita.

Murid Yesus: Agen Iman

Selanjutnya, sebagai orang beriman kristiani, kita diundang untuk membantu orang lain bertumbuh dalam iman. Kita dipanggil untuk mengantar sesama kepada Yesus. Kita harus menghadirkan Allah yang hidup dengan hidup dan pelayanan kita. 

Dengan cinta, kita menghadirkan Allah yang penuh cinta. Dalam cinta, kita membawa Allah yang hidup kepada sesama. Cinta menjadi penggerak dan pendorong bagi kita untuk membangun persaudaraan antar kita,  untuk menghadirkan Allah yang penuh cinta itu. 

Paus Fransiskus dalam ensikliknya Lumen Fidei  (Terang Iman) mengatakan, “Cara baru memandang segalanya dalam iman berpusat pada Kristus. Iman akan Kristus membawa kepada keselamatan, sebab dalam Dia hidup kita secara radikal terbuka pada kasih yang menuntun kita, kasih yang mengubah kita dari dalam, bertindak dalam diri kita serta melalui kita.” (LF 20).

Penutup

Pelayanan itu sungguh menjadi efektif dan berbuah biasanya mengalir dari pelayan-pelayan yang kontemplatif. Kita pertama-tama harus melihat dan mengalami Allah yang begitu hidup itu. Kita semestinya merasakan kuasa kehadiran-Nya yang menyembuhkan, menguatkan dan menyelamatkan. 

Dengan berbekalkan pengalamanan tersebut, melalui hidup dan pelayanan, kita membawa orang lain kepada pengalaman akan Allah yang sangat mencintai kita. Karena kita tidak pernah akan mampu membawa orang lain kepada pengalaman akan Allah yang hidup, kalau kita sendiri tidak lebih dahulu mengalami hal itu. Kita tidak mungkin memberikan apa yang tidak kita miliki. Nemo dat quod non habet.

Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.