4 min dibaca

Suara Keheningan  Inosensius I. Sigaze

Smart City perlu tetap berada di bawah sayap Garuda Pancasila.

Artikel aslinya bisa dibaca di sini: Misteri "Nusantara" dan Penegasan Identitas Smart City yang Hieroglyphs Halaman 1 - Kompasiana.com

Gema pemindahan ibu kota negara sejak 2019 masih terdengar hingga saat ini. Mula-mula terasa seperti ilusi kecil yang terbang dan hinggap sejenak di kepala bapak Jokowi. Sayembara gambar ibu kota baru pun digelar dan dipublikasikan. 

Desain yang fantastis lagi-lagi membuat banyak orang bertanya dan tidak bisa percaya bahwa itu semua adalah kenyataan masa depan Indonesia yang sudah mulai direnggut sejak saat ini (2019).

Kenyataan bayangan mimpi Jokowi

Polemik berlalu, senyap kembali dalam isu-isu dan ramalan-ramalan pesimis tentang keruntuhan negeri ini. Namun, setelah dua tahun seperti tertidur lelap dalam irama kerja keras Presiden Jokowi dan kabinet-kabinetnya.

Mimpi itu semakin punya wajah terang benderang, hingga rujukan terakhir adalah pengumuman nama resmi ibu kota baru itu, NUSANTARA. Saya masih ingat dan merasakan guncangan mimpi perpindahan tahun 2019 kala itu di Jerman. 

Tema perpindahan ibu kota negara santer menghipnotis orang-orang Eropa. Wow Joko Widodo punya gebrakan yang menggemparkan dunia. 

Tak hanya itu, nama Kalimantan pun disebut dan dicari oleh sejumlah orang Eropa saat itu. Narasi-narasi kecil terkait Kalimantan mulai semakin berani dipresentasikan, mengapa mesti disana? Di mana letak Kalimantan dan lain sebagainya.

Ya, gebrakan yang membelalakan mata dunia adalah bagian dari strategi elegan memberikan pengaruh tentang keberanian Indonesia membuat kebijakan hingga mengambil keputusan besar di tengah krisis global yang tidak mudah.

Saat rencana perpindahan digaungkan, krisis covid19 menghampiri begitu rapat, sementara itu varian baru Omicron kembali menguat, Indonesia saat itu kembali memberi nama pada mimpi besar yang kian nyata. Dialah sang NUSANTARA.  

Misteri nama "Nusantara"

Nama Nusantara sebenarnya nama yang disebut-sebutkan oleh Presiden Pertama NKRI, Bung Karno khususnya dalam suatu kesempatan pidatonya dulu. Meskipun demikian, nama itu tidak disebutkan dengan nada imperatif atau sebuah seruan dan perintah bahwa suatu saat harus berubah dengan nama Nusantara.

Saya yakin tidak begitu, namun sangat bisa dipahami bahwa kalau pemerintahan Jokowi saat ini akhirnya memberi nama Nusantara untuk ibu kota baru itu. Nama yang tepat dan sudah dikenal dunia. Ya, saat ini sebenarnya sudah menjadi momen penegasan internasional bahwa Indonesia layak disebut Nusantara. 

Mengapa nama ibu kota baru itu dikatakan layak dengan nama Nusantara? Ini ada beberapa alasannya:

1. Asal kata Nusantara punya banyak arti

Kata Nusantara berasal dari kata bahasa Yunani kuno "Αρχιπέλαγος" baca: Archipelagos yang berarti kepulauan. Kata Αρχιπέλαγος merujuk pada pemahaman bahwa suatu wilayah yang terdiri dari gugusan pulau-pulau dan perairan di antara pulau-pulau.Kata Αρχιπέλαγος  dibentuk dari dua kata Yunai, pertama, archi yang berarti tertinggi , kepala, sedangkan arche dalam Yunani kuno berarti kota utama (Oberstadt), kepala (Haupt), asal (Ursprung), dasar (Grundlage) dan yang pertama (das Erste) . 

Sedangkan kata kedua: pelagos yang berarti laut.Kata Αρχιπέλαγος dikenal juga di Italia yang disebut dengan kata Archipelago. Secara umum kata Αρχιπέλαγος disebutkan dengan pemahaman bahwa suatu wilayah di mana ada banyak sekali pulau dan perairan kepulauan.

Nah, Indonesia disebut sebagai negara kepulauan dengan jumlah pulau terbanyak menurut sumber wikipedia sebanyak 17.508 pulau. Dari pemahaman istilah dan arti kata Αρχιπέλαγος sangat jelas bahwa Indonesia memang layak disebut sebagai Nusantara.

Oleh karena pertimbangan itu, saya sangat setuju dengan nama Nusantara sebagai nama ibu kota negara kita. Kalau wikipedia saja menyebutkan dengan jelas bahwa negara kepulauan dengan jumlah pulau terbanyak itu Indonesia, mengapa kita sendiri tidak mengakuinya. 

Kita mengakui apa yang menjadi kenyataan bangsa dan negara kita. Oleh karena itu, saat yang tepat bahwa ketika perkembangan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang semakin meningkat, Indonesia berani menegaskan dirinya sebagai Nusantara.

Sementara itu istilah Nusantara muncul pertama kali dalam naskah tua Pararaton Jawa Kuno yang berasal dari kata Nusa dan antara. Nusa berarti pulau (Insel) dan "antara" berati perantara (dazwischenliegend).

2. Nusantara adalah hieroglyphs

Dalam konteks perpindahan Ibu Kota dan penamaan Ibu Kota Nusantara, saya lebih melihat fenomena perpindahan dan penamaan Nusantara sebagai  satu istilah sandi (ciphers). Ya, Nusantara sebagai satu hieroglyphs atau ciphers yang terbuka pada penafsiran anak bangsa.

Oleh karena itu, polemik setelah pengumuman nama Ibu Kota Nusantara sebenarnya hal yang wajar dan bahkan itulah target dari sandi nama Nusantara itu sendiri. Nama yang memikat siapa saja untuk berpikir dan merefleksikannya.Saya jadi ingat akan suatu ungkapan dari seorang Novalis Georg Philipp Friedrich, "The better we can read this language, the more closely our representations" atau "Semakin baik kita dapat membaca bahasa ini, semakin dekat representasi kita."

Polemik dengan kritik miring yang bercirikan oposon itu bisa saja muncul karena orang belum bisa membaca keadaan Indonesia saat ini dan belum bisa merepresentasikannya. Sambil merujuk pada penjelasan kata representasi atau apa yang mewakili keadaan umum Indonesia secara umum saat ini tepat disebut Nusantara - sebuah hieroglyphs, ya sebuah sandi yang memacu energy smart city.

Sandi untuk dibaca anak-anak bangsa saat ini. Sebuah sandi yang tidak hanya berkisar soal angka-angka, tetapi juga campuran huruf dan angka, aneka bahasa ibarat bahasa anak jaksel. Di dalam nama Nusantara tersembunyi kata "gugusan pulau dengan aneka ragam suku, agama, budaya, bahasa dan dinamika yang terus terjadi."

Sebuah gugusan yang punya identitas kepemilikan jelas sebagai Indonesia. Gugusan itu tidak hanya punya identitas, tetapi juga punya ciri yang melekat di dalamnya sebagai satu kesatuan nama, yakni "antara.""Antara" itu sendiri bisa saja menjadi sebuah sandi tentang topografi Indonesia - ya, di tengah bentangan Sabang - Merauke. Sekalipun demikian, sandi Nusantara tidak akan berhenti dengan satu tafsiran, bisa juga orang berbicara tentang peran sebagai "penengah atau perantara."

Konteks tafsiran tentang peran ini bisa saja merujuk pada konteks geopolitik global. Sandi Nusantara tentu akan menjadi seperti sang Bidadari cantik di mata dunia yang mau tidak mau semua negara akan meliriknya dan bertanya: Mengapa Nusantara begitu memesona?

Pesona damai di tengah pluralitas. Sanggupkah peran penengah dalam konteks geopolitik global dan asia khususnya bisa dimainkan oleh anak-anak Nusantara? Nusantara adalah sebuah hieroglyphs yang masih menunggu tafsiran dan representasi anak-anak bangsa. 

Nusantara diberikan dengan filosofi yang dalam dan  berakar pada peradaban yang sangat tua di bumi tanah air kita. Merangkul yang di Sabang dan memeluk yang di Merauke adalah sandi tentang keutuhan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Saya percaya masih begitu banyak anak-anak bangsa ini yang ingin menulis, membaca dan menafsirkan Nusantara. Nama yang memberikan inspirasi dan gagasan. Nama yang merasuk nalar hingga daya imajinasi meledak-ledak. 

Ya, saya membayangkan posisi tengah Kalimantan Timur itu ibarat tempat Garuda bertengger dan mengepakan sayap yang melindungi anak bangsa dari Sabang sampai Merauke. Sebuah sayap keadilan tanpa berat sebelah dalam konteks pembangunan bangsa. 

Sayap yang mendorong energi untuk terlibat ketika Garuda ingin terbang mengelilingi dunia. Sayap rangkulan karena perbedaan-perbedaan yang ada. Sayap-sayap cinta bahwa semua ada di depan mata dan dalam sentuhan sayap Sang Garuda Nusantara. Oleh karena itu, andaikan saya ditanya nama apa yang tepat untuk Ibu Kota, maka saya akan mengatakan GARUDA NUSANTARA. Ada beberapa alasan dari pemberian nama itu:

  1. Rancangan bangunan Ibu Kota sudah mencerminkan figur garuda raksasa.
  2. Jika merujuk pada asal kata dari bahasa Yunani kuno Αρχιπέλαγος, maka nama itu terlalu umum, di Italia dan beberapa negara lain pun punya gugusan pulau yang juga disebut dengan nama nama Nusantara. Jika sama, mana yang menjadi kekhasan kita?
  3. Garuda Nusantara itu sekaligus menjadi komitmen bangsa ini untuk tetap berpegang teguh pada dasar negara Pancasila.
  4. Mengapa bentuk fisik bangunan tidak menjelaskan namanya? Bentuk sayap Garuda bangunan inti Ibu Kota tampak begitu perkasa dan mengagumkan, tetapi kita lupa memberinya nama kepada dunia bahwa "Itu Garuda yang mempersatukan kami semua."
  5. Nama yang bernyawa atau punya roh seperti manusia umumnya ada dua kata. Katakan Nusantara adalah nama keluarga (Familie), sedangkan nama lahir kita adalah Garuda (Pancasila).

Demikian ulasan singkat tentang nama Nusantara dan usulan nama berdasarkan refleksi dan renungan pribadi terkait konteks, gambar dan filosofi kata Nusantara. Ibu Kota Nusantara tentu bukan sekedar nama dengan bangunan perkasa tetapi lebih dari itu anak-anak bangsa tetap setia berada di bawah sayap Garuda (Pancasila). 

Percikan bebas gagasan ini hanya bermaksud mengkritisi hal yang lupa dari yang sudah tergambar. Saya hanya ingin menitipkan pesan melalui tulisan ini, semoga bisa menyentuh hati Bapak Presiden Joko Widodo dan sekiranya bisa.

Jadilah nama Ibu Kota layaknya nama seorang manusia: GARUDA NUSANTARA: Kita satu Keluarga besar Nusantara, Kita bersatu karena sayap-sayap Garuda yang terus berkibar dengan 5 Sila yang membuat kita bersatu selamanya.

Salam berbagi, ino, 21.01.2022. 

 

Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.