6 min dibaca
Suara Keheningan Inosensius I. Sigaze

Artikel aslinya baca di sini: Ada 4 Proses Pengolahan Diri Menjadi Pendamping Orang Sakit Halaman 1 - Kompasiana.com

"Rasakan arti dari setiap perjumpaan dengan yang lain, di sana ada getaran dan resonansi yang memperkaya batin dan hidup."

Tema tentang menjadi pendamping orang sakit di Eropa umumnya dan di Jerman khususnya adalah tema besar yang sudah ditawarkan secara formal di universitas dan juga dalam seminar-seminar lainnya. 

Tema penting itu berkaitan dengan sikap dasar dan kepedulian pada aspek kemanusiaan yang kompleks.Kenyataan penting terkait tema mendampingi orang sakit itu bisa dilihat dari sisi sejarah, maupun dari sisi keterlibatan orang-orang di dalam perawatan dan pendampingan orang sakit, tetapi dengan aksen yang khas yakni terlepas dari unsur religiusitas seseorang. 

Pilihan menjadi pendampingan orang sakit itu karena kemanusiaan dan bukan pertama-tama karena unsur agama.Kenyataan itu saya rasakan dalam 5 hari kursus itu. Ada beberapa bentuk proses pengolahan diri yang merujuk kepada kualifikasi sebagai pendamping orang sakit:

1. Menulis biografi dan pengenalan diri

Sejak hari pertama, tema biografi sudah mulai terasa sebagai tema dasar yang membawa orang kepada pengenalan diri. Namun, konteks pengenalan diri dalam kaitan dengan tema menjadi pendamping orang sakit sebetulnya dimaksudkan agar siapa saja yang punya pilihan menjadi pendamping orang sakit hendaknya punya kualitas diri seperti berikut ini: 

  • Menyadari hubungan antara nama dan tugas panggilan 

Sebenarnya saya sangat terkejut sekali saat diberikan tugas untuk memberikan definisi nama pribadi. Ya sebuah nama yang punya hubungannya dengan tema Seelsorge tentu tidaklah mudah. Saya masih ingat pada saat itu, saya hanya bisa menulis satu huruf dari nama saya. Huruf (I) sama dengan interesse an Menschen atau saya punya kesukaan, kepedulian pada manusia. 

Nah, ternyata untuk menemukan semua arti nama dengan asosiasi yang positif dan merujuk pada tema Seelsorge dan spiritualitas bukanlah hal yang mudah. Meskipun demikian, waktu dan proses kursus itu ternyata secara bertahap membawa kami untuk semakin memahami lebih dalam lagi tentang spiritualitas. 

Awalnya saya merasakan begitu sulit menemukan asosiasi positif terkait tema, namun ketika dibahas secara bersama pikiran saya dibuka dengan sendirinya karena asosiasi nama dari peserta lainnya. 

  • Keterbukaan pada yang lain

Pada saat itu saya menyadari betapa pentingnya sebuah keterbukaan pada yang lain (Offenheit). Ya, seakan-akan seperti ini bisa diformulasikan, "sebenarnya terlalu berat jika seseorang tertutup hanya melihat dirinya sendiri, dan sebaliknya betapa indah dan mudahnya jika seseorang mau terbuka untuk belajar dari orang lain."

Pada waktu itu saya pikir itu kata kunci satu-satunya dalam kaitan dengan tema spiritualitas, ternyata tidak. Metode di atas sebenarnya cuma membawa peserta untuk memahami apa artinya spiritualitas dalam keseharian hidup manusia. 

  • Memahami dinamika hubungan dengan yang lain

Spiritualitas dalam hal ini berkaitan dengan dinamika hubungan (Beziehung) manusia dengan sesama manusia, dengan alam, dengan seni, budaya dan bahkan dengan intuisi pribadi setiap orang. Sekalipun demikian perlu ditegaskan konteks pembahasan kursus itu tidak merujuk ke spiritualitas tertentu, tetapi lebih ke konteks spiritualitas harian (Alltag Spiritualität).

Spiritualitas harian tidak terikat pada konsep-konsep dan gaya pendekatan yang umumnya klasik, tetapi lebih dengan gaya dan cara-cara baru dengan tidak menempatkan pertama-tama agama sebagai ruang paling besar di bumi ini, tetapi spiritualitas. Dalam komentar-komentar lepas peserta tampak sekali bahwa sebenarnya setiap orang punya spiritualitasnya sendiri. 

Oleh karena kesadaran seperti itu, maka diperlukan sikap dan kesadaran untuk menghargai (Respect) perbedaan cara dan gaya dalam tugas pendampingan. 

2. Menemukan simbol inti (Kern Symbol)

Satu hal yang umum bahwa setiap orang punya simbol inti (Kern Symbol) yang bisa menjelaskan apa artinya hidup dan tugasnya sebagai seorang Seelsorge. Dalam suatu kesempatan sharing berdua-dua, pada Selasa, 25 Januari 2022, saya bersama dua peserta lainnya melakukan jalan santai setelah makan siang. 

Kern Simbol Angklung | Dokumen pribadi oleh Ino

Tujuan dari jalan santai itu sebenarnya untuk berbagi tentang Kern Symbol dalam hidup masing-masing. Sebelum diberikan waktu untuk sharing (Austausch), kami diminta supaya lebih dahulu menyiapkan diri secara pribadi di kamar masing-masing. Nah, pada saat itu saya sendiri merasakan kesulitan menemukan simbol inti yang bisa saya jelaskan terkait tugas sebagai Seelsorge kepada dua teman sharing saya.

Sejenak saya terdiam kira-kira 5 menit terpekur tanpa kata di dalam kamar. Saya berusaha meresap segala kata yang pernah dibicarakan sambil bertanya simbol apa yang penting bagi saya untuk menjelaskan aspek-aspek penting terkait fungsi dan peran sebagai Seelsorge.

Dalam benak saya tiba-tiba saja muncul ide, apakah tidak mungkin saya menemukan simbol khas yang berasal dari Indonesia. Kebetulan sekali saya seorang yang suka sekali mendengar musik Angklung dan juga bisa sedikit memainkannya, meskipun belum begitu mahir. 

Namun, dari segi inspirasi untuk menjelaskan hubungannya, saya merasa yakin bahwa menarik untuk dipresentasikan kepada teman orang Jerman pada waktu itu. Pada saat itu saya berusaha menggambar sebuah Angklung meskipun cuma secara abstrak. 

Setelah selesai menggambar, saya memberikan nama pada bagian-bagian Angklung itu, sesuai dengan tema pembicaraan kami pada hari itu ditambah dengan aspek-aspek lain yang menurut saya sangat penting. Beberapa unsur yang bisa saya jelaskan kepada teman-teman saya pada saat itu:

  • Hidup itu ibarat sebatang bambu: Hidup itu terkadang terasa biasa saja atau tidak punya nilai lebih, jika orang sudah melakukan sesuatu, maka nilai dari hidup itu sudah berubah. Nah, sama seperti nilai dari sebatang bambu itu, kalau dibiarkan saja, maka tidak punya nilainya, tetapi jika dipakai dan diubah oleh seorang seniman, maka bambu itu akan punya nilai yang luar biasa penting dan berarti. Ya, bisa sangat mahal.
  • Hidup itu punya dasarnya: Sama seperti satu alat musik Angklung yang berdiri di atas dasar bambu, demikian juga hidup itu punya sejarahnya, punya tradisi tertentu, punya kebiasaan di dalam keluarga, punya latar belakang yang sangat penting menjadi pijakan yang membentuk cara berpikir seseorang.
  • Hidup itu tidak bisa sendiri: Sama seperti sebuah bambu yang sudah menjadi Angklung itu diikat bersama dengan yang lainnya, demikian juga hidup itu selalu punya bingkai kebersamaan, bingkai yang menghubungkan seseorang dengan yang lainnya.
  • Hidup itu terpancar dari kedalaman hati: Bambu itu punya ruang kosong, namun dari ruang kosong itulah datang resonansi yang menggetarkan hati dalam nada-nada yang dihasilkannya. Demikian juga setiap manusia punya ruang kosong yang saya namakan sebagai innere Geist atau gairah batin. Innere Geist itulah yang mendorong seseorang melakukan sesuatu yang baik. Innere Geist itu saya umpamakan dengan bambu yang yang di dalamnya kosong. Hal ini karena saya merasakan betapa pentingnya seorang pendamping orang sakit datang untuk berbicara dengan orang sakit.
    Seorang Seelsorge datang mesti dengan "kosong" atau tanpa punya kepentingan apa-apa. Hanya dengan cara itu, dia akan bisa mendengarkan dengan baik, dia akan fokus pada simbol-simbol yang punya makna penting bagi orang sakit itu sendiri. Bagi saya, innere Geist perlu disertai dengan ruang pengosongan diri, sehingga lebih memungkinkan Seelsorge terbuka kepada orang lain (orang sakit).
  • Hidup itu akan menjadi indah karena ada perbedaan bunyi: Ya, warna dari perbedaan pengalaman, simbol-simbol, hubungan, pemahaman selalu menjadi seperti nada-nada yang harmonis.

3. Sharing (Austausch) bisa membuka perspektif baru bagi orang lain

Sharing bersama sambil menikmati jalan santai ditemani kabut tebal di pegunungan Jakob (Jakobsberg) tiba-tiba mengubah perspektif teman kursus saya yang sebenarnya lagi butuh untuk menjelaskan simbol apa yang penting dalam hidupnya dan mengungkapkan pilihan hidupnya sebagai Seelsorge.

Saya terkejut ketika mendengar pertanyaan spontan darinya tentang Angklung. Pada saat itu saya sekaligus memperkenalkan Angklung sebagai alat musik khas Indonesia dan bahwa di Frankfurt ada pula grup Angklung yang sangat bagus. Spontan teman pemain musik Saxophon berkata, "Das Bild hat mich sehr berührt" atau gambar itu sangat menyentuh saya.Dengan mata berkaca-kaca ia akhirnya menjelaskan pengalaman pribadi. 

Ya, rasa senang pun muncul dalam hati saya. Ternyata gambar sederhana dengan penjelasan singkat saya telah membuka hati dan cara pikirnya.Saya terdiam sejenak dan bersyukur betapa bahagianya sebagai orang Indonesia yang punya banyak sekali kekayaan budaya dan warisan seni. Ya, semua itu bisa menjadi simbol hidup yang mengungkapkan gambaran kerinduan hati manusia.

4. Belajar mengenal simbol sendiri untuk menghargai simbol orang lain

Semula saya tidak mengerti mengapa, kami peserta diminta untuk mengungkapkan pemahaman kami sendiri dalam bentuk simbol-simbol. Nah, ternyata dalam kesempatan pertemuan selanjutnya kami dibimbing untuk memahami kata-kata ini saat mulai berbicara dengan orang sakit: "Achtet auf was, das ihr hört" atau perhatian apa yang kamu dengar.

Ternyata simbol itu sendiri tidak hanya dalam bentuk gambar tertentu atau bentuk tertentu, tetapi kata-kata yang diungkapkan seseorang adalah juga simbol. Simbol yang penting dalam hidup orang sakit diungkapkan melalui kata-kata.

Dalam suatu kesempatan latihan saya merasakan bahwa benar-benar perbedaan kultur dan latar belakang akan sangat memengaruhi cara berpikir. Seorang pasien pada saat berbicara dia mengatakan bahwa dia mau membeli sebuah mobil. Padahal kondisinya sudah di paliatif.Bagi pasien itu mobil adalah simbol yang penting untuk menjelaskan segala kerinduannya, seperti rindu untuk mengunjungi teman dekatnya, rindu untuk pergi bersama istrinya, mengunjungi tempat masa kecilnya. 

Namun, ketika mendengar keinginan pasien seperti itu, saya merasakan ini sungguh tidak realistis. Masak sih sudah mau meninggal masih mikir mobil? Oleh karena saya berpikir bahwa kerinduan itu tidak realistis, maka saya tidak tertarik dengan tema yang diutarakan pasien yang adalah simbol penting dalam hidupnya. 

Saya mengalihkan pembicara sama sekali tidak ada hubungannya dengan mobil, tetapi saya bertanya tentang keadaan keluarga dan anak-anaknya. Pada saat itu pasien menjadi kecewa, hal itu karena pasien merasa bahwa saya tidak tertarik dengan permintaan terakhirnya. 

Pembicaraan yang dengan seorang Seelsorge yang semesti bisa mempertegaskan simbol penting dalam hidup pasien akhirnya berakhir dengan kesedihan. Berangkat dari pengalaman perbedaan aksen cara berpikir itulah, saya belajar lebih lagi. 

Dari kesalahan-kesalahan, saya belajar lebih banyak lagi. Setiap kesalahan yang dilakukan tidak dengan sengaja terkadang punya maknanya sendiri. Ya, namanya saja belajar mempersiapkan diri sebagai seorang Seelsorge, makanya dalam proses belajar itu, siapa saja dibentuk di dalamnya untuk mendekati tuntutan-tuntutan umum dan bahkan tuntutan budaya orang lain. 

Keberanian untuk membuka diri terhadap koreksi dan pengalaman orang lain, selalu menjadikan diri kita lebih mengerti dan memahami diri secara lebih baik lagi.

Demikian beberapa poin refleksi terkait 4 proses pengenalan diri yang menolong seseorang menjadi pendamping orang sakit. Masih ada banyak sekali aspek yang bisa direfleksikan lagi dari hari-hari kursus itu. 

Sebuah proses perjumpaan dengan yang lain adalah juga proses belajar yang tidak hanya membuka perspektif orang lain, tetapi juga lebih-lebih membuka pemahaman diri sendiri. Pada prinsipnya, setiap perjumpaan dengan yang lain, selalu mendatangkan getaran dan resonansi yang memperkaya batin dan tentu hidup itu sendiri. Ya, orang akan hidup dalam kekayaan perspektif tentang manusia, alam dan dunia umumnya.

Salam berbagi, ino, 1.02.2021.

Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.