4 min dibaca

Suara Keheningan | Inosensius I. Sigaze

Upaya sinkronisasi antara kurikulum prototipe dan nilai-nilai Pancasila dan nilai-nilai budaya merupakan peluang yang bisa mengembalikan generasi milenial ini pada rasa cinta akan peradaban bangsa yang sesungguhnya.

Artike aslinya bisa dibaca di sini: Ada 3 Konteks Hubungan Kurikulum Prototipe dan Pancasila di Tengah Era Metaverse Halaman 1 - Kompasiana.com 

Dua topik pilihan Kompasiana kali ini terasa menyengat sendi-sendi realitas kehidupan dan peradaban bangsa Indonesia. Indonesia saat ini berada dalam tapak perubahan yang semakin diperhitungkan dunia.Perhitungan terkait kemajuan Ekonomi, pembangunan infrastruktur dan tingkat kemajuan Sumber Daya Manusia (SDM) terasa cukup sering menjadi topik keseharian orang-orang di Eropa.

Kesanggupan Indonesia mengatasi krisis Covid19 hampir berbanding lurus dengan kesanggupan bangsa ini keluar dari ancaman krisis ekonomi sebagai akibat dari terpaan tanpa ampun dari pandemi.

Meskipun demikian, Indonesia punya banyak tantangan bukan hanya secara global sebagai tantangan bersama seperti krisis covid19 ini, tetapi tantangan lainnya tidak kalah penting untuk ditelisik seperti bagaimana menawarkan kurikulum baru yang kekinian.

Satu tantangan yang diangkat dalam tulisan ini adalah terkait kurikulum prototipe di tengah era Metaverse ini. Apakah kurikulum prototipe bisa menjadi jawaban dari kerinduan bangsa ini agar generasi milenial bisa menjadi generasi yang mencintai negeri ini dengan wawasan kebhinekaannya di satu sisi dan membentuk anak-anak Indonesia hidup dalam keseimbangan antara mencerna dunia nyata dan dunia digital pada sisi lainnya. 

Oleh karena, melalui tulisan ini saya menawarkan kemungkinan hubungan gagasan terkait kurikulum prototipe dan metaverse. Beberapa kemungkinan hubungan itu antara lain:

Kurikulum prototipe sebagai rujukan untuk kembali kepada Pancasila

Saat ini entah apa saja nama dari kurikulum itu yang paling penting adalah isinya. Prototipe sebenarnya istilah yang muncul dalam kebudayaan Yunani kuno yang disebut Prototypon, dalam bahasa Yunani tua dimengerti sebagai pendidikan pertama (Erste Bildung), pola dasar (Urbild), original atau yang asli.

Istilah prototipe tidak hanya dikenal dalam dunia pendidikan, tetapi juga dalam dunia teknik yang dimengerti sebagai contoh desain atau juga salinan lanjutan dari produksi seri  atau juga semacam pengembangan perangkat lunak.

Dalam arti seperti itulah, prototipe sebagai nama dari kurikulum kita saat ini sebenarnya mengandung pemahaman yang terhubung kepada pola dasar negara kita. Sebelum prototipe dihubungkan dengan konteks Indonesia saat ini, istilah prototipe sudah mengarahkan kurikulum kita kepada Pancasila sebagai dasar negara kita.

Pertanyaan yang relevan tentunya adalah mengapa hubungan antara kurikulum prototipe dan Pancasila itu penting? Hubungan antara kurikulum prototipe dan Pancasila itu penting karena beberapa alasan ini:

1. Konteks bangsa saat ini yang diwarnai dengan gerakan anti PancasilaPancasila adalah dasar negara Republik Indonesia. 

Meskipun demikian suara-suara yang punya keinginan untuk menggantikan ideologi Pancasila dengan ideologi lainnya tak jarang bisa terdengar melalui konten-konten pribadi masyarakat Indonesia. Konten yang anti pemerintah dan Pancasila bermunculan dari generasi milenial, meskipun belum semua terpublikasikan, tapi sekurang-kurang ada dan mulai bermunculan.

Tidak hanya itu, muncul beraneka konten yang memprovokasi dan merusakan nilai Ketuhanan yang Maha Esa dalam Sila Pancasila dengan mengklaim agama orang lain sebagai yang tidak benar dan lain sebagainya.

Gerakan anti Pancasila bisa saja belum terlihat jelas, namun seluk beluk dan kecenderungan-kecenderungan seperti kampanye ujaran kebencian pada pemerintah dan instansi negara semakin terasa gemanya. Apakah dengan keadaan seperti itu, dianggap wajar dan normal? Tentu tidak. 

Kurikulum prototipe yang mengembalikan wawasan dan pemahaman anak bangsa kepada nilai-nilai dasar yang menopang kehidupan bangsa yang beraneka ragam sudah seharusnya direalisasikan. Upaya mengembalikan kesadaran dan rasa cinta kepada Pancasila mesti menjadi target sejak dini atau sejak dari dasar. 

Upaya preventif dan solutif itu tidak akan mengecewakan bangsa ini, jika generasi milenial ini hidup di bawah pengaruh nilai-nilai Pancasila.

2. Konteks bangsa yang diwarnai dengan kebebasan mengungkapkan pendapat tanpa diimbangi dengan nilai-nilai yang menjunjung tinggi kemanusiaan

Kebebasan mengungkapkan pendapat dan berkreasi bagi anak bangsa saat ini sudah mencapai puncaknya. Aneka konten, tulisan, dan bentuk pengajaran tanpa punya standarisasi yang jelas dibiarkan begitu bebas. Resiko menjadi begitu nyata di depan mata, semua yang salah diterima, yang anti sesama pun diterima dan dipakai.Terasa saat ini tokoh agama memerangi tokoh agama melalui pencerahan yang masif dirasakan. 

Namun, tetap saja semua pemandangan itu tidak elok untuk generasi muda, seakan-akan ada musuh di dalam selimut. Oleh karena konteks seperti itu, maka kurikulum prototipe sebagai satu alternatif kurikulum yang memberikan ruang kepada pendidikan nilai-nilai dan penguatan karakter anak bangsa terasa sangat penting dan mendesak.

3. Konteks ketidakpastian perjumpaan antara dunia nyata dan dunia digital (Metaverse)

Dunia kehidupan manusia saat ini di mana saja berhadapan dengan dunia berdimensi ganda, dimensi yang nyata di satu sisi dan dimensi dari dunia digital pada sisi lainnya.  Dunia dengan dimensi ganda ini merujuk pada dua kata yang penting yakni perjumpaan (Begegnung) dan keseimbangan (Balancieren). 

Perjumpaan antara dunia nyata dan dunia digital bisa saja terjadi tanpa ada keseimbangan. Bisa saja orang lebih menyukai dunia digital daripada dunia nyata. Meskipun demikian, sebagian orang masih cukup sering mengatakan bahwa, "dunia digital itu masih jauh dari hidup saya." 

Ada begitu banyak orang yang semakin curiga dengan kehadiran wajah dunia digital.Dunia digital dianggap sebagai dunia promosi diri, dunia yang tidak mengindahkan privasi, dunia yang telanjang dan dunia yang vulgar. 

Tapi juga tidak sedikit orang yang memilih hidup realistis, mendarat tanpa banyak tersentuh pengaruh digitalisasi. Tapi ada juga yang mulai ragu-ragu karena menyadari ketertinggalan dirinya sebagai akibat minimnya kemampuan adaptasi dari ketenangan hidup di tengah dunia tanpa digital dan pemisahan serius darinya.

Ya, dinamika dimensi dunia nyata dan digital sudah pasti tidak bisa dihindari manusia saat ini. Manusia mau tidak mau hidup dalam kontaminasi teknologi komunikasi yang tanpa batas. Dan dunia nyata sungguh tidak bisa dipisahkan dari dunia digital.Metaverse adalah kenyataan dunia kita saat ini. 

Kenyataan yang membuka ruang diskursus tentang bagaimana kita hidup di tengah dunia dengan konteks perjumpaan antara yang nyata dan digital ini.Saya yakin bahwa perjumpaan dunia nyata dan digital tidak bisa dihindari dan hal yang penting dalam perjumpaan tak terhindarkan itu adalah orang perlu memikirkan tentang keseimbangan hidup dan keterukuran penyesuaian diri manusia.

Keseimbangan dan yang terukur penyesuaian diri manusia itu menandakan ada pijakan nilai yang menjadi dasar atau fondasi hidupnya. Nah, dalam arah pemikiran seperti itulah, terasa bahwa kurikulum prototipe benar-benar hadir tepat waktu mengembalikan generasi milenial Indonesia pada kesadaran dasar kebangsaan ini.

Kalau memang rujukan utama kurikulum prototipe ini adalah membangun kembali kesadaran anak bangsa akan nilai-nilai Pancasila. maka mungkin lebih baik kurikulum prototipe bukan sebagai alternatif  dalam konteks pendidikan di Indonesia, tetapi sebagai suatu gerakan bersama bangsa ini.

Kurikulum prototipe dan rujukan kepada pluralitas budaya Indonesia

Konsep tentang kebangsaan yang berakar pada filosofi budaya dan peradaban bangsa kita sendiri memang terus-menerus perlu dibicarakan. Dan satu hubungan yang perlu dibicarakan dalam kaitan dengan kurikulum prototipe ini adalah kaitannya dengan nilai-nilai kebudayaan.

Bagi saya pemahaman istilah prototipe dari kata aslinya, bisa saja mengacu bukan saja kepada Pancasila, tetapi juga mengacu kepada keragaman budaya di Nusantara ini. Mengapa kok rujukannya terarah juga kepada budaya?

Pluralitas budaya di Indonesia sudah pasti merupakan pluralitas nilai-nilai kehidupan. Oleh karena itu, pendidikan di Indonesia mesti punya orientasi tidak hanya kepada jiwa anak bangsa yang pancasilais, tetapi juga anak bangsa yang berakar pada budayanya sendiri. 

Warisan nilai-nilai budaya di Indonesia tidak akan mempertentangkan kita dengan nilai-nilai Pancasila. Justru sebaliknya, ada sinkronisasi yang dalam antara nilai-nilai budaya dan nilai Pancasila.Nilai-nilai budaya berakar dalam hati tanpa perlu melalui proses pencerahan pada tingkat wawasan dan intelek. 

Artinya masyarakat Indonesia sudah terbentuk dari budaya sebagai manusia yang toleran dan bersaudara dengan keberagaman yang ada.Sementara itu, nilai-nilai Pancasila lebih merupakan nilai yang harus dipelajari secara formal dalam formasi pendidikan sebelum orang memiliki dan menghayatinya. 

Nah, kolaborasi antara hati dan pikiran manusia pada nilai-nilai kehidupan itu sangat penting sebagai dasar dari pembentukan manusia baru yang hidup di tengah dinamika tegangan dunia nyata dan dunia digital."Yang terukur" atau "angemessen" hanya bisa dirasakan kalau orang tahu dampak dari pilihan dan keputusan dalam tegangan antara dunia nyata dan dunia digital. 

Kemampuan hati dan pikiran anak bangsa ini untuk mencerna setiap retakan dari perjumpaan bebas dunia nyata dan dunia digital sangat menentukan bagaimana adanya sebagai manusia. 

Oleh karena itu, Nilai Pancasila dan nilai-nilai budaya bangsa kita perlu menjadi pilihan dan rujukan dalam kurikulum prototipe, agar adanya keseimbangan antara hati dan pikiran, antara yang dipelajari secara formal dan yang diterima secara informal dalam keseharian. 

Keseimbangan nilai-nilai itu akan memengaruhi keseimbangan hidup yang dibentuk oleh karena keseimbangan hati dan pikiran sehingga berdampak pada keseimbangan dalam menghadapi tantangan dunia nyata dan dunia digital (Metaverse).

Demikian ulasan tentang hubungan kurikulum prototipe di tengah era Metaverse, era perjumpaan antara dunia nyata dan dunia digital. Kurikulum prototipe hendaknya merujuk pada nilai-nilai Pancasila dan nilai-nilai budaya. Rujukan itu bermaksud agar target keseimbangan dan keterukuran hidup di tengah dunia metaverse saat ini tercapai. 

Dinamika perjumpaan dan perubahan terjadi setiap waktu, tapi bagaimana dasar yang menjadi anak bangsa ini tetap seimbang menghadapinya? Orientasi pada dasar negara dan budaya akan menjadi pilihan yang menjanjikan masa depan bangsa ini. Bagaimanapun juga tulisan ini merupakan percikan gagasan pribadi yang cuma menyoroti aspek-aspek tertentu saja. Tentu masih ada banyak hubungan lain yang bisa diulas dalam kaitan dengan kurikulum pilihan anak bangsa saat ini.

Salam berbagi, ino, 3.1.2022.


Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.